June 16, 2008

Wicara Seorang Anak (dialog batin)

Di pojok nusantara

Kusaksikan ibu pertiwi duduk terjengkang
Letih terkoyak cabik
Menangis bisu derita berbayang

Kuhampiri ibuku
Kubertanya gerangan melanda
Serak terdengar lirih
Ibuku diperkosa anak kandungnya sendiri

Ah..ibu, bilakah sang anak mampu memperkosa ibu ?
Rintih ibu menggema risau
Mereka yang saling mengkafirkan saudaranya adalah pemerkosaku
Padahal islam, kristen, katolik, hindu, buddha dan segala sekte yang ada di dalamnya
Semua adalah anak kandungku

Anak-anakku lupa akan bhineka, plural, keberagaman
Mereka tak mampu membedakan mana budaya dan mana tauhid
Atas nama ibu anak-anakku saling membunuh
Mereka sangat senang memilihkanku peran sebagai ibu yang kejam

Anak-anakku menafsirkan perkataanku dengan kepicikannya
Mereka tidak pernah bertanya padaku apa yang kuinginkan
Anak-anakkku selalu ingin mengatur hubungan pribadi saudaranya denganku
Padahal akulah yang berhak menentukan siapa yang telah berserah diri
bukan ktp-mu, bukan ritusmu, dan bukan pula bahasa yang kau pakai untuk menyebutku

Oh…ibu, letihmu pedih mencakar seluruh jiwaku
Aku melolong kesakitan
Geram ku kepal tinju
Namun hanya angin yang tertumbuk

Tanya dan rasa hempas menggelombang
Duhai ibu apa yang bisa kulakukan untukmu ?
Berulang dan berulang ku hangus dalam fikir
Sampai kutertidur nyenyak tanpa mimpi dan terjawab tanpa kata atau rasa

Kasih melampaui bahasa, ritus, agama
Kasih melewati warna, bentuk, rasa
Kasih adalah ibuku
Sembah sujudku padamu wahai ibu pertiwi

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone