June 9, 2008

PENDERITAAN DAPAT DIAKHIRI: Jika Kita Bekerjasama untuk Mengakhirinya

Cukup sudah penderitaan ini, kita sudah cukup menderita…

Pertanyaannya sekarang adalah: Bagaimana mengakhirinya? Bisakah ini diakhiri? Dan jika bisa, bagaimana mengakhirinya?

Saya sangat percaya bahwa penderitaan dapat diakhiri. Saya berkeyakinan bahwa kita tidak lahir di dunia ini untuk menderita. Rasa sakit bukanlah suatu hal yang alami buat kita. Penderitaan adalah hal yang asing bagi jiwa manusia, layaknya virus yang menyebabkan penyakit dan membuat kita tidak nyaman. Penderitaan adalah penyakit yang dapat disembuhkan. Manusia tidak terkutuk untuk menderita. Sama sekali tidak.

Pertama-tama kita harus mengidentifikasi penderitaan sebagai penderitaan karena hanya dengan begitulah kita dapat menyelesaikan masalah ini.

Sejak Tsunami melanda Aceh, penderitaan demi penderitaan menimpa kita. Gempa bumi, badai, banjir, dan letusan gunung berapi. Belum lagi konflik-konflik sosial yang terpicu oleh sentimen agama. Seluruh kepulauan Nusantara sepertinya tidak luput dari bencana tiada akhir.

Kenapa?

Apakah karena Ibu Alam berusaha memberitahu kita tentang sesuatu, dan kita tetap tidak tidak paham? Apakah karena kita tidak mengakui penderitaan kita sebagai penderitaan? Apakah karena kita tidak belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut? Karenanya, Ibu Alam memberi kita pelajaran yang selalu sama dari masa ke masa.

  • Banyak di antara kita yang terkena musibah banjir di Jakarta sehingga harus mengungsi dan tinggal di pengungsian-pengungsian umum dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Tapi saat satu dari kita diwawancarai TV, semua orang mengelilingi yang diwawancara tersebut, tersenyum riang, cengar cengir, dan cekikian karena bakalan ditonton orang di layar TV. Untuk sementara kita lupa penderitaan dan rasa sakit kita
  • Kita tetap mengeluh bahwa pemerintah sama sekali tidak melakukan apapun untuk meringankan penderitaan kita. Tapi apa yang sudah kita sendiri lakukan untuk mengakhiri penderitaan ini? Seorang pengemis dibawa ke pusat rehabilitasi dan diberikan pelatihan sehingga dia berhenti mengemis di lampu lalu lintas jalan raya. Ibu pengemis ini kemudian meninggalkan pusat latihan dan kembali mengemis. Saat diwawancara oleh TV, dia dengan bangganya bercerita bahwa dengan mengemis dari jam 1 siang sampai jam 6 sore, dia dapat memperoleh lebih dari Rp 30.000 – dan itu jumlah minimum. Jadi kenapa dia harus capai-capai ikutan pelatihan yang hanya akan memberikan dia penghasilan yang lebih rendah?
  • Semangkuk nasi dengan sedikit sayur mayur dan ikan asin dapat dengan mudahnya membuat kita melupakan penderitaan dan rasa sakit kita. Kita sangat terbiasa mengemis dan dibantu, kita terbiasa hidup dalam belas kasihan orang lain.

Kita telah menjadi sangat tidak sensitif terhadap rasa sakit dan penderitaan. Kita tidak dapat lagi merasakan kesakitan. Bali dapat dibom dua kali, Jakarta beberapa kali, tapi selama kita masih aman, selama rumah, harta, dan keluarga aman – masa bodolah.

Rendahnya sensitivitasnya kita inilah yang telah membuat kita menderita berulang kali. Rasa sakit dan penderitaan harus dirasakan oleh tulang dan sumsum kita. Hanya dengan demikian kita dapat bangkit dan bekerja untuk mengakhirinya.

Ketahuilah penyebab penderitaan.

Pahamilah bahwa penderitaan adalah akibat dari perbuatanmu. Ya, penderitaanmu disebabkan olehmu sendiri, olehku, oleh kita semua. Kita semua bertanggung jawab atas pengalaman dan penderitaan kita yang menyakitkan.

Saya rasa adalah suatu kejahatan jika orang disesatkan dengan teori bahwa rasa sakit dan penderitaan itu disebabkan oleh tuhan yang duduk di singgasana surgawi yang mencobai kita, selayaknya memberikan ujian seberapa jauh iman kita padanya. Penjelasan-penjelasan semacam itu yang diberikan oleh para pendeta, pengkhotbah, dan penguasa kita sesungguhnya sangatlah tidak terhormat.

Kita sendiri yang menyebabkan segala rasa sakit dan penderitaan kita. Kita harus mengambil tanggung jawab ini sehingga dapat mencari jalan keluar dari penderitaan ini. Berhenti mencari kesalahan dalam diri orang lain. Saya bertanggung jawab atas penderitaan saya, dan karenanya saya harus bekerja untuk mengakhirinya.

Seluruh bencana alam ini bukanlah Kehendak Tuhan. Bukan ini yang Tuhan kehendaki dari manusia. Tidak. Ini semua salah kita sendiri. Kita telah menyebabkan Pemanasan Global. Naiknya suhu lautan kita telah menyebabkan ini. Dan kita yang membuat suhu tersebut naik. Sekarang, hanya sekitar 0.5% – 1% kenaikan suhu permukaan laut… Kita tidak berani membayangkan apa jadinya kalau suhunya naik lebih banyak lagi.

Kita telah menyiksa Ibu Alam kita.

Kita telah menghina lingkungan hidup dan merusak seluruh ekosistem. Kini hasilnya sangatlah jelas untuk kita lihat bersama.

Jika kita tidak melakukan apapun, maka 2000 pulau di Kepulauan Nusantara kita akan tenggelam, sebagaimana ditayangkan oleh Voice of America dan disebarkan oleh Metro TV (Indonesia) pada tanggal 5 Februari 2007 yang lalu.

Sejauh ini pemerintah Amerika Serikat dan China Komunis belum melakukan apapun untuk mengurangi emisi karbon dioksida yang merupakan sebab utama pemanasan global. Alasan mereka sangat klise: akan menyebabkan gangguan dan pengangguran pada industri mereka. Maaf, tapi saya pikir alasan itu sangatlah tidak cerdas. Apa gunanya seluruh industri dan lapangan kerja itu jika kita kehilangan planet ini?

Kita harus secara serius berpikir, berkontemplasi, dan menangani masalah ini dengan lebih bijaksana, dengan lebih cerdas. Baik negara maju maupun negara berkembang harus sadar bahwa apa yang mereka lakukan tidak hanya mempengaruhi diri mereka sendiri; mereka juga mempengaruhi seluruh dunia.

Demi yang namanya ‘pembangunan’, kita tidak bisa kehilangan planet ini. Kita tidak bisa menyebabkan punahnya begitu banyak populasi di dunia ini. Semua pembangunan material, kesuksesan, dan kemajuan yang kita miliki tidaklah ada artinya jika kita tidak punya lagi planet ini, rumah di mana kita tinggal.

Karenanya, saya harus memohon kepada semua saudaraku, baik orang Indonesia maupun masyarakat dunia, untuk dengan secara serius memikirkan hal ini dan mengambil langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan Bumi. Kita dapat melakukannya dengan menggunakan alat-alat elektronik kita secara bijak dan cerdas; dengan membeli piranti-piranti yang lebih ramah lingkungan.

Pemerintah, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, dan khususnya pemerintah regional Bali harus mulai memikirkan sistem transportasi publik yang lebih baik. Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor milik pribadi, belum termasuk sepeda motor dan scooter, harus diperiksa, dikendalikan, dan dibatasi/dihentikan.

Terakhir, untuk memberikan afirmasi terhadap niat kita untuk menyelamatkan Ibu Bumi, mari kita mengulangi afirmasi berikut ini pada pukul 18:30 setiap harinya (waktu setempat) di mana pun juga:

Aku mencintaimu Bumi;
Aku mencintaimu Langit;
Aku mencintaimu Air di Samudera, di Sungai, di Lautan

Aku mencintaimu Api, Sang Energi Awal;
Aku mencintaimu Udara;
dan Aku mencintaimu Ruang, yang Tidak Terbatas

Marilah kita bersama hidup dalam
Kedamaian, Kasih, dan Harmoni;
Saling mengasihi dan menyayangi

Marilah kita bekerja bersama
bagi Dunia dan Alam Semesta yang Lebih Baik
Amin, Amen, Sadhu, Om Shanti
(baris terakhir adalah opsional)

Anda dapat mengakhiri afirmasi ini dengan doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Jika anda dapat melakukannya di pinggir sungai atau pantai, sangatlah bagus untuk menyanyikan lagu-lagu Cinta dengan riang. Berdansa dengan riang, merayakan kehidupan. Ingat, kita tidak lahir di Bumi ini untuk menderita. Kita berada di sini untuk merayakan kehidupan. Pemanasan global yang mengancam perayaan kehidupan kita ini haruslah dihentikan. Kita dapat menghentikannya. Ingat, kita berhutang Bumi yang lebih baik bagi anak cucu kita, bagi generasi yang akan datang!

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone