July 29, 2008

Refleksi, Adakah Cinta untuk Indonesia ?

Ketika rutinitas dan ritual mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan kita, pernahkah terlintas dalam benak kita, adakah cinta untuk Indonesia kita ini ? Cinta yang dimaksud disini adalah cinta yang mewujud. Bukan hanya cinta yang dipendam atau sebatas diucapkan saja.

Beberapa waktu lalu, saya mengalami kejadian yang tidak pernah terpikir bisa saya alami. Saya menjadi salah seorang korban dalam tragedi Monas, 1 Juni 2008. Tragedi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang hendak memaksakan kepentingan golongannya atas konstitusi negara ini. Tragedi kekerasan yang sudah melecehkan landasan negara ini, yaitu Pancasila, tepat di hari kelahirannya. Kejadian itu sangat membekas dalam diri saya, baik secara fisik maupun mental. Namun reaksi yang terjadi dalam diri saya, justru sama sekali di luar dugaan.

Sebelum mengalami tragedi, saya mengerti bahwa sebagai warga negara saya wajib mengenal bangsa dan simbol-simbol negara ini. Dan saya juga mengerti tentang nasionalisme dan bahwa saya harus menyebarkan semangat nasionalisme ini. Tragedi ini seharusnya membuat saya jera menyebarkan semangat nasionalisme ini. Karena saya berhadapan langsung dengan orang-orang yang jelas-jelas tidak memahami nasionalisme dengan menodai salah satu simbol negara, yaitu Pancasila, dengan kekerasan. Saya telah menyaksikan sekelompok orang ingin menghapuskan perbedaan, mulai dari perbedaan internal dalam agama mereka, bahkan tidak menutup kemungkinan sampai perbedaan yang mewarnai Indonesia ini, dengan kekerasan. Namun reaksi yang muncul justru sebaliknya. Saya sama sekali tidak jera. Hari itu saya menyaksikan betapa Ibu Pertiwi ini sudah dinodai. Hari itu saya telah menyaksikan betapa bangsa dan negara ini diambang perpecahan. Saya tidak boleh jera. Tiba-tiba saya jatuh cinta kepada bangsa dan negara ini. Saya tergila-gila untuk tetap menyuarakan kecintaan saya kepada Indonesia kita ini.

Rasa cinta yang mengubah keseharian saya, ritual dan rutinitas saya, menjadi sebuah persembahan bagi Ibu Pertiwi. Dan rasa cinta ini terlalu besar untuk saya pendam sendiri. Saya harus berbagi. Berbagi ‘suara’, baik lisan maupun tulisan. ‘Suara‘ yang lembut namun tegas. ‘Suara’ yang akan membuat sekelompok orang di luar sana, yang memiliki agenda atau skenario apapun untuk mengganti Pancasila, memecah belah persatuan bangsa, atau memaksakan kehendak golongan atas konstitusi negara ini, berpikir dua kali. ‘Suara’ yang akan mempertahankan Pancasila sebagai landasan negara, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, dan menjunjung tinggi konstitusi negara ini. ‘Suara’ yang akan tetap melawan tanpa kekerasan.

Menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke 63 tahun, masih adakah cinta untuk Indonesia kita ini ? Cinta yang mewujud dalam keseharian, dalam menghadapi segala ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang menghadang. Semua diawali dari diri sendiri, dari diri anak bangsa yang mencintai Ibu Pertiwinya.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone