June 9, 2008

Pendidikan jiwa sebagai basis pertahanan negara

“…bangunlah jiwanya, bangun badannya untuk Indonesia Raya” itulah sepenggal kalimat dari lagu Indonesia Raya. Dari sepotong kalimat ini, seharusnya kita bangga bahwa sesungguhnya para founding father kita sangat memahami bahwa suatu bangsa/negara bisa mempertahankan eksistensinya bila pembangunan jiwa lebih didahulukan dari pada pembangunan fisik/badan. Pendidikan merupakan soko guru atau tiang utama pertahanan negara. Kejayaan suatu negara sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusianya. Kualitas pendidikan dalam suatu negara merupakan cerminan ketahanan negara tersebut dalam menghadapi perubahan global.

Krisis yang telah melanda bangsa Indonesia dimulai sejak tahun 1998 sampai dengan saat ini belum mampu mencapai kepulihannya. Peristiwa peledakan bom di beberapa wilayah dilandasi ketidak fahaman terhadap kultur bangsa yang beragam sebagai kekayaan nusantara. Korupsi yang terjadi karena lebih mementingkan diri sendiri atau golongan bukan mengutamakan kepentingan bangsa seutuhnya, dan lain-lain kejadian yang cenderung memperburuk citra bangsa Indonesia yang dulunya dikenal supel dan ramah. Bukan menjadi suatu pembenaran pada maraknya peningkatan kemiskinan sebagai daya dorong orang berbuat brutal. Alasannya jelas. Pada tahun 1928 kita ucapkan Sumpah Pemuda dan tahun 1945 kita proklamirkan Kemerdekaan Indonesia. Apakah pada waktu itu rakyat Indonesia tidak dalam taraf kemiskinan yang lebih parah dari saat ini? Jelas lebih memprihatinkan dari kondisi saat ini. Kobaran semangat kebangsaan untuk menjadi negara merdeka dilandasi dengan kecintaan jiwa ini terhadap tanah air yang mendorong semangat perjuangan. Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah : ‘Apa yang hilang dari mayoritas bangsa Indonesia?’ Jiwa untuk berkorban demi keutuhan bangsa telah lenyap dari manusia Indonesia. Pendidikan jiwa berbasis kearifan lokal/budaya belum mendapatkan perhatian sebagaimana seharusnya.

Terdapat kecenderungan munculnya suatu pemahaman yang kurang tepat dalam merespon era kemajuan zaman. Hal ini terlihat dari maraknya pembangunan mal, perkantoran yang dilengkapi dengan sarana modern, dan sarana lainnya yang lebih mementingkan fisik. Sedangkan disisi lain sarana dan kualitas pendidikan boleh dikatakan hanya menempati prioritas ke dua. Kalaupun ada masih dalam pola pengembangan ke arah fisik yaitu pengembangan fasilitas. Bukan pengembangan jiwa yang disesuaikan dengan kultur budaya lokal. Kita sudah lupa pesan dari leluhur kita, … bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Jiwa dari suatu negara/bangsa adalah karakter bangsa itu sendiri. Keteledoran pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan berbasis keluhuran jiwa telah berakibat keterpurukan bangsa. Seakan kita lupa bahwa manusia yang berwatak luhur sesungguhnya lebih berharga dari pada manusia pintar. Mencetak manusia pintar lebih mudah dari pada mencipta manusia berjiwa luhur yang berkarakter kebangsaan. Munculnya para pembunuh berdarah dingin yang mengatas namakan agama merupakan suatu bukti nyata kegagalan sistem pendidikan berbasis budaya kearifan lokal.

Penekanan pendidikan yang lebih berat pada pengembangan otak kiri telah meracuni cara berpikir anak didik. Mereka telah begitu heavy terhadap perhitungan untung rugi. Pengembangan rasa yang berkaitan dengan otak kanan kurang terperhatikan. Pada hal sesungguhnya keberhasilan pembentukan karakter jiwa kebangsaan terjadi bila otak kanan berkembang dengan baik. Karena otak kanan berkaitan erat dengan rasa cinta, kasih, dan empatik. Hal ini sesungguhnya sudah jauh terpikirkan oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa. Pola pendidikan yang dikembangkan di Taman Siswa memiliki 4 azas perjuangan. Ke empat azas tersebut :

(1) Adanya seorang untuk mengatur dirinya sendiri; (2) Pengajaran harus mendidik anak menjadi manusia merdeka batin, pikiran, dan tenaga; (3) Pengajaran jangan terlampau mengutamakan kecerdasan pikiran, karena hal itu dapat memisahkan orang terpelajar dengan rakyat; dan (4) Berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri.(Kompas 30 Juli 2007, Humaniora) Pembangunan rasa, cipta, dan karsa selaras dengan alam akan mampu menghasilkan manusia yang utuh, kreatif, dan berkarakter.
Beliau sadar sesadarnya bahwa keberlangsungan peran bangsa Indonesia di kancah taman sari internasionalisme sangat dipengaruhi oleh mutu pendidikan. Tentu mutu pendidikan yang berbasis keluhuran jiwa. Hanya para pemimpin yang berjiwa luhurlah yang akan mampu mengangkat harkat bangsa di mata dunia internasional. Jiwa para pemimpin yang tidak mementingkan kepentingan diri sendiri. Namun lebih bersifat menjadi pelayan bagi rakyat. Bukan sebagai tuan dari rakyat. Para pemimpin berkarkter seperti itu adalah mereka yang mampu melihat bahwa bukanlah pembangunan fisik yang lebih dipentingkan tapi melihat siapa dibalik pembangunan fisik tersebut. Bagaimana karakter pendidikannya.

Pembangunan jiwa identik dengan pembentukan karakter jiwa. Dengan kata lain bahwa keberlanjutan eksistensi negara ini bisa berlanjut bila ketahanan jiwa dari mayoritas rakyat sangat tinggi. Tidak bisa tidak pembentukan jiwa haruslah dikaitkan dengan rasa cinta bangsa/negara. Bukan cinta terhadap pada suatu faham/kelompok tertentu. Ini merupakan pemahaman sempit. Bila ditinjau dari bidang ahli syaraf otak, ternyata terbukti bahwa penekanan pembenaran yang ditanamkan pada jiwa anak-anak sejak dini hanya pada satu faham tertentu telah mengkontraksikan/mengkerutkan bagian tertentu dari syaraf otak. Dengan sendirinya wawasan berpikir si anak menjadi sempit. Selain itu tidaklah mungkin negara bisa mempertahankan eksistensi di kancah taman sari internasional hanya dengan pemahaman sempit, tidak bersifat universal.

Dari suatu hasil penelitian di negeri Paman Sam dinyatakan bahwa kesuksesan yang dicapai oleh orang-orang yang saat ini terpandang, mayoritas diperankan oleh otak kanan, 96 %. Sedang otak kiri hanya minim perannya, 4 %. Sesungguhnya hal ini tidaklah mengherankan. Kebanyakan orang mencapai kesuksesan karena pergaulan yang luas serta kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Tidaklah mungkin hal ini terjadi kalau bagian otak kiri yang berkembang. Karena otak kiri lebih heavy terhadap perhitungan untung rugi. Kecenderungan pola pendidikan yang hanya melihat kebenaran diri atau keuntungan kelompoknya tidak akan menghasilkan orang sukses. Ada bagian tertentu dari sistem syaraf dalam otaknya mengkerut. Sehingga sulit menerima nilai universalitas. Padahal sesungguhnya alam secara keseluruhan bersifat beraneka ragam. Coba saja perhatikan daun dari suatu pohon. Tidak satupun yang sama persis. Itulah kebesaran Tuhan. Sangat bertolak belakang dengan daun dari suatu pohon plastik artificial. Semua seragam. Itulah sifat manusia, ingin semuanya seragam. Kepicikan manusia.

Pola pendidikan jiwa berbasiskan kearifan budaya lokal sangat menunjang eksistensi bangsa kita di kancah hiruk pikuknya perubahan. Identik dengan suatu pohon yang menanamkan akarnya dengan kuat di tanah. Sekencang apapun badai melanda si pohon, tak kan tergeserkan. Ia kokoh menghadapi amukan badai. Walaupun mengalami kerusakan akibat beberapa dahan patah, eksistensinya tetap kokoh. Demikian juga dengan manusia, sekali tertanam pemahaman jiwa berkarakter kebangsaan yang mengutamakan kepentingan bangsa, badai sedahsyat apapun tak kan menggoyahkan. Pendidikan jiwa berbasis kearifan lokal sangat diperlukan saat ini. Bukan berbasis budaya import yang tidak sesuai dengan karakter manusia asli Indonesia. Pengembangan manusia Indonesia berbasis kearifan budaya lokal tentu berpola pikir untuk kelangsungan eksistensi bangsa. Bagaimana agar pemanfaatan sumberdaya alam juga selaras dengan kebutuhan bukan karena keinginan. Karakter manusia berbasis kebutuhan tentu mampu menolak pola hidup konsumerisme. Ia hidup selaras dengan alam. Semua pembangunan wilayah yang berbasis kebutuhan diselaraskan dengan alam serta untuk keadilan bagi semua.

Sesungguhnya pola pikir sebagaimana tersebut di atas sudah menjadi wacana banyak orang. Setiap manusia tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Langkah dasar untuk mewujudkan keinginan tersebut dimulai sejak awal/dini. Dengan demikian peran orang tua dalam pembentukan karakter kejiwaan si anak sangatlah penting. Ketika seorang anak sudah harus mengecap bangku sekolah, orang tua juga harus mampu memilih suatu sekolah yang menunjang perkembangan jiwa bukan hanya sekedar pengetahuannya yang maju. Pemahaman masalah keberagamaan sangatlah diperlukan bagi orang tua yang benar-benar ingin memanusiakan anaknya. Agama bukan hanya sekedar simbol tetapi harus sudah mampu dilakoni dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran bahwa agama sangat rentan digunakan sebagai alat untuk memecah belah haruslah menjadi pertimbangan pokok dalam menanamkan nilai keberagamaan terhadap jiwa anak.

oleh Marhento Wintolo

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone