June 13, 2008

Pemahaman tentang Genom dan Membangkitkan Kembali Penghormatan terhadap Budaya Nusantara

Dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah.

Penulis Buku tersebut membayangkan genom manusia sebagai semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman.

Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan kita sudah ada sejak zaman dahulu. Konsep kebijakan pembangunan Kota Solo saat ini bahwa “Solo Masa Depan adalah Solo Tempo Dulu”, yang maknanya adalah pengembangan kota Solo modern tanpa meninggalkan kekhasan kota Solo sendiri yang memiliki tradisi dan budaya adiluhung, sudah sejalan dengan pemetaan DNA. Kita perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik kita saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa.

Bung Karno pada tanggal 16 Juni 1958 berpidato yang petikannya sebagai berikut: “Masyarakat Indonesia ini boleh saya gambarkan dengan saf-safan. Saf ini di atas itu, di atas saf itu saf lagi. Saya melihat macam-macam saf. Saf Pra-Hindu, yang pada waktu itu kita bangsa yang telah berkultur dan bercita-cita. Berkultur sudah, beragama sudah, hanya agamanya lain dengan agama sekarang, bercita-cita sudah. Jangan kira bahwa kita pada jaman Pra-Hindu adalah bangsa yang biadab… Saya lantas gogo – gogo itu seperti orang mencari ikan, di lubang kepiting – sedalam-dalamnya sampai menembus jaman imperialis, menembus Zaman Islam, menembus Zaman Hindu, masuk ke dalam Zaman Pra-Hindu. Jadi saya menolak perkataan bahwa kurang dalam penggalian saya. Dalam pada saya menggali-gali, menyelami saf-saf ini, saban-saban saya bertemu dengan: kali ini, ini yang menonjol, lain kali itu yang lebih menonjol. Lima hal inilah: Ketuhanan, Kebangsaan, Perkemanusiaan, Kedaulatan Rakyat, Keadilan Sosial. Saya lantas berkata, kalau ini saya pakai sebagai dasar statis dan Leitstar dinamis, insya Allah, seluruh rakyat Indonesia bisa menerima, dan di atas dasar meja statis dan Leistar dinamis itu rakyat Indonesia seluruhnya bisa bersatu-padu”. Selanjutnya, Ki Hajar Dewantara mengartikan Budaya Nusantara adalah unggulan-unggulan dari setiap budaya yang kemudian digodog, dimasak, dan ditemukan saripatinya yaitu Pancasila. Silahkan kita beragama apapun juga. Akan tetapi sekali-kali jangan mengimport budaya asing. Para Founding Fathers telah mempunyai kebijaksanaan yang selaras dengan penemuan pemetaan genom. Kita melihat bangsa Jepang, Korea, India, dan lain-lainnya, mereka semua menghargai budaya mereka dan mereka semua maju.

Sekarang sudah terbukti dari penemuan di Bali beberapa waktu yang lalu yang membuktikan bahwa DNA kita ada gen khas Indonesia. Gen-nya gen khas Indonesia. Kita memiliki suatu dasar yang kuat sekali, dasar ini jangan sampai terlupakan. Kalau DNA kita sekarang dipetakan, kita memiliki DNA, memiliki benang merah yang mempertemukan kita semua. DNA Khas Indonesia.

Sejarah panjang penjajahan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak kita, mempengaruhi DNA kita.Di bawah ini kami ketengahkan pendapat Tokoh Humanis yang sangat kami hormati, Bapak Anand Krishna. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. Ia mulai berkompromi dengan keadaan. Ia menganggap perbudakan itu kodratnya. Kita perlu menyadari bahwa manusia Indonesia masa kini pun belum sepenuhnya bebas dari perbudakan. Kita masih sebagai budak, diperbudak oleh ideologi-ideologi semu, diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang, diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi kita tetap juga membisu. Jiwa kita sepertinya sudah mati. Sepertinya kita ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas.

Selama kita masih diperbudak, kita tidak dapat menghormati siapa pun. Seorang budak tidak mengenal rasa hormat. Seorang budak hanya mengenal rasa takut. Untuk menghormati seseorang, terlebih dahulu kita harus memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, selama kita masih hidup dalam penindasan, kita tidak bisa mengasihi seseorang, kita tidak bisa menghormati seseorang. Rasa kasih, rasa hormat, rasa bahagia, rasa indah – semuanya itu merupakan hasil kebebasan. Selama kita masih belum bebas, selama kita masih terbelenggu, selama itu pula kita masih hidup dalam kesadaran rendah, di mana penghalusan rasa belum terjadi.

Kita masih hidup dalam perbudakan. Diperbudak oleh masyarakat, diperbudak oleh lembaga-lembaga yang menamakan dirinya lembaga-lembaga keagamaan, juga oleh pikiran kita sendiri. Kita masih hidup dalam perbudakan. Jelas dalam diri kita belum terjadi penghalusan rasa. Kita belum kenal rasa hormat. Apakah kita menghormati orang-tua kita? Menghormati Nenek-Moyang kita? Menghormati Warisan Budaya kita?

Dimana letak kesalahan kita? Salah satunya, saya kira adalah “penolakan kita terhadap sejarah”. Orang bilang, Borobudur adalah peninggalan zaman Buddha. Prambanan adalah peninggalan zaman Hindu. Borobudur bukanlah peninggalan zaman Buddha. Borobudur adalah warisan budaya kita, peninggalan dinasti Syailendra. Dengan memisahkan diri dari Sriwijaya, Syailendra, Mataram, Majapahit dan lain-lain, dengan menolak dan tidak mengakui para leluhur, kita telah mencabut sendiri akar budaya kita. Dan, tanpa akar budaya, kita kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab, menjadi floating mass yang mudah hanyut oleh gelombang luar.

Budaya berasal dari dua kata, Buddhi dan Hridaya, ini adalah bahasa Jawa Kuno. Buddhi adalah pikiran yang sudah jernih, kalau pikiran belum jernih itu belum disebut Buddhi, ada istilah Budi Pekerti. Hridraya adalah perasaan/hati. Gabungan dari keduanya itu adalah Budaya.

Segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan dalam jangka lama akan menjadi karakter. Nenek Moyang kita mengungkapkan dalam ungkapan Tresno Jalaran Soko Kulino, Kasih Muncul Akibat Kebiasaan. Kebiasaan seseorang menjadi budak mengakibatkan karakter budak. Bila kita mulai hidup dengan kesadaran bahwa kita merdeka, tidak terbelenggu dan pemahaman tersebut dilakukan sehari-hari maka karakter kita akan berubah menjadi karakter yang tidak terkungkung. Potensi diri, jiwa kebesaran Sriwijaya, Majapahit ataupun Kerajaan lainnya masih ada dalam gen kita, selama ini mereka terdesak oleh belenggu ketakutan, belenggu perbudakan. Kita harus mulai hidup berkesadaran, membuang kebiasaan lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, membuat created mind yang benar untuk memperbaiki conditioning mind yang salah. Sudah waktunya kita lepas dari perbudakan, sudah waktunya kita bebas, sudah waktunya kita menghormati jasa leluhur kita, sudah waktunya kita menghormati Warisan Budaya kita. Bende Mataram, Sembah Sujudku bagi Ibu Pertiwi.

Triwidodo

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone