September 14, 2008

Rasa Malu, masih adakah itu?

Teringat akan kata-kata Guru sekolah saya dulu, “rasa malu adalah salah satu bentuk peningkatkan prestasi dan menggali potensi diri”, kok bisa? kalimat beliau terkesan sangat kontradiktif dengan keadaan sekarang yang sebagaimana sering dikatakan oleh para motivator bahwa kita harus “percaya diri”, ya sengaja saya beri tanda petik karena percaya diri yang dimaksud disini lebih cenderung untuk menawarkan sesuatu, entah diri sendiri atau produk tertentu. Kembali lagi kepada kalimat guru saya tersebut, karena kebetulan beliau berlatar belakang Jawa, rasa malu yang dimaksud disini lebih menekankan kepada kita untuk jujur pada diri sendiri, berdamai dengan segala macam bentuk arogansi sehingga yang keluar dari diri adalah karya-karya kreatif yang penuh dengan nilai-nilai sopan dan santun.

Saya juga teringat kalimat yang sering diulang oleh Ibu saya yang kebetulan Orang Bali, kata “matilesan raga”(tahu diri) adalah salah satu dari eksprsi rasa malu tersebut, tentu malu yang dimaksud disini bukanlah “malu-malu kucing” yang jika ada kesempatan akan menjarah habis apa yang ada.

Beberapa waktu lalu media diributkan oleh masalah baju khusus yang akan digunakan untuk para koruptor, ini adalah salah satu bentuk pembelajaran kepada para pelaku dan masyarakat luas agar terjadi hukuman sosial sehingga ada rasa malu para pelaku terhadap sekitarnya karena tindakannya yang keliru telah diketahui.

Lunturnya rasa malu telah menyebabkan banyak ketidakselarasan di masyarakat, sebagaimana pernah saya alami seorang Bupati yang kebetulan perempuan di daerah paling utara Indonesia meminta sejumlah uang dengan pongahnya, sebagai konpensasi terhadap surat ijin pekerjaan di wilayah kecamatan tersebut sebagai mana yang beliau bilang “untuk uang pulsa”, Ibu Bupati mewakili dari sekian liku-liku birokrasi yang telah tebal muka, menanggalkan rasa malu dan mengorbankan nilai-nilai kejujuran diri, yang pada kenyataannya sering kita hadapi di sekitar kita, ujung dari semua adalah merugikan orang lain hanya untuk kepentingan pribadi.

Ketiadaan rasa malu juga telah menyebabkan segelintir orang merasa begitu arogan mewakili institusi agama tertentu, dengan membawa-bawa nama seluruh umat untuk mencapai tujuannya, padahal pada kenyataanya mereka hanyalah segelintir orang yang beromong besar. Selanjutnya pertanyaan saya adalah bagaimana jika segelintir orang ini melakukan tindakan yang memalukan? Semisal melakukan tindakan kekerasan termasuk di institusi peradilan, yang adalah bertentangan dengan nilai-nilai Agama dan kemanusiaan. Adakah mereka benar melakukan tindakan itu untuk mewakili seluruh umat? Atau jika mereka hanya segelintir orang saja, dimana suara kelompok yang lebih besar, apakah mereka mengiyakan begitu saja telah diwakili oleh segelintir orang ini? Dan merestui mereka untuk membela umat dibaris depan (front) dengan cara-cara kekerasan?

Hilangnya rasa malu juga telah menarik individu-individu yang sama untuk menjadi team pembela atas tindakan mereka yang sangat memalukan itu, sama-sama tidak punya malu.

Pertanyaan yang sama, adakah kita merasa dibela oleh mereka? yang notabene agamanya sama dengan kita di KTP karena urusan mereka adalah membela umat.

Adakah keberanian kita yang muncul untuk bersuara bahwa mereka tidak mewakili kita?

“Saya secara pribadi sangat merasa malu menyaksikan penggunaan cara-cara kekerasan atas nama institusi agama tertentu, atas nama pembelaan tehadap agama, saya sangat tidak setuju dengan mereka dan saya merasa tidak diwakili oleh segelintir orang tersebut. Dan jika kelak akhirnya tindakan kekerasan mereka direstui oleh lembaga peradilan dengan cara membebaskan mereka maka saya segera akan mengosongkan kolom agama di KTP, karena tidakan mereka tidak mewakili agama saya, dan saya tidak rela disamakan dengan mereka, karena saya malu!”, demikian kata sahabat dekat saya, dan saya salut akan keberaniannya bersuara.

Rasa malu yang sama yg saya rasakan ketika melihat keadaan bangsa yang semakin mengarah pada perpecahan, malu karena leluhur kita telah mewariskan segala macam kebijaksanaan dan tata cara mengelola negeri tapi kita malah mau menggantinya dengan faham dan metode orang lain, daerah lain entah arab, india, eropa, amerika, yang belum tentu sesuai dengan gerak sosial dan alam nusantara.

Rasa malu, karena tidak mampu mengelola alam yang begitu kaya dan indah ini yang telah Tuhan anugrahkan kepada kita.

Rasa malu jika menyaksikan ketidakadilan dan kita hanya diam membisu,

Rasa malu jika ibu pertiwi diperkosa dan kita hanya ikut menyaksikan saja

Rasa malu jika saat ini detik ini tidak bangkit bergerak demi kemanusiaan yang kian hari kian terkalahkan.

Setelah sekian tahun saya baru memahami maksud guru saya di sekolah dahulu, rasa malu yang melahirkan kekuatan untuk mengolah diri sehingga kita bisa bangkit sesuai dengan potensi kita, untuk berjuang bersama demi dunia yang penuh dengan cinta, damai dan hidup yang harmonis “peace, love and harmony”

Rasa malu itu, masih adakah didiri kita?

Salam K.S

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone