June 9, 2008

BALI PEACE INITIATIVE: Suara Kedamaian dari Bali demi Keselamatan Anak Bangsa

Perdamaian di Indonesia harus terus di upayakan, agar bangsa dan negara kita tercinta tidak terperosok lebih dalam ke jurang perpecahan dan kehancuran. Ditengah ancaman kekuatan-kekuatan asing yang ingin menguasai kekayaan sumber alam kita. Berbagai macam cara mereka lakukan salah satunya dengan mengunakan sekelompok anak bangsa yang tidak sadar bahwa dirinya di jadikan alat untuk menghancurkan bangsa dan negaranya sendiri. Lewat berbagai macam konflik yang terjadi baik sosial, agama bahkan politik. Ujung-ujungnya adalah kepentingan ekonomi bagi diri mereka sendiri. Adalah Guruji Anand Krishna yang secara berani, tegas dan dengan semangat kasih terus menerus mengkampayekan perdamaian, cinta dan harmoni di seluruh wilayah di Indonesia bagi Bangsa, Negara dan Ibu Pertiwi.


Berbagai acara telah lahir dari ”rahim” beliau, Guruji Anand krishna, dan telah di lakukan baik oleh Anand Krishna Center, maupun sayap-sayap Anand Ashram yang lain seperti Forum kebangkitan jiwa/FKJ, National Integration Movement/NIM yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Gedung Ksiarnawa, Art Center Denpasar Bali, gedung yang menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Hampir setiap tahun sejak tahun 1978 di gedung ini diadakan sebuah even budaya yang bertaraf Internasional dan dikemas secara profesional sarat muatan lokal ” Pesta Kesenian Bali”. Tahun ini kegiatan itu akan di adakan pada bulan maret 2007 even tersebut memasuki usia ke XXIX .

Belum genap satu bulan setelah di renovasi, gedung masih sedikit agak berantakan, sedikit bau cat basah dan tempat duduk belum tersedia yang rencananya akan di datangkan dari negeri sang naga/Cina bulan depan. Tentu hal ini sangat memalukan bagi Indonesia umunya dan bagi Bali khususnya yang memiliki beribu-ribu pengerajin mebel dan pada saat ini mereka semua membutuhkan pekerjaan. Saat mana pekerjaan itu ada justru pengerajin negeri lain yang mendapatkannya, sungguh kita telah kehilangan viveka kita.

Pagi itu, pukul 06.30 Wita saat matahari mulai bersinar, teman-teman dari National Intergartion Movement/Gerakan Integrasi Bangsa mulai berbenah mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan acara yang sebentar lagi dilakukan bersama. Simposium Nasional ”Bali Peace Initiative : Seruan Kedamaian dari Bali demi Keselamatan Anak Bangsa”. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati HUT-2 NIM yang jatuh pada tgl 11 April 2007, dengan menghadirkan narasumber dari pimpinan partai politik, media dan pengusaha se-Bali.

Undangan telah disebarluaskan baik untuk penjabat maupun masyarakat luas. Tepat pukul 08.30 WITA undangan dan para nasumber mulai berdatangan satu-persatu. Acara yang dikemas dengan sangat sederhana dan dipersembahkan dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat seperti yang di tegaskan oleh ketua panitia, dr Wayan Sayoga dalam pidato sambutannya.


Pagi itu, semua lapisan masyarakat mulai dari kalangan pendidik/pelajar, budayawan/seniman, tokoh masyarakat, partai politik, media, pengusaha bahkan dari kalangan rohaniawan seperti Ida Pedanda Made Gunung tumplek menjadi satu disana. Beberapa pejabat penting yang di undang karena sesuatu hal berhalangan untuk hadir, tidak mengurangi semangat, misi dan visi yang ingin disampaikan dalam acara tersebut

Pada kesempatan itu, di putar suatu tayangan film dokumenter saat-saat penganugrahan penghargaan ”Aku Bangga Jadi Orang Indonesia” yang diserahkan oleh Guruji Anand Krishna kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X di Keraton Yogyakarta bertepatan dengan hari ulang tahun Beliau, yang membuat suasana menjadi haru. Semua mata terpukau melihatnya, Guruji Anand Krishna begitu bersahaja memberi kalungan bunga dan mempersembahkan sebuah penghargaan Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia kepada Sultan Hamengku Buwono X yang diterima Beliau dengan penuh santun dan rasa hormat, sungguh suatu pemandangan yang sangat mengharukan hati sanubari setiap orang yang melihatnya.

Sesaat kemudian Ibu Maya Safira Muchtar Ketua NIM, sebelum mempersilahkan Guruji Anand Krishna untuk menyampaikan wejangannya menjelaskan secara rinci misi dan visi NIM dengan berbagai agenda kegiatan yang telah di lakukan selama ini. Dari Simposium yang rutin di adakan setiap tahun di berbagai wilayah seperti di Jakarta, Yogyakarta, Solo, Lampung dan Denpasar, pesta rakyat yang rutin diadakan setiap minggu untuk mengkampayekan perdamaian, cinta dan harmoni, dan berbagai kegiatan lainnya baik di pusat maupun di daerah.

Rasa cinta dan kagum masyarakat Bali terhadap Guruji Anand Krishna dapat Kami rasakan pada saat itu, tatkala Guruji Anand Krishna berdiri di mimbar dan mulai memberikan wejangannya. Semua hadirin terdiam, telinga di buka, mata tertuju pada sosok beliau. Bukan hanya masyarakat luas, para pejabat yang hadir mewakili instansi pemerintahan pun terkesima, sesekali bertepuk tangan dan mengamini apa yg beliau katakan dan seluruh kegiatan inipun disiarkan secara langsung oleh RRI Denpasar kepada masyarakat luas.

Guruji Anand Krishna :

“Bali berarti Bal(kekuatan) yang datang dari kesiapan untuk menjadi Bali, untuk berkorban. Pengorbanan hanya dilakukan oleh orang-orang yang kuat, orang-orang pengecut tidak berani melakukan. Semangat ini, semangat peace yang kita ingin kembangkan. Saya kalau boleh mengutip Mahatma Gandhi, Ahimsa bukanlah untuk orang orang pengecut, kalau kamu pengecut kemudian kamu mengambil sikap ahmisa lebih baik kamu tidak ber-ahimsa lebih baik kamu jadi berani dulu”.

Tidak ada ruang untuk ketidaksadaran, ketidakpedulian, kebodohan, kepengecutan di dalam diri kita yang bersembunyi atas nama Ahimsa. Kritikan-kritikan tajam dengan solusi membangun terus beliau berikan selama kurang lebih 30 menit ke depan.

Apresiasi adalah kata kunci untuk menciptakan perdamaian /Peace ini, tanpa apresiasi kedamaian tdk akan pernah terjadi, begitulah bagian terpenting dalam wejangan Beliau yang saya tangkap pagi itu.

”Dunia ini satu keluarga. Dimana-mana terlihat wajah Allah, ketika kita bicara peace initiative, peace initiative ini harus didasari oleh saling mengapresiasi. Mengapresiasi perbedaan, kekurangan. Dari situ baru kita bisa membangun kesetaraaan.

Saya berhubungan dengan anda bukan karena anda lebih tinggi atau lebih rendah dari saya tetapi karena kita berdiri setara. Pertama apresiasi, kedua kesetaraan baru kita bisa mmbangun bersama. Jadi awal mulanya apresiasi dulu, bagaimana saya mengapresiasi orang beragama Hindu kalau saya tidak pernah mempelajari agama Hindu, bagaimana saya mengapresiasi orang beragama islam jika saya tidak pernah mempelajari agama islam dsb. Tidak bisa.

Ada orang hindu yang agak aneh bin ajaib, dia di kritik oleh orang-orang islam, kalian pemuja berhala, kebetulan di tempat itu ada kaligrafi muhammad dan allah. Orang Hindu ini mencomotnya dan membantingnya. Marahlah orang-orang Islam. Orang hindu ini bertanya, kenapa marah inikan cuma kaligrafi cuma tulisan saja, apa bedanya dengan patung yang saya puja.

Tanda/simbol, kalau saya disini copot gambar SBY atau Kalla lalu saya banting. Saya pasti di tangkap langsung, penghinaan. Jangankan simbol-simbol itu , foto ayah sayapun kalau ada yang membanting, saya akan marah. Kita harus saling mengapresiasi, Hindu mengapresiasi Islam, Islam mengapresiasi Hindu, Kristen mengapresiasi Budha, Budha mengapresisi Kristen dsbnya. Kita semua harus belajar mengapresiasi, ada perbedaan iya, kalau Tuhan menghedaki kita semua bisa lahir berhidung mancung seperti saya. Kemudian tidak ada yang akan menjadi fans berat Sharuk-Khan, siapa yang akan ngefans Madona kalau semua Madona, tidak, justru kita di ciptakan seperti ini supaya ramai, ada mawar ada angrek ada melati, semangat apresiasi ini yang kita butuhkan” .

Para pimpinan partai politik yang hadir saat itu baik dari PDIP, Golkar, PKB, PPP, PKS, Demokrat, dan Marhenisme terlihat sangat menaruh perhatian yang dalam atas apa yang disampaikan oleh Guruji Anand Krishna. Mungkin mereka tidak akan pernah menyangka sebelumnya ada seorang yang begitu berani mengungkapkan kebenaran dengan bahasa yang santun, sopan tanpa tedeng aling-aling dimanapun dan pada kesempatan apapun ia berada.

Kegelisahan Guruji Anand Krishna melihat kondisi bangsa yang sangat mengkhawatirkan saat ini dibeberkan semua secara detail dan terbuka. Dengan kerendahan hati Beliau mohon kepada semua partai politik yang ada untuk bahu- membahu, bekerjasama sama menjalin satu kekuatan mengatasi berbagai persoalan Bangsa. Saat ini Indonesia sudah diprediksi akan terpecah belah menjadi 5 negara bagian, dan masing-masing pihak telah sepakat dalam pembagiannya. Sungguh sangat memprihatinkan kondisi Bangsa dan Negara kita saat ini.

Dalam kesempatan itu juga dalam rangka HUT NIM yang ke-2, Bapak Anand Krishna menyerahkan penghargaan ”Aku Bangga Jadi orang Indonesia” kepada Bapak Mangku Pastika atas jasa-jasa beliau selama ini, yang saat itu diterima oleh putri beliau yang mewakili Bapak Mangku Pastika karena bersamaan dengan itu beliau sedang ada acara yang tidak bisa ditinggalkan.

Acara terus begulir, tiba pada saat para narasumber diminta hadir ke depan dan mulai menyampaikan seruan perdamaiannya. Moderator pada kesempatan ini adalah Bapak Putu Artha, beliau anggota KPU propinsi Bali yang sangat apresiasi atas kegiatan NIM selama ini, dalam berbagai kesempatan beliau selalu hadir.

Sessi pertama, 4 narasumber dari partai politik, satu media, dan satu pengusaha. Satu persatu masing-masing narasumber baik dari partai politik, pengusaha maupun media menyerukan komitmen untuk menjaga perdamaian. Pada akhir sessi pertama ini moderator dapat menyimpulkan bahwa mereka sepakat perdamain menjadi prasayarat mutlak di atas dasar keberagaman dan kemanusian. Ada satu perspetif yang memberikan penekanan pada perspetif ekonomi bahwa perdamaian dapat terjadi jika terjadi pengkuatan lokal, dalam perspektif budaya penekanan pada bagaimana membangun kedamaian dari Bali dengan kembali kepada jati diri bangsa, kepada khasanah budaya bangsa. Ada penekanan bahwa kedamaian tidak akn pernah terwujud jika tidak ada spirit untuk bersama memproteksi diri, keamanan baik wilayah maupun daerah dan pada dasarnya diatas semua itu Bali adalah sumber Inspirasi kedamaian tetapi teladan dari elite politik dari tokoh masyarakat adalah kata kuncinya, tanpa itu mustahil Bali akan menjadi mercusuar kedamaian.

Sessi kedua, dapat disimpulkan oleh moderator bahwa 6 pembicara pertama telah meletakan filosofi kenapa suasana perdamaian, kenapa penghormatan kepada keberagaman dan kemanusian itu menjadi penting dan 6 pembicara berikutnya sadar atau tidak sadar memberi jalan keluar/solusi langkah taktis bagaimana mewujudkan itu. Kata kuncinya adalah bagaimana memanagement keberagaman itu, Kebhinekaan itu, ini kata kuncinya. Yang berangkat pertama-tama adalah kesadaran sebagai bangsa bahwa Pancasila adalah harga mati, Bhineka tunggal ika adalah harga mati ketika berangkat dari dasar itu maka persoalan-persoalan tehnis management kebhinekaan menyakut dialog terbuka yang ditawarkan PKS, koalisi partai politik yg dilakukan oleh partai Golkar dan PDIP serta dengan landasan kejujuran yg telah diterapkan oleh para pengusaha dan kuncinya adalah bagaimana media membangun suatu spirit suara kedamaian itu dalam konteks media justru tidak menjadi alat pemecah tetapi menjadi alat pemersatu. Maka niscayalah apa yang kita bicarakan 5 menit 5 menit tadi akan memberikan suatu inspirasi bahwa kedamaian dari Bali sudah terpelihara dan akan tetap kita gaungkan bersama-sama. Demikianlah acara Simposium Bali Peace Initiative dalam rangka HUT NIM ke -2 berjalan sukses dan memberikan semangat kedamaian itu. Trimakasih kepada teman-teman luar kota yang turut menyukseskan acara tersebut. Terimakasih kepada yang terkasih Guruji Anand Krishna atas bimbingan dan kasihnya senatiansa menuntun kita bersama menuju INDONESIA JAYA.

oleh Hadi Susanto

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone