September 22, 2008

Konspirasi Negara Adidaya Tentang Vaksin Flu Burung

Ketika Pakdhe Jarkoni pulang dari olah raga jalan pagi menuju rumah, sesampai di depan Puskesmas, nampak Dr. Joko sedang santai selesai menyirami tanaman. Kebetulan ada hal yang ingin ditanyakan kepada Pak Dokter, maka Pakdhe mampir sebentar.

Dokter Joko: Jalan-jalan Pakdhe, biar sehat dan panjang umur, kelihatannya Pakdhe awet muda saja.

Pakdhe Jarkoni: Terima kasih Pak Dokter, biar darahnya lancar. Pak Dokter, kami membaca koran tentang Menteri Kesehatan yang mempermasalahkan virus Flu Burung. Apakah negara kita sudah dapat membuat vaksin sendiri?

Dokter Joko: Memang betul Pakdhe hanya negara maju yang bisa membuat vaksin, tetapi ya jangan membodohi negara kita. Dengan menguasai teknologi, modal dan kemampuan dianggap sah merampas Sumber Daya Alam. Memang mereka mempunyai Intellect Property Right, Hak Penemuan Intelektual.

Pakdhe Jarkoni: Seharusnya ada Natural Source Property Right, Hak dari tempat penemuan Sumber Daya Alam, begitu Pak Dokter?

Dokter Joko: Iya Pakdhe. Kita disuruh WHO mengirim virus Flu Burung. Virus Flu Burung di Indonesia termasuk virus paling ganas di dunia. Tetapi ujung-ujungnya dikomersilkan. Virus itu bisa berada di Los Alamos, itu tempat senjata atom dibuat. Negara kita dapat apa? Kita ditawari vaksinnya. Kalau tidak sanggup membeli, kita akan diberi pinjaman.

Pakdhe Jarkoni: Untung Ibu Menteri cepat sadar ya Pak Dokter. Mereka telah berkonspirasi menyengsarakan negara miskin, bahkan menyengsarakan umat manusia. Semoga mereka sadar, setiap pikiran, ucapan dan tindakan harus dipertanggungjawabkan pada saatnya nanti. Alam mempunyai Hukum Sebab-Akibat. Gusti Allah ora Sare, Tuhan tidak tidur.

Dokter Joko: Betul Pakdhe, pemimpin-pemimpin kita harus cepat sadar, jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Mereka harus bertanggung jawab kepada Tanah Air. Mungkin mereka mengira selama hidup mereka mandiri, tidak merugikan orang lain, dan melakukan ibadah….. sudah cukup. Dengarkan Tanah Air yang berbicara: “Orang ini menganggap tindakannya baik, tetapi walau dia sudah paham bahwa negara tempat kelahirannya dianiaya semena-mena, dia diam seribu bahasa. Tanah Air mohon keadilan Gusti!!”

Triwidodo, September 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone