June 16, 2008

Laa Ikraha Fid-dien

Laa Ikraha Fid-dien, satu ayat yang sangat indah dalam al-quran. Tidak ada pemaksaan dalam agama mencerminkan betapa demokratisnya Islam.

Satu ayat yang bisa menjadi antidot akan upaya segelintir orang yang menafsirkan beberapa ayat yang mengisahkan tentang perang atau memerintahkan berperang dengan tafsir kekerasan. Ketika ada perintah yang menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama, seharusnya kita bisa berpikir bahwa hatta penghinaan verbal pun tidak boleh apalagi sampai membuat sesama umat manusia terluka bahkan terbunuh hanya karena beda dalam menafsirkan ayat suci.

Perbedaan dalam menafsirkan ayat suci adalah hal wajar karena orang akan menafsirkan ayat sesuai dengan latar belakang dan tabiatnya. Apabila satu ayat suci ditafsirkan oleh orang yang bertabiat kasar dan keras, maka ayat tersebut pun akan ditafsirkan keras juga. Apa yang disebut oleh sebagaian orang sebagai jumhur ulama tidak mejamin bahwa tafsirnya terhadap ayat itulah fatwa kebenaran karena sekali lagi satu ayat bisa juga ditafsirkan sesuai dengan kepentingan yang menafsirkan. Satu lembaga yang menyatakan dirinya sebagai kelompok ulama bukanlah jaminan bahwa dia telah mewakili seluruh umat dalam satu negara. Buktinya masih banyak ulama lain yang memiliki tafsir berbeda dalam satu perkara, hanya saja kebanyakan ulama ini tidak memiliki media atau uang untuk mengekspos tafsirnya.

Ambil contoh ayat yang memerintahkan untuk memerangi kemungkaran. Kenapa lantas diambil kesimpulan bahwa memerangi kemungkaran itu harus dengan cara bunuh membunuh, bakar membakar, dan mengangkat senjata seperti yang selama ini dilakukan FPI. Coba kita analogikan dengan perintah memerangi kemiskinan atau memerangi wabah flu burung. Apakah kita juga lantas membunuhi orang-orang miskin atau membakari orang-orang yang terkena flu burung. Tidak kan ? yang kita lakukan adalah membuka lapangan kerja, memperbaiki pendidikan, mencari serum anti flu burung. Kenapa ayat yang memerintahkan untuk memerangi kemungkaran tidak ditafsirkan sama ? Ketika terjadi kemaksiatan, prostitusi menjamur, narkoba merebak, aliran sesat mewabah, kenapa tidak membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya sehingga para kaum prostitute ini punya pilihan lain ? kenapa tidak memberantas jaringan narkoba jangan korbannya yang dipukuli ? Kenapa tidak memberikan pendidikan yang benar kepada orang-orang yang disinyalir sudah mengikuti ajaran sesat sehingga kembali pada track yang benar ?

Selain itu, bukankah ada ayat yang memperingati Nabi dengan jelas bahwa Beliau hanyalah Sang Pembawa Pesan bukan yang menentukan beriman atau tidaknya seseorang. Diriwatkan Azbabun Nuzul turunya ayat ini ketika nabi bersedih paman yang dicintai sampai akhir hayat tidak mengucapkan kalimah syahadah. Artinya, tugas kita pun tidak lebih hanya sebagai penyampai pesan. Jika kita menganggap seseorang atau sekelompok orang telah sesat dan kafir, batas tugas kita hanya menyampaikan apa yang kita anggap benar dan jangan mengikuti kesesatan itu TITIK. Perkara dia tidak mau mengikuti Anda dan lebih mengikuti kelompok yang Anda anggap sesat sudah bukan menjadi tanggung jawab kita karena kita sudah mengingatkan. Bukannya malah memukuli dan membunuh orang itu, apalagi membakari rumah orang itu sampai tempat ibadahnya pun dihancurkan. Itu berarti Anda sudah melampau batas, Anda tidak lagi menegakkan Mizan dan Keadilan. Anda tentu tidak mengharapkan orang mengikuti Anda karena rasa takut dipukuli atau dihancurkan rumahnya sehingga di bibir terpaksa dia menyatakan kebenaran Anda tapi di hati dia mengutuki dan menyumpahi Anda.

Ada ayat yang memerintahkan kita untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Apa yang telah dilakukan FPI sungguh bertentangan dengan ayat ini. Lagipula coba kita pakai logika, berapa kerugian ekonomi karena aksi penghancuran yang sudah dilakukan FPI sejak tahun 2001. Satu contoh kasus, ketika mereka membakar rumah ibadah, apakah mereka tidak berpikir bahwa tempat yang mereka bakar itu di bangun pakai uang ?! Kalau memang rumah ibadat itu dianggap menjadi sarang beredarnya aliran sesat, daripada dibakar lebih baik kan dialihfungsikan seperti menjadikannya sekolah yang dikelola oleh aparat yang berwenang mengingat banyak bangunan sekolah di Indonesia sudah tidak layak pakai. Aksi penghancuran fasilitas umum dalam bentuk rumah ibadah yang dilakukan FPI ini betul-betul sudah merugikan tidak hanya secara mental tapi secara materil. Kelakuan mereka membakari dan meruntuhkan banyak bangunan betul-betul tidak memakai logika. Lakon FPI ini seolah-olah masyarakat Indonesia sudah begitu kaya-nya sehingga gampang saja mengancurkan banyak bangunan yang dibangun dengan menggunakan uang yang tentu saja bukan dalam jumlah kecil dimana kalau uang itu diberikan pada orang miskin pasti jauh lebih berguna.

Saya pribadi menyesali satu partai islam yang cukup besar di Indonesia yang dulu mengkader saya, tidak bersuara untuk melawan kekerasan dalam dakwah islam. Kenapa petinggi partai ini tidak menyorot pada cara dakwah yang menggunakan kekerasan dan pemaksaan. Mereka yang dulu mengajari saya nahnu duat qobla kulli sya’I, mereka yang memerintahkan saya untuk berdakwah dengan cara yang hasanah dengan cara yang baik tanpa paksaan. Tapi ketika terjadi kekerasan oleh FPI di berbagai tempat dengan alasan dakwah termasuk pada peristiwa Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monas 1 Juni 2008, petinggi-petingginya justru mencoba mengalihkan isunya. Apakah orang-orang ini sudah lupa asasnya dalam berdakwah ? Meskipun mereka diam, yang pasti TIDAK ADA ALASAN APAPUN YANG MEMBENARKAN AKSI KEKERASAN TERHADAP SESAMA UMAT MANUSIA APALAGI SESAMA ANAK BANGSA YANG DISUSUI OLEH IBU YANG SAMA IBU PERTIWI !! ISU KEKERASAN FPI DI MONAS ATAU DIMANAPUN MAU DILENCENGKAN SEJAUH APAPUN DARI FAKTANYA YANG PASTI MASYARAKAT SUDAH CERDAS MENYIMAK BAHWA KEKERASAN DAN PERILAKU TIDAK SOPAN LAINNYA TIDAK AKAN DITERIMA DI INDONESIA !! SILAHKAN PERGI KE NEGARA LAIN YANG MENGIJINKAN ANDA MELAKUKAN AKSI KEKERASAN !! DAN, SIAPAPUN YANG MENGGUNAKAN CARA-CARA KEKERASAN UNTUK MENG-GOL-KAN AGENDANYA, MAKA TUNGGULAH KEBINASAANNYA !!

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone