June 9, 2008

Premanisme, hal biasakah ?

Sabtu tanggal 29 Maret 2008, saya berjalan di teriknya matahari di area senen tepat di dekat shelter senin. Saya hendak melanjutkan perjalanan ke sunter dengan menggunakan taksi. Di pertigaan ke arah kemayoran dan cempaka putih, saya memberhentikan taksi express. Setelah berada di dalam taksi saya heran kenapa taksi tersebut tidak jalan malah minta uang seribu perak. Saya lalu melihat keluar jendela, di sana berdiri seorang pemuda berwajah garang sedikit sempoyongan menggedor-gedor taksi meminta uang seribu rupiah. Saya tidak mengerti untuk apa saya harus memberinya uang tersebut. Bukan masalah uangnya karena nilainya memang tidak besar tapi rasa aman dan nyaman saya. Saya awalnya tidak ingin memberikan uang tersebut tapi pria itu menggedor semakin keras dan mulai mengancam akhirnya dengan hati dongkol saya pun mengeluarkan uang seribu perak dan menyerahkannya. Barulah kemudian pria itu menjauh dari taksi kami.

Ini bukan pengalaman pertama kali bagi saya. Saya teringat suatu malam waktu itu sudah agak larut pukul 11.30 malam. Saya naik sebuah angkot jurusan pasar minggu depok, tiba-tiba seorang pria datang dan memukul kepala sopir angkotnya dengan alasan seharusnya angkot tersebut tidak boleh beroperasi lagi pada jam tersebut karena akan digantikan dengan mobil omprengan. Siapa yang membuat peraturan ini. Bukankah ini negara hukum yang sudah memiliki peraturannya secara baku. Bukan oleh segelintir manusia yang merasa memiliki otot sehingga bisa bebas mengatur orang lain. Saya merasa seolah-olah kehilangan kemerdekaan saya di negara yang katanya sudah merdeka selama lebih dari 62 tahun ini. Mungkin terdengar agak berlebihan karena hal ini terlihat sepele. Tapi sebenarnya ini hal yang betul-betul perlu diperhatikan karena kasus ini hanyalah sebuah fenomena gunung es yang berarti masih banyak sekali unsur serupa yang lebih berat lagi namun tidak terlihat.

Premanisme bukan hanya masalah orang-orang yang mencari uang dengan mengandalkan kekuatan ototnya semata. Premanisme adalah racun ganas yang sedang menggerogoti seluruh tubuh bangsa dan merasuk hingga ke nadi-nadinya. Mulai dari preman pasar hingga preman berdasi bahkan lebih parah lagi preman berjubah agama dan bersorban kitab suci. Mereka yang berdalil ingin membela Tuhan dan menegakkan kebenaran dengan menghancurkan dan melakukan aksi kekerasan termasuk menghancurkan rumah ibadah orang lain yang berbeda pemahaman dengan kelompok mereka sama buruknya dari preman pasar yang memalaki orang lemah dan ataupun preman berdasi yang mencuri harta rakyat.

Berapa banyak kerugian yang telah kita alami oleh orang-orang yang sebenarnya hanya segelintir ini. Kita menjadi terpenjara tanpa kita sadari. Kita punya hak untuk menghirup udara kebebasan dengan penuh rasa aman. Kita punya hak untuk meyakini kebenaran yang kita pahami. Jangan mau teralienasi di tanah air kita sendiri. Untuk itu sudah seharusnya kita bersuara. Kita bisa merubah semua ini apabila kita bersatu dengan visi yang sama untuk menjemput kemerdekaan yang sebenarnya dan bukan hanya slogan atau uapacara setiap tanggal 17 Agustus. Mari kita hidupkan kembali nilai-nilai budi pekerti yang sudah lama kita lupakan. Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang berbudi pekerti luhur, lemah lembut, adat istiadat yang luhur dan mulia.

Munculnya premanisme ini sebenarnya bisa kita cegah terutama melalui pendidikan sejak usia dini. Berikan pendidikan budi pekerti kepada anak baik secara formal maupun informal. Selain itu, hilangkan dogma agama yang mengkotak-kotakkan anak karena pemahaman ”saya lebih baik dari agama tertentu”. Para orang tua sudah saatnya mulai lebih memperhatikan pendidikan yang berbasis budaya untuk diberikan kepada anak sejak usia dini. Jangan terkecoh dengan iklan yang menggembar-gemborkan sekolah plus dan sejenisnya yang justru membuat anak akan semakin jauh dari jati dirinya. Untuk itu, perlu segera dibangun sistem pendidikan yang bersifat interfaith serta mampu menghidupkan kebijaksanaan luhur yang sudah ada di negara kita sejak ribuan tahun silam. Dan tidak kalah penting lagi suara seorang perempuan sebagaimana disebutkan dalam artikel Bapak Anand Krishna di Radar Bali bahwa ”Bila perempuan bersuara delapan penjuru bergema”.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone