July 30, 2008

Lemah Lembut… Titik Pusat Al-Quran

Bila kita membuka Al Quran maka tepat pada pertengahan ayat-ayat suci tersebut kita akan menemui ayat yang dicetak dengan warna merah yang berbunyi “WAL YATALATAF”.

Wal yatalataf, titik pusat Al Quran bermakna; Dan berlakulah lemah lembut…lentur!

Lemah lembut, lentur…itulah yang diajarkan Al Quran.

Titik pusat Al Quran mengajarkan kita untuk tidak keras dan kaku. Marilah kita lentur, lembut dalam memahami dan menterjemahkan Al Quran dalam kehidupan kita sehari-hari pada Abad XXI ini.

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam memahami Al Quran antara lain :

  • Al Quran turun pada Abad VII M, bermula  pada Bangsa Arab Quraisy. Jelas sekali Al Quran tidak dapat diterapkan secara mentah, kaku pada Abad XXI ini karena situasi dan kondisi yang sangat berbeda.
  • Kita perlu memahami Asbabun Nuzul ( situasi dan kondisi pada saat ayat Al Quran turun ). Dengan demikian kita bisa “reading between the lines”.
  • Allah adalah Al Latief…Maha Lembut. Dia memberitahu manusia dengan lembut, dengan tanda-tanda. Bagaimana kita dapat memahami Dia yang Maha Lembut bila kita keras,kasar,kaku.
  • Kita perlu kecerdasan untuk menilai mana ayat yang berlaku universal serta mana yang situasional, hanya berlaku pada Abad VII M di Timur Tengah.

Kita tetap bisa mengambil pelajaran dari ayat-ayat yang situasional itu namun tentu saja tidak secara mentah dan kaku. Dengan mudah kita dapat membedakan mana ayat yang universal dan mana yang situasional. Ayat 2 : 115 Al Baqarah jelas ayat yang universal, a lifetime ayat. “Kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah”. Sangat indah bukan?

Contoh ayat situasional adalah ayat 5 : 38 Al Maaidah. “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah”.

Bisa dibayangkan kalau ayat ini diterapkan secara mentah di Indonesia Abad XXI ?

Membeli kaset/ CD / DVD bajakan juga merupakan pencurian, photocopy buku, menjiplak karya orang lain, menerima suap dan sogokan, banyak sekali pencurian yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar. Bila ayat 5 : 38 diterapkan secara mentah akan ada berjuta-juta orang buntung di Indonesia. Siapa yang akan merawat dan mencari nafkah untuk berjuta-juta orang buntung itu?

Kita prihatin melihat sekelompok masyarakat yang menerapkan ajaran Rasulullah saw secara mentah. Contoh kasus adalah sekian anggota DPR/MPR RI yang terpelajar ternyata memiliki banyak anak, ada yang memiliki 8 anak, 10 anak bahkan 13 anak!

Memang ada hadist bahwa Rasulullah bangga akan umatnya yang banyak. Namun menerapkan banyak anak zaman sekarang?  Apa tidak menyadari akan bahaya Global Warming yang ada di depan mata kita?  Ya ampyun…plis deh!

Mari kita memahami ayat-ayat Al Quran dan  Hadist Rasulullah SAW secara jernih dan cerdas. Jangan biarkan Rasulullah malu karena memiliki umat yang bodoh dan tolol.

Shalawat dan salam senantiasa untukMu ya Rasulullah…

Nina- Fellow. Inspired by Cak Nun

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone