September 3, 2008

Ketika lembaga pengadilan tidak lagi dihargai oleh para preman

Pengalaman sidang 28 Agustus 2008

Sudah begitu rendahkah wibawa pemerintah sehingga suatu organisasi masyarakat atas nama pembela agama seharusnya memberikan kesan damai menginjak-injak kehormatan lembaga peradilan? Itulah yg diperbuat oleh para pendukung FPI yg berperilaku benar-benar brutal. Mengapa saya katakan demikian? Ini memang pengalaman nyata pada saat saya menghadiri sidang pengadilan tgl 28 Agustus 2008 di pengadilan tinggi Jakarta Pusat.

Ketika itu jam masih menunjukkan pukul 08.30 pagi. Saya sudah hadir di pengadilan Jakarta Pusat untuk menghadiri sidang tuntutan terdakwa Riziek Shihab, ketua FPI. Pada saat itu hampir semua kursi sudah diduduki oleh para simpatisan AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). Kira2 jam 9.30 lebih tiba-tiba masuk 2 atau 3 orang wanita berjilbab yang mengaku sebagai keluarga Riziek Shihab. Dengan kata-kata yg kasar dan lantang menuntut diberi tempat duduk. Tentu saja tidak ada yang bersedia memberikan tempat duduknya, karena kami semua hadir terlebih dahulu. Sidang adalah ruang terbuka untuk umum dan tidak seorangpun dikatakan istimewa serta diberikan perlakuan khusus, walaupun bagi keluarga terdakwa. Para wanita yg berwajah ke-arab-araban ini mengaku sebagai keluarga Riziek Shihab menuntut duduk di depan sendiri yaitu kursi yang telah kami, saya dan beberapa kawan, tempati sejak tempat pintu ruang persidangan dibuka. Tentu yang berlaku adalah siapa datang dulu,dia yang dapat tempat duduk. Inikah perilaku para penganut agama Islam yg katanya para pembela Islam? Gerombolan ini sungguh-sungguh memalukan umat Islam. Perilaku yang keras dan kasar membuat telah memberikan kesan kekerasan terhadap agama yang dibelanya. Sesungguhnya Islam adalah agama yg damai dan mendamaikan serta anti kekerasan.

Kursi yang saya tempati dengan beberapa teman dengan paksa diambil alih, seolah mereka penguasa kantor pengadilan. Kemudian terjadilah keributan kecil, dengan kasar mereka berteriak bahwa sidang tidak perlu dilanjutkan, mereka benar-benar pembuat onar yang sampai serombongan polisi datang untuk mengamankan.

Bahkan lucunya gerombolan ini akan memperlakukan ruang pengadilan seperti masjid. Tempat duduk laki-laki dan perempuan terpisah. Ini kan bukan wilayah arab? Kenapa mereka berperilaku seakan-akan dinegara asalnya. Lembaga pengadilan tersebut berada di Indonesia yang tidak mengenal kebiasaan untuk memisahkan tempat duduk pria dan wanita. Peristiwa yang lebih memalukan sebagai umat muslim adalah perilaku pelecehan terhadap seorang wanita.

Kebetulan saya duduk berdampingan dengan seorang teman wanita. Seorang perempuan berwajah kearab-araban dengan paksa mengambil alih tempat duduk paling depan, dimana saya duduk. Saya dan teman wanita tetap tidak mau berdiri karena kami merasa punya hak yang sama. Wanita berwajah arab tersebut dengan kasar mendorong dan menyikut teman wanita di samping saya. Karena kami tetap diam tanpa bergeming, mereka semakin marah. Kemudian datang seorang berjenggot putih berbaju gamis putih ke arah teman wanita di samping saya dan dengan paksa menariknya agar duduknya sehingga bisa ditempati para wanita yang mengaku keluarga Riziek Shihab. Tentu saja hal ini tidak selayaknya terjadi. Begitu kasar perilaku orang yang mengaku pembela Islam. Tingkah laku gerombolan ini sudah benar2 merupakan penodaan bagi para pengikut Islam yg cinta damai dan anti kekerasan. Saya ingat sebuah hadits nabi yang membahas tentang siapa yang lebih pantas dihormati. Kemudian Sang Nabi menjawab, ibumu tiga kali berturut-turut. Tentu saja bukan secara harfiah ibu, tapi lebih umum diartikan sebagai wanita.

Ternyata tidak hanya sekedar menarik, mereka menjambak rambut dan memukul kepala bagian belakang wanita yang duduk di samping saya tadi. Mungkin karena kesalnya, teman wanita ini berteriak dan berkata bahwa tidaklah mengherankan kalau Islam dianggap teroris karena perilaku kasar dan brutal seperti inilah yang sama sekali tidak menunjukan etika islami, santun dan kasih serta lembut.

Rupanya peristiwa tidak berhenti sampai disitu. Wanita yg mengaku sebagai keluarga Riziek Shihab menyebar fitnah dengan menuduh bahwa teman wanita yang duduk di samping saya berkata bahwa FPI teroris. Saya baru sadar sekarang rupanya inilah modus operandi gerombolan ini selama ini. Pertama mereka yang bertindak kasar dengan sengaja, dengan teriakan kafir dan kata-kata serta perbuatan kasar setelah itu mereka berbalik menuduh kita sebagai provokator. Dengan dalih ini mereka kemudian mereka menyerang. Kemudian mereka dengan arogan berkata bahwa kita telah memprovokasi, sungguh licik dan pengecut.

Hal lain yang menarik untuk dicermati adalah ketika terdapat seorang advokat pembela para korban penyerangan 1 Juni 2008 oleh FPI berusaha melerai. Ia seorang Kristiani, tentu saja tidak sholat. Sungguh memalukan ketika mendengar ucapan beberapa orang dari gerombolan ini berteriak : Kafir!!

Dalam hati saya muncul sebuah pertanyaan, Sesunggunya mereka itu faham atau tidak arti kata2 kafir? Kafir berasal dr kata khufur yg berarti hatinya tertutup. Apabila seorang Kristen percaya pada keberadaan Tuhan apakah pantas disebut kafir? Apakah bukan sebaliknya mereka yang meneriakkan takbir dengan keras kemudian dengan kasar memperlakukan seorang wanita juga mengusir orang2 yang bisa duduk karena datang lebih awal lebih pantas disebut kafir. Karena hati merekalah sesungguhnya sudah tertutup dengan nafsu amarah dan kebencian?

Kafir atau tdk ditunjukkan dalam perilaku perbuatan bukan karena orang tidak sholat kemudian dengan gampang diberikan label kafir. Menarik dari pengalaman ini sesungguhnya saya baru sadar bahwa mereka yang simpatik terhadap gerombolan ini adalah orang2 yang tidak memahami apa Islam sesungguhnya. mereka hanyalah orang yang kurang pendalam terhadap Islam yang rahmatan lilalamin dan yang pasti adalah bahwa mereka hidup dalam ketakutan.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone