July 10, 2008

Sifat Kasih Alam Semesta

Mengamati kehidupan lebah.

Sumber makanan lebah adalah nektar dari bunga-bungaan. Misalnya lebah yang hidup pada pohon kelengkeng di daerah Ambarawa, mendapatkan makanan dari bunga pohon kelengkeng setempat. Karena bunga pohon kelengkeng hanya mekar pada musimnya, maka lebah menyimpan nektar yang mereka kumpulkan dengan menambah cairan khusus yang dikeluarkan oleh tubuh mereka untuk dipergunakan sebagai makanan pada saat pohon tidak berbunga. Campuran yang bergizi inilah yang disebut madu. Untuk menjaga kualitasnya, temperatur madu dipertahankan sekitar 350C.

Pada waktu kondisi panas mereka berkumpul untuk mengipasi madu dengan sayapnya. Untuk mencegah makhluk asing masuk mereka mempunyai penjaga yang akan mengusir mereka yang mengganggu. Agar bakteri tidak hidup mereka mengeluarkan ”resin” yang sekaligus dapat mengeraskan sarang mereka. Rumah mereka berbentuk kelompok segi enam, bentuk yang paling efisien di alam, strukturnya kuat, dengan dinding minimal menghasilkan volumenya maksimal. Pertanyaannya adalah mengapa lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Mengapa lebah lebih banyak memberi kepada manusia?

Lebih banyak memberi daripada menerima.

Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan kelompoknya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, ubinyapun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Manusia mendapatkan keuntungan dengan memelihara mereka semua.

Dalam buku Shrimad Bhagavatam, terdapat cerita tentang Sri Krishna kecil yang dengan teman-teman bermainnya, merasa kepanasan dan berteduh di sebuah pohon di bukit Govardhana. Krishna berseru : ”Lihat! Betapa ramahnya pohon ini, dengan cabang yang menjalin mereka menyiapkan payung bagi yang kepanasan dan kehujanan. Dia tidak mengeluhkan angin topan dan hujan, juga bekunya musim dingin. Manakala didekati untuk suatu kebaikan, mereka tidak pernah mengusir dengan tangan kosong. Daun-daunnya, bunganya, buahnya, bahkan cabang dan tubuhnya mereka persembahkan semuanya. Tanpa diajari kitab suci, sebuah pohon melakukan bhakti, jauh lebih baik dibanding yang terbaik diantara manusia.

Berbagai tingkat kesadaran manusia.

Menurut Guru, ada perkembangan dalam tingkatan kesadaran manusia. Dari yang paling dasar yaitu ”Seks” untuk mencari kepuasan diri sendiri. Meminta, menjarah tanpa memperdulikan pihak lain, yang dipengaruhi oleh sifat bawaan untuk mementingkan diri sendiri. Kesadaran selanjutnya adalah kesadaran ”Cinta”, yang menerima tetapi juga memberi. Bekerja dan mendapatkan imbalan, membeli dan mendapatkan barang. Dalam hal ini logika bekerja. Kemudian sampailah kepada kesadaran ”Kasih”, lebih banyak memberi daripada menerima. Di sini yang bekerja bukanlah logika, tetapi rasa, hati. Sampai suatu saat muncul kesadaran ”aku ini siapa”? Apakah aku betul-betul dapat membantu? Biarlah aku jadi pelayan, biarkan aku melayani, tanganku menjadi kepanjangan Tangan-Nya seperti yang dilakukan lebah, ayam, sapi, maupun padi. Sampai suatu saat sadar ”aku ini siapa?” sekedar alat-Nya? Semua perbuatan Dia, hanya ada Dia. Terima kasih Guru.

Triwidodo, Juli 2007

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone