October 27, 2008

Cara Mengalahkan Dualisme dalam Wirid Hidayat Jati

Mengalahkan ego

            Ego dapat diibaratkan kumpulan informasi mulai dari bawaan genetik, tambahan informasi dari bayi sampai dengan saat ini. Manusia sering mengidentitaskan dirinya dengan kumpulan informasi ini. Ego pun kadang membingungkan dirinya, catatan-catatan informasi itu sering bertentangan, misalnya: aku ingin menjadi orang yang baik, tetapi rejeki di depan mata walaupun tidak halal akan menyenangkan keluargaku.

Sesungguhnya aku bukan egoku, aku adalah saksi, aku dapat menyaksikan tindakan diriku. Aku dapat memilih. Untuk mengalahkan ego dan menempatkan nurani sebagai pemimpin dapat dipakai banyak cara. Dzikir dipakai untuk melelahkan mind, pikiran sumbernya ego dan meningkatkan nurani. Penyangkalan juga bisa dilakukan, misalnya ini bukan tindakanku, ini semata-mata kekuasaan Tuhan. Pelepasan kemelekatan juga bisa dilakukan, misalnya dengan pemahaman bahwa harta, tahta dan raga ini hanya amanah, titipan dari Yang Maha Kuasa. Berikut ini adalah cara mengalahkan ego dalam Wirid Hidayat Jati, karya Pujangga Ronggo Warsito (1802-1873).

 

Pertama, sempurna niat

            Sempurna niat artinya tidak ada kemauan atau keinginan, keduanya lenyap. Hidup sejati dapat diraih jika seseorang telah menghilangkan keinginan dalam hatinya. Dia tidak memiliki keinginan apa pun lagi.

            Keinginan berarti nafsu berasal dari jiwa. Keinginan yang berasal dari ego manusia cenderung ada pamrih dan tidak ikhlas. Bencana dan permusuhan antar sesama manusia bermula dari keinginan. Hilangnya keinginan tidak berarti meniadakan hasrat untuk melakukan sesuatu. Ia tetap melakukannya atas dasar dorongan nurani. Contoh jika seseorang berbuat baik diikuti keinginan, maka ia telah menyalahi tauhid. Dia tidak menyadari bahwa bahwa perbuatannya bisa terjadi karena kekuasaan Tuhan, bukan karena kekuasaan dirinya. Syekh Siti Jenar tidak mau melakukan sesuatu yang berasal dari kemauan dirinya, apalagi menuruti keinginan orang lain. Niat sempurna tidak perlu diucapkan, cukup didengarkan dari nurani.

            Memiliki keinginan berarti masih memiliki keakuan, padahal tidak ada yang berhak menyandang gelar Aku selain Dzat Tuhan. Manusia tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan sedikit pun. Bahkan dirinya hanya sekedar bayangan Tuhan. Setiap tindakan manusia harus dikembalikan pada-Nya. Ia tidak mempunyai kemampuan sedikit pun kecuali kemampuan Tuhan dalam dirinya.

            Orang yang sudah dapat meniadakan keinginan seperti ini ia sudah bertauhid dengan benar. Tidak lagi mendua. Yakni hanya mengakui kekuasaan Tuhan saja. Dia telah menyatu dalam Wajah Allah.

 

Kedua, sempurna takbir

            Tidak punya penglihatan.  Telah hilang penglihatan hamba yang sesungguhnya, lebur dalam penglihatan Tuhan.

            Jika Tuhan telah jatuh cinta pada hamba-Nya, maka Dia akan menjadi penglihatannya yang dengan penglihatan itu sang hamba melihat. Jika seseorang telah sukses menghilangkan keinginan maka panca inderanya akan suci dari nafsu. Dia tidak lagi memiliki keinginan untuk melihat, mendengar, meraba dan mencium. Dengan demikian, penglihatan, pendengaran, penciuman dan rabaannya lenyap dan diganti dengan penglihatan, pendengaran, penciuman dan rabaan Tuhan.

            Seseorang telah meyakini sepenuhnya bahwa panca indera yang dia gunakan sebagai sarana untuk melakukan pekerjaan itu pada hakikatnya hanyalah pinjaman saja. Ia mengembalikan pada Sang Pemilik sehingga ia tidak lagi merasa kepemilikannya.

 

Ketiga sempurna syahadat

            Tidak memiliki kehendak. Keinginan nafsu yang bersifat spontan. Kehendak,  merupakan dorongan hati yang halus dan terencana. Jika manusia masih memiliki kehendak, berarti ia telah mendua yakni mengakui kehendak dalam dirinya padahal itu berasal dari kehendak Tuhan Yang Satu.

 

Keempat sempurna sekarat

            Istilah mati hanya ilusi, fatamorgana. Raga manusia pada mulanya tidak ada. Ia hanya sel telur yang bertemu sperma. Yang kecil sekali dan tak nampak oleh mata telanjang. Selanjutnya berkembang karena mendapat makanan. Makanan berasal dari ibu, yang berasal dari bumi. Raga bayi ini bersifat bumi yang terdiri dari unsur-unsur alami, tanah, air, api, angin dan ruang. Ketika menemui ajalnya, raga menyatu kembali dengan unsur-unsur alaminya.

            Raga manusia yang terdiri dari unsur-unsur bumi ini tidak memiliki kemampuan apa-apa. Ia menjadi hidup karena mendapatkan roh, sehingga tidak ada istilah mati terhadap raga, karena raga itu awal dan akhirnya tidak hidup. Inilah hakikat kematian.

 

Kelima, sempurna hidup

            Dzat atau Aku inilah yang disebut hidup abadi. Seseorang yang menyatukan diri dalam Dzat akan merasa kekal abadi.

 

Kearifan para leluhur

            Banyak sekali kearifan leluhur yang belum kita gali dan kita malah berkiblat ke luar. Secara genetika DNA para leluhur tersebut melekat pada diri kita. Sudah saatnya kita mengemas kearifan leluhur dan menampilkannya dengan selera saat ini, agar tindakan kita tetap selaras dengan DNA yang kita punyai. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

Oktober 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone