June 9, 2008

Jadikan Panca Sila Sebagai Pedoman Hidup, bukan Peraturan

Pedoman perilaku hidup akan mendorong perilaku manusia menjadi lebih baik. Suatu masyarakat yang memiliki dan menerapkan pedoman perilaku hidup akan menjadikan masyarakat tersebut memiliki rasa apresiasi tinggi terhadap sesama makhluk dan lingkungan. Inilah yang dimaksudkan oleh para founding fathers kita bahwa Panca Sila merupakan pedoman perilaku bagi bangsa Indonesia. Suatu bangsa yang berperilaku berdasarka pedoman dan bukan peraturan akan lebih bermartabat. Peraturan hanya berlaku bagi mereka yang belum memiliki dan memahami makna pedoman hidup. Dan bila Panca Sila diadop dan diterapkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia sebagai pedoman hidup keseharian, akan terwujud : One Earth, One Sky, and One Humankind (Visi Anand Ashram)

Sila I : Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sampai saat inipun masih diperdebatkan Tuhannya siapa? Alangkah menggelikan. Permasalahan yang timbul disebabkan cara pandang sempit dari masing-masing penganut agama. Mereka mengklaim bahwa Tuhan adalah milik mereka. Kesadaran bahwa kita hidup di dalam Tuhan belum terpancar dari masing-masing diri kita. Sesungguhnya sangat sederhana pemahaman kita tentang Tuhan. Apakah mungkin kita hidup di luar Tuhan? Bukti bahwa Tuhan ada, adalah eksistensi kita sebagai manusia. Apakah mungkin adapun satu manusia dapat hidup di luar Tuhan? Lha kalau tidak ada manusia, siapa yang akan menyebut Tuhan? Di semua kitab suci secara jelas dinyatakan bahwa Tuhan ada di mana-mana, melingkupi semua ciptaan Nya. Kita semua yakin bahwa tidak ada sesuatu yang dapat bergerak di luar kehendak Ilahi. Jadi kalau ada satupun dari kitab suci yang menyatakan bahwa Tuhan memusuhi manusia jahat, apa masuk akal. Bahkan ada sekelompok orang dari suatu agama dengan lantang menyatakan bahwa manusia yang tidak se agama dengan kelompok mereka adalah musuh Tuhan. Wah hebat nian. Tuhan punya musuh ! ! !. Coba sekarang kita renungkan statemen ini. Dalam keseharian kehidupan kita sebagai manusia, saya bisa menyatakan punya musuh. Artinya kedudukan kita sejajar dengan musuh kita? Lha, kalau Tuhan punya musuh implikasinya adalah musuh/lawan tersebut mempunyai kedudukan sejajar. Apakah ini benar? Ingatlah kawan kita hidup dalam Tuhan lho?

Mari kita hidup dengan pedoman perilaku ber Ketuhanan. Sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan mewarnai perilaku kehidupan kita sehari-hari. Secara jelas dalam kitab suci Al Quran ada ayat yang menyatakan bahwa agama Islam adalah rahmat bagi sekalian alam, Rahmatan lil alamin. Dengan pedoman ini akan mewujudkan muslim yang dalam setiap perilakunya senatiasa memberikan rahmat bagi lingkungannya. Perwujudan kedamaian bagi lingkungan dan sesama mahkluk menjadi keniscayaan, bukan lagi impian. Alangkah indahnya hidup ini bila setiap pengikut agama-agama di dunia ini mengiplementasikan pedoman hidup ber Ketuhanan. Albert Einstain sendiri pernah mengemukakan bahwa kita disatukan oleh Unified Field of Energy. Adakah satupun di antara kita bisa membantah bahwa saya tidak mau menghisap nafas yang dikeluarkan oleh mereka yang tidak se agama dengan saya? Nafas yang saat ini saya hisap adalah nafas yang dikeluarkan oleh mereka yang notabene saya anggap musuh kita. Kemudian nafas tersebut diolah dan menyatu dalam darah kita. Inilah kesatuan kita.

Sila II : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Humanitas, pedoman perilaku yang berkemanusiaan. Itulah yang dimaksud oleh penggali Panca Sila, Ir. Sukarno. Tidak dapat disangkal bahwa setiap manusia tentu mempunyai unsur rasa kemanusiaan dalam dirinya. Rasa kasih pasti ada dalam setiap nurani manusia. Yang paling mudah adalah rasa kasih orang tua terhadap anaknya ataupun rasa kasih anak terhadap bapak dan ibunya. Sebagai manusia yang telah menyadari arti pedoman perilaku ber Ketuhanan tidaklah mungkin akan begitu tega membunuh sesamanya, hanya dengan dalih membela agama Allah. Yang dia bunuh memangnya bukan ciptaan Tuhan. Atas kehendak siapakah mereka lahir dan hidup? Ingatlah kawan : Tiada sesuatupun daun jatuh ke bumi di luar kehendak Ilahi. Pedoman hidup dengan perilaku kemanusiaan bisa terjadi jika kita mempunyai rasa empati. Rasa kasih yang muncul dari nurani kita berkembang menjadi rasa empatik. Mereka yang memahami dan mengimplementasikan pedoman perilaku kemanusiaan tentu akan berpikir dulu sebelum bertindak. Seandainya saya diperlakukan demikian, apakah saya rela? Pertanyaan ini akan selalu menghantui pikiran kita setiap saat. Inilah salah satu indikator bahwa kita sudah pada jalur yang benar dalam implementasi pedoman hidup berkemanusiaan. Ingat kawan, nenek moyang kita sudah mengamalkan pedoman perilaku ini sebelum agama import masuk ke Indonesia. Istilah jawanya : Rasa : Tepo Sliro. Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Itulah salah satu budaya luhur bangsa. Dan itu diamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari dalam bentuk hidup Bergotong Royong.

Sila III : Persatuan Indonesia

Perkembangan implementasi dari pedoman perilaku berbasis Ketuhanan dan Kemanusiaan adalah terwujudnya rasa persatuan dan kesatuan dalam jiwa ini. Bila ini diartikan secara sempit dalam pemahaman kebangsaan adalah terwujudnya Persatuan Indonesia. Bila ditarik ke arah yang lebih global lagi adalah Satu Kemanusiaan. Indah dan damai bukan?

Pertanyaan yang selalu menohok di benak saya adalah mereka yang ingin menerapkan perda berbasis syariat agama tertentu. Siapa sih yang diuntungkan bila hal itu terjadi? Apakah Tuhan juga menciptakan keseragaman. Saya kadang merenung bahwa keanekaragaman itula kebesaran Ilahi. Coba perhatikan, adakah satupun daun yang seragam pada satu pohon? Tapi mari kita perhatikan pohon artifisial dari plastik. Semua daun seragam. Inilah bukti nyata betapa bodohnya manusia. Apakah kita juga ke arah sana. Penyeragaman berarti kebodohan. Ini bukanlah sifat kebesaran Ilahi. Tidak lagi sesuai dengan pedoman perilaku ber Ketuhanan. Keinginan manusia untuk menyeragamkan menunjukkan manusia tersebut belum memahami sifat Kasih Ilahi. Yang ada hanyalah nafsu kekuasaan manusia dengan segala keserakahannya. Jauh dari sifat ke Ilahian.

Demikian juga bila kita bangsa Indonesia berkeinginan menerapkan pedoman perilaku berbasis rasa persatuan Indonesia. Tentulah segala daya upaya tindakan kita selalu berlandaskan rasa kebangsaan/nasionalisme. Tinjaulah selalu, apakah tindakan kita menguntungkan bangsa Indonesia atau menghancurkan persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia. Apakah kita juga akan mengingkari sebagai putera Ibu Pertiwi? Ingatlah sahabat, saudaraku di mana kau dilahirkan. Apa yang membentuk badanmu. Bumi Pertiwilah yang menjadikan kau saat ini sebagai manusia. Bukan tanah asing yang menumbuhkan dan menjadikan makananmu. Kenapa pula kau berkiblat pada budaya yang bukan milik leluhurmu. Apakah tindakan seperti ini dapat dilakukan oleh mereka yang mengaku ber Ketuhanan? Silahkan jawab sendiri. Hati nurani manusia selalu akan menjawab kebenaran seutuhnya.

Sila IV : Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam permusyawarakatan/perwakilan.

Inti pedoman perilaku di sini adalah demokrasi. Tapi kita juga harus memaknai lebih dalam lagi apa arti sesungguhnya demokrasi. Kekuasaan di tangan rakyat. Itulah arti demokrasi. Tapi tentu saja rakyat yang sadar akan kebijaksanaan dalam penerapan kekuasaannya. Bukan dengan kekuatan masa atau otot. Dalam penerapan demokrasi tentu tidak lepas dari ke tiga butir pedoman sebelumnya. Rakyat sebagai pelaksana demokrasi haruslah memiliki pedoman perilaku hidup yang ber Ketuhanan, ber kemanusiaan, dan yang penting mewujudkan persatuan Indonesia.

Indah dan damai pedoman demokrasi yang dilandasi ke tiga pedoman perilaku sila I, II, dan III. Suatu demokrasi yang penuh kebijaksanaan. Sudahkah kita melaksanakan demokrasi yang sesuai dengan Panca Sila sebagai landasan pedoman perilaku saat sekarang ini? Silahkan menjawab sendiri. Pengerahan masa untuk merusak dan mengintimidasi kelompok agama yang tidak sama dengan agama saya sangat tidak senafas dengan prinsip demokrasi yang berbasis kebijaksanaan. Hanya untuk memenangkan golongan tertentu. Dan tidak lagi berlandaskan rasa satu anak bangsa. Ingatlah sahabatku, kita masih satu anak bangsa. Bangsa Indonesia. Tanah Indonesia di mana kita lahir dan dibesarkan. Untuk apa pula kita membela orang asing. Apapun agamanya. Janganlah kita bertindak dengan mengumandangkan yel-yel membela agama yang tidak bisa beradaptasi dengan budaya kita.

Berperilaku dengan pedoman sila IV akan mengangkat derajat bangsa menjadi bangsa terhormat. Kita akan mempunyai pemimpin yang bijaksana bila rakyatnya juga bijaksana. Perbaiki perilaku kita masing-masing dengan mengikuti pedoman perilaku berlandaskan sila I s/d IV, maka kita kita menuju perwujudan cita-cita :

Sila V : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sila terakhir ini bisa diartikan sebagai cita-cita bangsa Indonesia pada saat kemerdekaan dicetuskan atau juga bisa menjadi landasan pedoman perilaku. Apabila diartikan sebagai pedoman perilaku, kita haruslah melandasi tindakan kita dalam perilaku keseharian. Kita harus mengutamakan keadilan di atas segalanya. Tentu saja keadilan yang dilandasi oleh pedoman yang ber Ketuhanan, berkemanusiaan serta jangan lupa tujuan akhirnya tidak memecah belah persatuan Indonesia dengan penegakkan demokrasi yang bijaksana.

Sifat keadilan yang harus ditonjolkan adalah perilaku bertindak secara tepat, bukan benar. Karena kalau kita menganut pemahaman kebenaran akan sangat relatif. Kebenaran atas dasar kepentingan tertentu atau golongan yang hanya mementingkan diri sendiri atau kelompok. Kadang kebenaran diputar balikkan. Kalau yg tidak menguntungkan bagi kelompoknya diklaim tidak benar.

Landasan sifat adil harus bercermin : seandainya saya diperlakukan demikian, relakah saya? Adil juga berarti mampu berlaku adil terhadap diri sendiri. Bukan hanya bisa mengadili orang lain, yang ujungnya untuk kepentingan diri sendiri. Sebelum mengadili orang lain, adili diri sendiri dulu. Tidak satupun manusia bisa bertindak adil selama mereka masih dikuasai oleh nafsu ingin menang sendiri. Selama sifat : keserakahan, dendam, kebencian, dan iri hati masih menguasai diri, janganlah bicara keadilan.

Pedoman perilaku hidup berkeadilan bisa terwujud jika kita mampu mengadili diri sendiri. Bertidak secara tepat berlandaskan empat (4) sila sebelumya akan mewujudkan tindakan yang adil.

Jadi sangatlah mengherankan bila masih ada satupun manusia Indonesia yang menyatakan bahwa Panca sila tidak relevan lagi sebagai pedoman hidup, The way of life bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia. Dari sisi manakah? Mari kita renungkan bersama. Sayang sekali apabila masih ada satupun anak bangsa yang memimpikan bahwa penerapan syariat agama tertentu akan menyelesaikan persoalan bangsa ini.

Menerapkan satu sila saja secara utuh dengan sendirinya, sekaligus juga sila-sila lainnya akan terlaksana. Bagaikan memegang tongkat, pegang bagian manapun tongkat tersebut, kita sudah memegang keseluruhan batang tongkat tersebut.

Banggalah kita sebagai manusia Indonesia yang memiliki Bung Karno sebagai penggali falsafah hidup setinggi ini. Beliau juga menggali dari budaya luhur kita sendiri, bukan dari agama tertentu.

BANGGALAH SELALU KITA YANG DILAHIRKAN SEBAGAI ANAK BANGSA INDONESIA.
JAYALAH NEGERIKU…………………….. INDONESIA JAYA BUKAN LAGI KENISCAYAAN
SEMBAH SUJUDKU BAGIMU IBU PERTIWI \

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone