June 9, 2008

ISTILAH ‘BUDI PEKERTI’ DITOLAK?

Tanggal 27 Januari 2007 dalam perjalanan ke Ciawi bersama seorang pakar pendidikan Perguruan Taman Siswa. Perguruan Taman Siswa adalah suatu perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, salah satu pahlawan nasional pendidikan. Sebagai ketua Taman Siswa di Jakarta, dedengkot pendidikan ini boleh dikatakan seorang yang sangat boleh diandalkan dalam bidangnya. Beliau pernah menjadi salah satu nara sumber yang memberi masukan dalam penyusunan undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Yang menarik dari salah satu topik pembicaraan adalah ketika disinggung perihal istilah kata budi pekerti.

Dalam pembahasan untuk penyusunan rancangan undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU SISIDIKNAS), beliau pernah mengusulkan agar mata pelajaran budi pekerti dimasukkan dalam kurikulum nasional. Ternyata kata budi pekerti memperoleh tantangan dari floor. Mereka menganggap kata tersebut berasal dari bahasa Sansekerta.

Alangkah menggelikannya pernyataan tersebut. Bahkan ada yang berpendapat bahwa kata ‘budi’ itu sendiri berkonotasi dari agama Bubdha. Aneh bin ajaib bukan? Begitu sempitnya cara pandang yang katanya pakar-pakar pendidik yang diberi tanggung jawab penyusunan RUU bidang pendidikan. Apakah mereka tidak pernah mempelajari sejarah kurikulum? Bukankah mata pelajaran budi pekerti bukan suatu hal baru. Mata pelajaran tersebut pernah diajarkan di sekolah dasar pada tahun ‘60 an.

Dampak penghilangan mata pelajaran ini cukup signifikan. Karena sesungguhnya mata pelajaran ini mengandung etika pergaulan, sopan santun, dan hal-hal lain yang sifatnya sangat berkaitan dalam pembentukan karakter anak didik. Pada dasarnya mata ajar ini merupakan sari pati yang diambil dari budaya luhur bangsa Indonesia sendiri, bukan import. Suatu warisan luhur dari nenek moyang. Diharapkan pelajaran ini mampu melembutkan perilaku dan perbuatan siswa. Bagi mereka yang pernah menerima pelajaran ini sangat merasakan manfaatnya dalam pergaulan.

Apakah mereka yang katanya wakil rakyat dan pakar pendidikan menentang suatu warisan leluhur ‘hanya’ semata-mata karena berasal dari bahasa Sansekerta. Bagaimana dengan kata-kata : Panca Sila, mahasiswa, maharaja, maya, dan lain kata yang diadop dari bahasa Sansekerta. Juga kalimat Bhineka Tunggal Ika yang terdapat pada lambang negara kita. Benar-benar tidak masuk akal.

Kemudian pendekar pendidikan dari Taman Siswa ini menyerah karena kalah suara. Beliau menjelaskan pada saya, bahwa akhirnya istilah kata budi pekerti diganti dengan akhlak mulia. Kemudian timbul dua pertanyaan.

Pertama, bukankah akhlak juga bukan dari bahasa asli kita, diambil dari bahasa Arab. Dan apa ada yang akan mesti dipermalukan penggunaan istilah ‘budi pekertisuatu kata yang pernah kita gunakan? Seharusnyalah kita bangga mempunyai suatu pelajaran warisan leluhur yang begitu tinggi nilainya. Semoga saja segala peristiwa bencana alam dan kecelakaan yang menimpa bangsa kita akhir-akhir ini bukan sebagai akibat pengingkaran terhadap warisan leluhur. Ataupun tindakan kita yang tidak mau lagi kenal budaya asli bangsa Indonesia. Bahkan cenderung lebih menghargai budaya ke barat-baratan ataupun ke arab-araban. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan bangsa dari krisis multi dimensional adalah kembali ke akar budaya kita. Kembalikan warisan budaya ke tempat yang seharusnya. Jangalah dicampakkan ataupun dipandang dengan sebelah mata saja, karena lebih menghargai budaya import.

Ke dua, akhlak mulia menurut siapa? Kalau menurut agama, akan timbul pertanyaan lebih lanjut : Agama yang mana, Islam, Kristen, Budha, atau Hindu. Semakin tidak jelas. Karena kalau kandungan pelajaran akhlak mulia berlandaskan agama tertentu, bukankah bisa terjadi tumpang tindih. Bisa tambah runyam malah.

Dari salah seorang teman saya juga pernah memperoleh cerita lucu. Jadi menurut teman kita ini, pernah seorang wakil rakyat yang terhormat menolak kata ‘kasih’. Katanya ‘kasih’ kan milik agama Kristen. Wah, bagaimana, tho Ibu Wakil Rakyat ini? Sebagai contoh, kita mengucapkan : Terima Kasih ketika menerima suatu pemberian. Disini ada kata ‘kasih’, apa juga tidak boleh. Belum lagi ‘kasih sayang’. Tuhan Yang Maha Pengasih, dan kasih-kasih lainnya. Ini semua terjadi karena kita memandang sebelah mata warisan adhi luhung leluhur kita. Sebagian besar masyarakat kita silau oleh budaya impor. Kemungkinan besar terjadinya krisis multidimensi yang belum juga berakhir disebabkan pudarnya kecintaan terhadap budaya kita. Sebagai contoh konkrit, Thailand serta negara tetangga Malaysia dan beberapa negara Asean. Mereka mampu recovery. dengan cepat berlandaskan kekuatan akar budaya mereka. Jati diri yang tidak memudar sangat membantu proses pemulihan perekonomian. Kembali ke akar budaya bangsa is the only solution. Pahami dan hargai warisan leluhur, itulah jati diri bangsa kita. Selamat berjuang. INDONESIA JAYA !!!!.

Aku Bangga jadi orang Indonesia. Afirmasikan kalimat ini selalu dan setiap saat, maka kau akan mampu mengangkat derajat dan martabat bangsa di dunia internasional.

- oleh Marhento

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone