June 9, 2008

Bangkitlah Jiwa-Jiwa Warga Keturunan Tionghoa di Indonesia

Kata Tionghoa atau Tiongkok adalah kata khas Indonesia yang tidak akan ditemukan dalam masyarakat keturunan Cina di negara-negara lain selain Indonesia. Kata Tionghoa ini mungkin berasal dari kata Chung-Hwa, yang adalah suatu gerakan masyarakat di akhir abad ke-19 untuk terlepas dari belenggu kekuasaan Kerajaan di Cina dan membentuk suatu negara baru yang lebih demokratis. Sebagian meninggalkan negara Cina dan memulai kehidupan baru di negara-negara lain termasuk Indonesia dengan melupakan negara Cina tapi tidak melupakan tradisi dan nilai-nilai luhur kebudayaan mereka dari mana mereka berasal.

Sebagai seorang warga keturunan Tionghoa yang lahir dan tinggal seumur hidup di Indonesia, saya pun menganggap Indonesia sebagai tanah-air saya. Tapi akhir-akhir ini, saya merasa malu melihat kondisi negara saya saat ini, terutama pada saat-saat saya berada di luar negeri. Gambaran keadaan masyarakat Indonesia di luar negeri begitu terpuruk sehingga kadang timbul rasa amarah, malu tapi sekaligus ketidakberdayaan yang bercampur aduk mendengar pemberitaan mengenai Indonesia.

Saya malu karena merasa ikut bertanggung jawab atas keadaan bangsa saya saat ini. Saya lebih malu lagi ketika saya melihat bahwa mayoritas masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia hampir-hampir tidak punya andil apapun untuk merubah keadaan ini. Mungkin ada beberapa yang peduli dengan lingkungan sekitar dengan ikut serta dalam kerja bhakti sosial, tapi kebanyakan dari mereka hanya memikirkan keuntungan materi semata. Alasannya cukup klasik, yaitu karena warga keturunan Tionghoa sudah sering kali ditindas, dijarah dan dibantai dari Pembantaian di Batavia 1740 sampai Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta telah tercatat 5 kali kerusuhan massal anti-Tionghoa lainnya. Belum lagi ditambah perlakuan diskriminasi atas masyarakat keturunan Tionghoa oleh pemerintah dan birokrat Indonesia yang sedang berkuasa, dari PP No.10/1959 di jaman Orla sampai SKBRI di jaman Orba. Jadi bila terjadi diskriminasi maupun kerusuhan massal anti-tionghoa di masa depan, mereka sudah punya cukup dana untuk melarikan diri ke luar negeri.

Padahal berapa banyak dana yang harus dikumpulkan untuk mengevakuasi seluruh keluarga dan kerabat dari Indonesia? Bukankah “lebih realistis” bila dana dan tenaga itu “diinvestasikan” di dalam negeri untuk merubah kondisi bangsa Indonesia saat ini? Dan bila kondisi bangsa Indonesia bisa pulih, maka seluruh keluarga, kerabat, dan bahkan teman-teman semua dapat hidup lebih damai dan tentram.

Sebenarnya tidak ada alasan bagi seorang keturunan Tionghoa untuk tidak merasa dirinya seorang Indonesia sejati atau pribumi. Sejak abad ke-6, lalu lintas perdagangan antara Cina Daratan dan kepulauan Nusantara sudah ramai. Banyak pedagang-pedagang Cina yang kemudian bermukim di kota-kota pesisir pantai di kepulauan Nusantara dan terjadi pembauran dengan masyarakat setempat. Presiden RI ke-4 Gus Dur sendiri pernah menyatakan kepada masyarakat luas bahwa dalam dirinya mengalir darah keturunan Tionghoa.

Masyarakat keturunan Tionghoa sebenarnya juga punya “saham” yang begitu besar bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sejak pembantaian 1740 di Batavia, etnis tionghoa dibantu etnis Jawa melakukan perlawanan terhadap VOC selama 3 tahun. Pada Abad ke-19, etnis tionghoa pernah bergabung dengan sebuah gerakan yang melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda di Kalimantan Barat.

Kebangkitan Nasional Indonesia ditandai dengan berdirinya Budi Utomo tahun 1908 sebagai aktualisasi kesadaran masyarakat Indonesia waktu itu tentang arti pentingnya pendidikan. Tapi timbulnya kesadaran ini sangat mungkin terinspirasi dengan berdirinya Tiong Hoa Hwe Kwan (THHK) di tahun 1900. THHK didirikan sebagai upaya orang-orang tionghoa di masa penjajahan Belanda untuk mempelajari kembali nilai-nilai mulia kebudayaan leluhur, pendidikan bahasa dan mendidik generasi muda akan pentingnya arti kebudayaan asal sebagai peletak dasar karakter seseorang.

Ternyata, pendidikan menimbulkan kesadaran akan kebersamaan. Kebersamaan ini mungkin yang memicu masyarakat Tionghoa ikut ambil bagian dalam Kongres Pemuda tahun 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Bahkan, pembacaan Sumpah Pemuda dilakukan di rumah Sie Kong Liong, seorang Tionghoa beragama KongHucu yang nasionalis. Beberapa nama dari kelompok Tionghoa, antara lain Kwee Tiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien kwie pun turut serta turut serta dalam Kongres Pemuda ini baik pengamat dari Golongan Timur Asing Tionghoa

Di masa perjuangan tahun 1945-an, 5 orang Tionghoa yaitu: Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw dan Drs. Yap Tjwan Bing masuk dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk merumuskan UUD’45. Liem Koen Hian, sebelumnya pada tahun 1931, sempat mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI). Selain itu, Mayor John Lie mengusahakan penyelundupan barang-barang ke Singapura demi membantu pembiayaan Republik Indonesia yang masih baru. Tokoh lain seperti Djiaw Kie Siong mempersilakan rumahnya dipakai untuk rapat persiapan kemerdekaan oleh ke-2 Bapak Proklamasi Indonesia tanggal 16 Agustus 1945.

Di masa pasca-revolusi 1945, kita mengenal aktivis mahasiswa, adik-kakak, Soe Hok Gie & Arief Budiman yang tanpa lelah memperjuangkan kemanusiaan (humanitas) bagi masyarakat Indonesia. Demikian juga di bidang perfilman seperti Teguh Karya, di bidang olahraga seperti Rudy Hartono, Tan Yoe Hok, Susi Susanti, dll, di bidang ekonomi dan politik seperti Kwik Kian Gie, di bidang kedokteran seperti Priguna Sidharta, di bidang pendidikan seperti Dali S Naga-ahli matematika dan Yohanes Surya yang telah melahirkan sejumlah pelajar juara olimpiade fisika, di bidang sastra seperti Kwee Tek Hoay, Kho Ping Ho, Myra Sidharta dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Mereka semua berkarya demi kemajuan masyarakat Indonesia dan mengharumkan nama Indonesia di dunia Internasional.

Jadi sudah tiba saatnya bagi kita, orang-orang keturunan Tionghoa untuk turut berkarya di segala bidang (tidak hanya di bidang ekonomi semata) demi pemulihan bangsa dan negara. Jangan sampai kita berpikiran bahwa kita ini adalah warga negara asing di negeri sendiri, tidak peduli meskipun ada orang lain berpikiran bahwa kita hanya “numpang” hidup di Indonesia. Apalagi bila kita berpikiran untuk tinggal di Indonesia hanya demi mengeksploitasi keuntungan materi semata. Uraian singkat sejarah di atas telah cukup memberikan bukti kuat tentang peran serta masyarakat Tionghoa bagi Ibu Pertiwi, dan peran berbhakti bagi bangsa dan negara sudah saatnya diserahkan secara estafet.

Kita semua harus mencoba bekerja sama dengan seluruh golongan masyarakat untuk menciptakan perdamaian di Indonesia. Kita harus hidup, berpikir, berperasaan, dan berkarya sebagai orang Indonesia, tanpa melupakan nilai-nilai luhur dari tanah leluhur seperti misalnya ajaran Lao Tze, Khong Hu Cu, dll. Nilai-nilai luhur dan tradisi kebudayaan ini juga semestinya diturunkan pada generasi berikutnya.

Janganlah hanya karena kita memeluk suatu agama, maka kita melupakan atau menafikkan dengan sengaja ajaran-ajaran leluhur, sejarah maupun budaya sendiri. Sekali kita tercabut dari akar budaya kita, maka otomatis kita akan berubah menjadi manusia yang berkepribadian penuh kekerasan dan anti-perdamaian. Dan inilah yang sebenarnya sedang terjadi tanpa disadari pada sebagian besar masyarakat di Indonesia sehingga bangsa ini selalu dilanda konflik-konflik yang berkepanjangan.

Jangan pula sampai kita terjebak dalam dendam atau ketakutan atas diskriminasi dan perlakuan tidak adil oleh segelintir orang dan penguasa pada warga keturunan Tionghoa selama ini di Indonesia sehingga memilih menjadi anak bangsa yang lupa berbhakti pada Ibu Pertiwi. Padahal tanpa bisa dipungkiri selama ini secara nyata, kita dan keluarga kita semua tumbuh, berkembang dan besar dari tanah air Indonesia.

- oleh Liny Tjeris (edited by joehanes)

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone