June 9, 2008

Berteman dengan Pancasila

Kebanyakan dari kita trauma dengan Pancasila karena kentalnya indoktrinasi dari orde baru yang memaksakan pemahaman tunggal atas penjabaran dan pelaksanaan dari Pancasila. Kita dijemur setiap senin dengan upacara bendera, mengikuti penataran P4, dihukum atas nama Pancasila dan sebagainya. Ini yang membuat kita alergi dengan Pancasila.

Generasi yang baru bahkan tidak pernah mencicipi apa itu Pancasila. Mereka asing dengan istilah itu karena sejak zaman reformasi, Pancasila sudah tidak populer lagi. Mereka lebih akrab dengan istilah Nokia dan Sony Ericson.

Kini di era Globalisasi, di mana kita sudah kehilangan identitas, Pancasila mulai dibicarakan lagi. Tetapi kalau hanya untuk membuat kita unik dari bangsa-bangsa lain tanpa pemahaman dan pengamalan yang dapat dirasakan manfaatnya untuk rakyat jelata, maka Pancasila hanya lambang negara yang tidak ada artinya.

Sekarang, bagaimana sila-sila dari Pancasila dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekaligus juga untuk mengevaluasi kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Menilai kinerja para pemimpin kita. Apakah bisa dengan Pancasila?

Mari kita bedah satu persatu dengan pemahaman yang baru. Dan pemahaman ini bisa saja berbeda untuk setiap orang karena dalam memaknai sesuatu kita bisa melihat dari sudut pandang yang berbeda. Yang penting bagaimana mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus mengkerutkan dahi, menghafal terlalu banyak atau mengantuk sehingga kita bisa berteman dengan Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa

Ini adalah wilayah yang sangat pribadi antara manusia dengan Tuhan-nya. Segala macam pemahaman ataupun konsep tentang Tuhan berada di wilayah ini. Kita tidak bisa memaksakan kehendak bahwa pemahaman kita paling benar. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan-pun patut kita hormati. Dan pada dasarnya, mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, sebenarnya sudah mengakui keberadaan Tuhan dengan tidak mengakui-Nya walaupun dengan konsep yang berbeda.

Dan bila kita mencoba untuk memaksakan kehendak, maka yang terjadi adalah kemunafikan. Kita bisa menjual agama dan Tuhan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka yang pendapatnya berlainan akan dibungkam. Dan bila manusia sudah tidak bebas lagi dan kehilangan wilayah pribadinya, ia akan kehilangan pula kecerdasannya untuk berpikir dan hati nuraninya untuk bertindak.

Mereka yang sudah kehilangan hati nuraninya selalu mencari pembenaran atau kambing hitam atas kesalahan yang ia lakukan dibanding melakukan instropeksi diri. Seperti bencana yang sering terjadi akhir-akhir ini akibat pengrusakan lingkungan dianggap adalah cobaan dari Tuhan dan manusia harus selalu sabar. Rakyat hanya duduk diam dan selalu menyalahkan pemerintah atas ketidakberesan negeri ini. Pejabatpun dengan santai duduk di kursi empuk meminta rakyat untuk bersabar dan saling melempar tanggungjawab ke pejabat lainnya atas kondisi negeri ini.

Inilah inti dari sila pertama, yaitu untuk memberdayakan diri kita sendiri dengan landasan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Langkah berikutya bila kita bisa memahami dan mengamalkan sila pertama, dengan sendirinya kemanusiaan dalam diri kita akan berkembang. Kita akan peduli dengan sesama, tidak merasa paling benar, tidak main hakim sendiri dan tidak serakah. Karena sila pertama berusaha untuk menanamkan Cinta di hati setiap umat manusia. Hubungan antara manusia dengan manusia dan lingkungan sekitarnya akan menjadi harmonis bila dilandasi dengan rasa Cinta.

Yang terjadi sebaliknya di Indonesia adalah kebinatangan dalam diri kita yang justru berkembang. Dari tayangan dan berbagai acara-acara di televisi sudah mencerminkan hal tersebut. Penderitaan orang dipertontonkan dan kita menjadi terhibur. Kekerasan menjadi santapan jiwa sehari-hari. Semua itu merupakan pembodohan dan menjauhkan diri kita pada kualitas kemanusiaan.

Kemanusiaan bukan hanya fisik saja tetapi juga jiwa. Orang dengan mudah menggunakan jubah agama atau melakukan ritual agama agar dipandang bermoral atau berakhlak oleh lingkungannya. Dosa bisa dihapuskan hanya dengan membayar sejumlah uang kepada mereka yang mengaku sebagai calo Tuhan dan kemudian melakukan korupsi kembali. Masyarakat dianjurkan untuk mengikuti program berbayar tertentu untuk memperbanyak amal sehingga bisa masuk surga. Seseorang bisa membunuh berdasarkan keyakinan yang ia miliki. Dan semua itu terjadi karena kita selalu melihat perbedaan fisik saja tanpa melihat esensi kemanusiaan itu sendiri. Keragaman di Indonesia sangat rentan akan hal-hal seperti ini bila kemanusiaan dalam diri rakyatnya belum berkembang. Kebinatangan dalam diri mereka akan dimanfaatkan dan dikendalikan oleh pihak asing untuk menghancurkan Indonesia.

Masalah kemanusiaan bukan terjadi di Indonesia saja, bahkan di seluruh dunia. Oleh karena itu sila ini berusaha untuk mempraktekan Cinta yang benihnya baru ditanam sehingga dapat tumbuh kuat dan berkembang.

Persatuan Indonesia

Persatuan bisa terjadi kalau kemanusiaan dalam diri kita sudah berkembang sehingga kita bisa bekerjasama bahu membahu membangun Indonesia. Berkembangnya kebinatangan dalam diri mengakibatkan kita saling mencelakai dan menghancurkan sesama saudara sendiri. Bagaimana kita bisa saling bekerjasama bila melihat yang berbeda langsung kita curigai. Selama persatuan tidak terjadi, dengan mudah orang asing akan memporak-porandakan negara ini. Segala kekayaan kita akan dikuras habis tanpa kita sadari. Rakyat sudah kehilangan kepekaan dan tidak tergerak lagi untuk membela Ibu-nya (Ibu Pertiwi) yang sedang dirampas dan dinodai kesuciannya. Pembangunan yang terjadi hanya berlandaskan materi. Siapa yang mempunyai uang atau kekuasaan, dia pula yang akan menikmatinya.

Anak Bangsa yang berprestasi malah dicurigai, tidak dihargai dan akhirnya berkarya dan berprestasi di negeri orang. Kebanggaan menjadi orang Indonesia hilang karena kita tidak merasa menjadi saudara, tidak merasa satu tubuh lagi. Perbedaan dijadikan landasan untuk saling memusuhi dan membunuh satu sama lain. Pembangunan harus dilakukan oleh kelompok tertentu atau mereka yang berkuasa. Bila kekuasaan mereka habis, penguasa baru menghancurkan dan membangun yang baru dan begitu seterusnya untuk membuktikan kelompok tersebut paling benar dan hebat.

Menggunakan barang impor sudah menjadi kebanggaan bagi kita untuk menggunakannya tanpa menyadari bahwa barang-barang tersebut akan mematikan industri lokal kita. Segala macam makanan dan baju yang dapat kita produksi sendiri semuanya harus diimpor. Di sini bukan melarang secara mutlak produk impor, tetapi pemakaian secara berlebihan yang disayangkan. Karena akibat yang ditimbulkan adalah manusia Indonesia tidak menjadi produktif lagi dan menjadi pengkonsumsi yang memperkaya negara lain.

Ditambah di berbagai media, semua sudah mengatasnamakan brand (merk) nya masing-masing bila ingin berbuat sesuatu kebaikan. Jalan-jalan sudah dipenuhi oleh iklan untuk menjejali pikiran rakyat seolah-olah pemerintah atau negara ini sudah tidak ada lagi. Jadi yang mempersatukan rakyat saat ini adalah materi, tidak ada lagi Persatuan Indonesia.

Memasuki sila ketiga ini, diharapkan semua bisa bekerjasama tanpa pandang bulu untuk membangun kebersamaan, membangun Indonesia untuk kejayaan. Bila kita bersatu kita akan menjadi kuat, sebaliknya kita akan runtuh. Inilah inti sila ketiga, untuk membangun pertahanan demi menjaga apa yang menjadi milik kita bersama. Pertahanan yang bukan saja menghadapi serangan dari luar, tetapi juga dari dalam diri sendiri.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan perwakilan

Saat ini rakyat sudah menjadi bodoh karena hilangnya rasa kemanusiaan dan persaudaraan. Rakyat yang bodoh akan menghasilkan pemimpin dengan kualitas yang sangat buruk. Pemimpin lahir dari rakyat. Kualitas rakyat mempengaruhi kualitas pemimpin.

Bila rakyat cerdas, negara ini akan menghasilkan seorang pemimpin yang akan memimpin dengan hikmat kebijaksanaan, bukan dipimpin oleh pemimpin yang rakus akan tampuk kekuasaan. Kualitas pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya sendiri.

Jadi percuma kita mengharapkan seorang pemimpin bila kita sendiri bodoh. Rakyat harus dibangkitkan dan dibuat menjadi pintar. Rakyat yang pintar akan bisa memperbaiki kondisi seburuk apapun. Rakyat yang cerdas akan melahirkan pemimpin yang cerdas. Siaran-siaran di televisi dan berita di berbagai media harus membantu hal ini, bukan hanya mementingkan materi sehingga rakyat menjadi bodoh.

Tetapi bila hadir seorang pemimpin yang mempunyai kualitas baik dan hadir dalam masyarakat yang sakit. Ia pasti akan dihujat dan dikucilkan. Oleh karena itu pemimpin dengan kualitas seperti itu harus bekerja super keras dan didukung oleh masyarakat yang masih sadar. Lagi-lagi rakyat menentukan di sini untuk menjaga pemimpin dengan kualitas seperti itu.

Kita perlu seorang pemimpin atau perwakilan untuk mengatur negara ini dengan baik, mengatur jalannya pemerintah, kerjasama dengan pihak lain dan mengolah sumber-sumber yang kita miliki. Pemimpin lahir dari rakyat. Oleh karena itu sila ini bertujuan untuk selalu mengingatkan bahwa kekuatan rakyat adalah segalanya, rakyat harus bersatu dan jangan mau dipecah belah. Bila kekuatan rakyat lemah, mudah ditakut-takuti atau dibodoh-bodohi, pemimpin yang lahirpun akan seperti itu.

Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan hanyalah bunga mimpi bila rakyat tidak mampu untuk berpikir cerdas, tercerai berai dan ditambah lagi dengan pemimpin yang rakus akan kekuasaan. Keadilan yang ada hanya diperuntukan untuk kelompok tertentu saja bukan untuk seluruh Rakyat Indonesia. Jadi inti dari sila kelima adalah untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada seorangpun atau kelompok manapun yang boleh menguasai seluruh alam dan kekayaan di Indonesia. Semuanya harus digunakan untuk kepentingan Rakyat Indonesia.

Kelima sila dalam Pancasila ini merupakan anak-anak tangga untuk menghantar Rakyat Indonesia pada kesadaran yang lebih tinggi. Tidak hanya memikirkan kepentingan materi atau hal-hal yang kecil saja tetapi juga dapat menyumbang sesuatu dan ikut terlibat dalam memecahkan masalah-masalah di dunia ini.

Saat ini kita masih berkutat dalam mencari jati diri, memperbesar perbedaan yang kemudian menimbulkan konflik, hanya memikirkan urusan perut dan kekuasaan dan hal-hal yang mementingkan diri sendiri dan kelompok. Selama kesadaran rakyat masih sampai di situ, maka bangsa ini akan terus diremehkan dan dianggap rendah oleh bangsa lain.

Peliknya masalah bangsa yang seperti benang kusut ini akan membuat rakyat bingung harus mulai darimana untuk merubahnya. Dan kalau kita kembali kepada Pancasila, jawabannya adalah mulailah dari sila pertama yaitu dari pribadi kita sendiri. Bagaimana kita memberdaya diri, merubah diri sendiri sehingga lingkungan kita ikut berubah.

oleh Zeembry

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone