August 24, 2008

Ketergesaan Manusia di atas Jembatan Banjir Kanal Barat Semarang

Ketergesaan Manusia

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi kurang sepuluh menit. Berbagai merek mobil terjebak dalam kemacetan. Berbagai warna sepeda motor merangkak pelan-pelan. Berbagai suara knalpot dan klakson memeriahkan suasana. Anak-anak berseragam merah putih, biru putih dan abu-abu putih yang semringah memenuhi mobil, motor, bis dan mikrolet. Orang dewasa yang berseragam berbagai instansi, mereka yang berjaket dengan helm di kepala, kelompok yang berbaju dan berdasi serta yang berkaos oblong bercampur baur . Ketergesaan wajah-wajah yang hampir telat masuk kerja dan jelalatannya penglihatan kernet kendaraan umum memantau calon penumpang, ributnya penjaja koran dan peminta-minta menimbulkan atmosfir ketergesaan yang mempengaruhi ratusan otak manusia di sekitarnya. Mengherankan, tidak ada satu pun manusia yang memperhatikan air sungai yang berjalan tenang dan damai. Keriuhan manusia di atas jembatan yang sempit tidak mempengaruhi arus sungai yang tenang dan penuh kedamaian. Semua orang digerakkan oleh kepentingannya masing-masing.

Kegiatan manusia saling menghidupi sesamanya

Manusia keluar pada waktu bersamaan untuk mencari nafkah. Mereka yang sekolah dan kuliah pun juga mempersiapkan diri untuk mencari nafakah. Adanya kendaraan membutuhkan lapangan kerja perakitan kendaraan, pompa bensin, bengkel dan toko onderdil. Pakaian yang warna warni serta asesorisnya menghidupkan supermarket. Semuanya butuh makan dan menghidupkan penyalur kebutuhan pokok dan petani. Peredaran uang membutuhkan bank dan kredit cepat. Masyarakat perlu diatur oleh aparat Pemerintah. Semuanya saling berkaitan dan saling menghidupi.

Sifat alam dan kebutuhan dasar manusia

Alam mempunyai tiga sifat utama: sifat tenang, sifat agresif dan sifat bermalas-malasan. Apabila cahaya pengetahuan sejati nampak dalam diri seseorang, pada waktu itu yang berkuasa adalah sifat pertama. Apabila yang nampak adalah ketamakan, kegelisahan dan aktifitas berkelebihan yang sedang berkuasa adalah sifat kedua. Apabila sifat yang nampak adalah sifat malas, tidak peduli, maka sifat ketigalah yang sedang menguasainya.

Semua manusia mempunyai kebutuhan dasar: makan, minum, seks dan istirahat seperti halnya kebutuhan dasar hewan. Dengan peradaban masyarakat pada saat ini, maka mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Caranya ada yang penuh ketenangan, ada yang penuh ketergesaan dan ada yang bermalas-malasan. Di atas kebutuhan dasar tersebut ada kebutuhan kasih yang telah melampaui logika, telah melampaui pikiran, keinginan untuk memberi, rasa kasih yang tumbuh dari hati nurani.

Badan manusia sebagai wadah diri sejati

Badan manusia ini ibarat wadah, dan diri sejati adalah yang bersemayam di wadah tersebut. Unsur-unsur alam seperti tanah, air, angin, api dan ruang; rasa angkuh, intelek, kahayalan, pikiran serta indera manusia; keinginan, kebencian, rasa suka dan duka, intelejensia, keteguhan hati dengan segala variasinya adalah wadah. Wadah memang mempunyai sifat alami yang menggerakkannya, sifat tenang, sifat agresif dan sifat bermalas-malasan. Akan tetapi, diri sejati adalah yang bersemayam pada wadah tersebut. Selama ini yang menjadi identitas kita adalah wadah kita, bukan diri sejati kita. Badan dan indera kita berasal dari alam. Pengalaman suka dan duka disebabkan diri yang berhubungan dengan alam. Dan selama masih hidup, kita berhubungan dengan alam. Dan, kita akan terpengaruh sifat alam yang tenang, agresif atau bermalas-malasan yang kadarnya berbeda-beda untuk setiap orang. Apabila kita diajari moralitas akan tetapi belum sadar tentang tiga sifat alami yang mempengaruhi kita, maka hasilnya adalah kekacauan. Apabila manusia sudah sadar, ia akan melihat ketiga sifat tersebut berasal dari alam dan menyadari diri sejatinya melampaui sifat-sifat tersebut.

Ciri-ciri seseorang yang telah melampaui ketiga sifat tersebut adalah: Ia tidak membenci sesuatu, dan tidak pula merindukan sesuatu. Ia tetap teguh dan tidak tergoyahkan oleh sifat-sifat alami. Ia menganggap sama suka dan duka, emas dan batu. Ia tidak terpengaruh oleh cacian dan pujian, dan sama terhadap kawan dan lawan. Ia menjadikan hidupnya sebagai pengabdian dalam kasih dan untuk kasih. Demikian Sri Krishna menjelaskan tentang sifat alam kepada Arjuna. Terima kasih Guru.

Triwidodo.

Agustus 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone