June 17, 2008

Lebih penting manakah, proses atau tercapainya tujuan?

Kebanyakan manusia lebih tersihir dalam terwujudnya pencapaian tujuan ketimbang memperhatikan prosesnya. Padahal alam sendiri mengajarkan pada kita bahwa sesungguhnya proses itulah yang sesungguhnya lebih penting.

Peristiwa tragedi kemanusiaan di Monas tanggal 1 Juni 2008 telah membuktikan bahwa sifat kemanusiaan yang aslinya lembut menjadi begitu buas dan brutal demi tercapainya tujuan. Mereka lupa akan bekerjanya hukum alam yang pasti melalui suatu proses. Tidak instant. Kelompok ini menganggap bahwa semua bisa dicapai tanpa melalui proses. Sebagaimana juga mereka tidak bisa memahami bahwa pembentukan terwujudnya bumi serta alam semesta melalui proses milyaran tahun. Dengan sangat dangkal mereka menafsirkan bahwa alam semesta termasuk bumi diciptakan dalam waktu 7 hari sebagaimana tertulis dalam kitab suci. Bagi mereka yang memaksakan kehendak untuk mencapai tujuan dengan jalan pintas cenderung melupakan proses yang selalu terjadi di alami ini. Beberapa contoh berikut bisa memberikan gambaran begitu pentingnya proses sesungguhnya.

Saya mempunyai keponakan kurang lebih berumur 3 tahun yang belum begitu lancar berbicara. Kemampuan untuk berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Oleh orang tuanya si anak dibawa ke psikolog anak untuk melakukan konsultasi. Setelah diadakan diskusi dengan orang tua mengenai anak tersebut baru ketahuan bahwa si anak ternyata melompati satu phase untuk mencapai tahap kemampuan untuk berjalan, yaitu merangkak. Menurut psikolog anak tersebut phase merangkak ini sangat penting dan harus dilalui. Jadi nampaknya ada syaraf yang kurang sinkron atau terganggu berkaitan dengan kemampuan untuk wicara dikarenakan terlampauinya proses merangkak sebelum ke tahap berjalan. Akhirnya anak tersebut harus melakukan terapi wicara.

Contoh lain lagi perubahan wujud kepompong menjadi kupu-kupu. Ketika larva kupu-kupu dalam kepompong berkeinginan keluar, ia harus mampu keluar sendiri. Dari suatu penelitian dibuktikan bahwa bantuan yang diberikan oleh manusia dengan cara dibukakan kepompong oleh manusia tidak akan membantu pertumbuhan sayap pada larva kupu tersebut. Sebaliknya, larva yang harus berusaha keras sendiri untuk keluar dari kepompongnya. Pada saat si larva berusaha dengan kemampuannya sendiri, ternyata pada saat yang sama mendorong tumbuhnya sayap pada larva kupu-kupu tersebut.

Demikian pula perwujudan alam semesta terjadi melalui proses yang panjang. Dan sampai saat inipun alam semesta masih berproses. Tidak percaya. Tanya para ahli yang mengamati perbintangan ataupun planet. Setiap saat planet baru terbentuk. Suatu bukti alampun terus berproses. Dengan mengamati proses yang terjadi di alam semesta kita belajar mengamati proses perkembangan jiwa kemanusiaan dalam diri kita sendiri. Pilihan ada di tangan manusia sendiri. Mau berjalan sesuai proses atau instan. Kalau kita melakukan proses itu sendiri dengan baik tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik, karena selaras dengan alam.

Al-Baqarah: 42
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.

Jika dikaitkan dengan ayat di atas, yang dimaksud dengan yang hak atau benar adalah proses dan yang bathil adalah mereka yeng mengingkari adanya proses. Walaupun sesungguhnya dalam hati kecil para pelaku kekerasan itu mengetahui secara jelas. Tapi mereka membunyikannya demi tercapainya tujuan. Dengan demikian bukankah mereka melanggar ajaran suci mereka sendiri?

Selanjutnya bagi mereka yang berusaha menghilangkan proses karena lebih berorientasi pada tujuan akan berhadapan dengan hukum alam dikarenakan sifat keserakahannya sendiri. Mereka yang lebih berorientasi pada hasil akhir mempunyai kecenderungan mengahalalkan segala cara. Pada dasarnya kelompok garis keras ini bukanlahlah terdiri dari manusia yang memiliki intelegensi tinggi. Tolong dibedakan pemahaman intelegensia dengan intelektualitas. Manusia yang berintelektual tinggi belum tentu memiliki intelegensia tinggi pula. Pada umumnya mereka yang berintelektualitas tinggi cenderung menggunakan kepintarannya untuk menebarkan kebodohan demi suksesnya tujuan mereka. Sementara manusia yang berintelegensia tinggi mempunyai kecenderungan berperilaku selaras dengan alam. Semakin tinggi intelegensia dalam diri seorang manusia akan semakin rendah hati. Hal ini didukung oleh adanya kesadaran bahwa sesungguhnya alam telah memiliki blueprint sendiri. Dan ia hanya berjalan dan selalu berbuat seirama dengan hukum alam. Ia akan akan semakin menghargai bahwa proses itulah yang penting, bukan pada hasil akhir/tujuan. Dari sini bisa ditarik suatu benang merah bahwa kemampuan intelektualitas masih didominasi oleh sifat hewaniah yang sesungguhnya juga inherent pada setiap manusia.

Bila anda pernah melihat tayangan TV dari peristiwa tragedi kemanusiaan di Monas, anda akan melihat wajah-wajah keras hewaniah terpampang dari mereka yang tidak menyembunyikan wajahnya. Buas dan brutal. Kebengisan dari wajah hewani yang tega melakukan apa saja demi tercapainya tujuan. Perempuan baik tua maupun muda bahkan anak-anak dipukuli tanpa adanya belas kasih. Belum lagi setelah itu mereka menebarkan kebohongan pada masyarakat umum. Sementara ada sebagian dari mereka menyembunyikan wajah dibalik kerudung. Sesungguhnya mereka takut. Takut melihat kenyataan bahwa pendapat mereka tidak selaras denga hukum alam/ilahi. Dari sisi pandang spritualitas sesungguhnya orang yang bertindak keras dan susah diajak bicara bertindak atas dasar ketakutan (fear based). Mereka bertindak atas dasar emosi yang tidak rasional. Ketakutan akan hilangnya masa berakibat hilangnya kekuasaan yang mereka cita-citakan. Yang secara otomatis juga tergerusnya keyakinan pada kekuasaan ilahi. Inilah ciri manusia yang atheis. Meniadakan keberadaan Tuhan. Menganggap bahwa proses itu tidak perlu. Yang penting hasil. Wah sungguh-sungguh bertentangan dengan hukum alam. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dibalik kelompok keras ini memang orang-orang yang berintelektual tinggi yang dengan gampang membolak-balikkan hukum untuk mencapai tujuan mereka. Sayangnya mereka semua masih pada taraf berintelgensia rendah. Di atas segalanya mereka telah membutakan diri terhadap fakta sejarah. Mereka masih berpikir di zaman ketika bangsa Qurais eksis. Manusia yang berpikir akan kejayaan masa lalu dan akan memaksakannya untuk terjadi di masa sekarang adalah manusia yang buta hatinya. Juga kebutaan hatinya terhadap keragaman sebagai berkah ilahi. Bagaimana mungkin menghadap Sang Khalik dengan buta hati. Bukankah dalam kitab suci mereka telah jelas tertulis bahwa mereka yang buta hatinya di dunia akan lebih buta lagi di akhirat.

Al Israa': 72
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).

Sebagai penutup marilah kita renungkan dan yakin terhadap ayat berikut :
Al-Imran: 120
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi Jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Sandarkan keimanan kita pada kekuasaan Sang Khalik. Dan marilah kita lebih berorientasi pada proses. Karena proses itulah sesungguhnya yang lebih penting. Bukan hasil akhir. Proses yang seirama dengan hukum alam pasti menghasilkan kebaikan bagi perkembangan jiwa kita.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone