September 28, 2008

Aksara Hanacaraka sebagai Pemandu Spiritual

Prawacana dari makna Aksara Hanacaraka oleh Sultan Paku Buwana IX

Almarhum Pujangga Kraton Surakarta Hadiningrat Raden Ngabei Yasadipura, mengemukakan ajaran Sultan Paku Buwana IX mengenai aksara Hanacaraka dan dimulai dengan tembang kinanthi, yang terjemahan bebasnya sebagai berikut:

Tidak kurang pelajaran; bagi orang tanah Jawa; dalam melakoni kehidupan; Apabila mau melakoni; makna aksara Jawa; dianggap sebagai Guru Sejati.

Makna huruf

Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci

Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candra - Harapan manusia hanya selalu ke sinar Ilahi

Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi - satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal

Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejatiku muncul dari cinta kasih

Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana – hasratku memperindah alam semesta

Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – hidup memang demikian adanya

Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – holistik: mendasar, total, tepat, teliti dan bermakna

Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – sifatku seperti sifat kasih Tuhan

Wa Wujud hana tan kena kinira – wujud ada namun tak bisa diperkirakan

La Lir handaya paseban jati – mengalir semata pada tuntunan Ilahi

Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah

Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – akhirnya di atas awalnya di bawah

Ja Jumbuhing kawula lan Gusti - menyatu dengan Tuhan

Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas kodrat Ilahi

Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – nyata tanpa indera, paham tanpa diajari

Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin, mantap dalam berbhakti pada Ilahi

Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru sejati

Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam

Tha Tukul saka niat – dimulai dari niat

Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan ego manusia

Penjelasan Bhagavad Gita

Buku Jnana Vahini sebagai penjelasan dari Bhagavad Gita menguraikan hal berikut:

Maya, ilusi mempunyai kekuatan untuk:

1. menyembunyikan sifat dasar yang sejati dan

2. menimbulkan kesan yang keliru sehingga yang tidak nyata tampak sebagai nyata.

Kedua hal tersebut membuat Brahman yang tunggal dan esa tampak sebagai: jiwa, Iswara (Tuhan), dan alam semesta; tiga hal yang sesungguhnya hanya satu! Kemampuan maya terpendam, tetapi bila menjadi nyata, ia akan mengambil wujud manas, pikiran. Pada waktu itulah benih pohon yang besar (yaitu alam semesta) mulai bertunas, menumbuhkan daun dorongan mental (vasana) dan kesimpulan mental (sankalpa). Jadi, seluruh dunia objektif ini hanya berkembang biak dari manas. Maya, ilusilah yang menimbulkan khayal adanya jiwa, Iswara (Tuhan), dan alam semesta.

Dalam keadaan jaga dan mimpi ketiga hal ini tampak seakan-akan nyata. Tetapi pada waktu tidur lelap atau pada waktu tidak sadar (misalnya ketika pingsan), manas tidak bekerja dan karena itu ketiga hal tersebut tidak ada! Fakta ini dialami oleh semua orang. Karena itu dapat dipahami bahwa ketiga hal ini (jiwa, Iswara dan alam semesta) akan lenyap selama-lamanya bila proses mental dimusnahkan melalui jnana, keberadaan pengetahuan sejati. Kemudian manusia akan terlepas dari perbudakan pada ketiga hal ini dan mengetahui eksistensi yang esa dan satu-satunya. Sesungguhnya ia menetap dalam advaitha jnana, Keadaan Yang Esa. Hanya jnana yang diperoleh dengan menganalisis proses mentallah yang dapat mengakhiri maya. Vidya ‘pengetahuan atau penerangan batin’ melenyapkan maya. Segera setelah maya dihancurkan oleh vidya, vidya pun berakhir. Pepohonan-maya dan api-vidya semuanya musnah bila api telah menyelesaikan pekerjaannya. Jnana adalah hasil akhir, dicapainya kekosongan, keseimbangan, dan kedamaian yang sempurna.

Sebuah pandangan pribadi

Makna huruf Aksara Jawa ajaran Sultan Paku Buwana IX di atas adalah Vidya, atau pengetahuan batin untuk melenyapkan maya, ilusi yang telah membuat jiwa, Iswara dan alam semesta nampak terpisah. Makna huruf Aksara Jawa tersebut merupakan laku, pemahaman yang diwujudkan dalam tindakan luar sehari-hari dan afirmasi, mantra, keyakinan yang diresapkan ke dalam bawah sadar untuk merubah diri dari dalam, menuju jumbuhing kawula-Gusti, penyatuan, yoga.

Ha-Na-Ca-Ra-Ka, ada Utusan, yang berwujud pengetahuan sejati, Vidya. Da-Ta-Sa-Wa-La, Utusan yang jujur, tidak berdusta, tidak pernah mengelak, penerang, cahaya Ilahi. Pa-Dha-Ja-Ya-Nya, pada saat manusia, si penerima utusan meningkatkan kesadarannya melalui vidya dan mencapai tingkat yang sama dengan Pengutusnya, Kesadaran Murni. Terjadilah Jnana, Jumbuh kawula Gusti, persatuan antara hamba dengan Kesadaran Murni. Ma-Ga-Ba-Tha-Nga, manas, ego telah menjadi jasad. Diri telah bersatu dengan Kesadaran Murni. Manusia asal katanya dari manas (pikiran) dan Isha (Yang Tunggal), ketika manas ditaklukkan tinggallah Yang Tunggal. La Illa ha Illallah. Tidak ada yang lain selain Allah.

Triwidodo

September 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone