October 12, 2008

Kesesuaian Ajaran Ki Ageng Suryomentaram tentang Kramadangsa dengan Ilmu Modern

Kesederhanaan uraian Ki Ageng Suryomentaram

            Ki Ageng Suryomentaram memulai ajarannya pada tahun 1931, dengan memberikan ceramah tentang “Wejangan Pokok Ilmu Bahagia”. Wejangan dibawakan secara gamblang, logis, mudah ditangkap dan dicerna oleh akal pikiran manusia. Beliau berbicara penuh nalar dan tidak berbicara secara spekulatif.

            Ki Ageng Suryomentaram adalah adik Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Beliau menanggalkan status kebangsawanannya dan hidup sebagai petani biasa di Desa Bringin, Salatiga. Dapat dimengerti masyarakat yang dihadapi Beliau adalah masyarakat petani sederhana yang mudah masuk ke dunia spiritual.

            Ki Ageng menyebut kesadaran manusia yang menganggap dirinya sebagai tukang catat adalah kesadaran dimensi 1 yang hidup seperti tumbuh-tumbuhan, yang tidak dapat bereaksi (bergerak) terhadap tindakan luar yang dilakukan pada dirinya. Manusia mencatat hal-hal di luar diri melalui inderanya dan mencatat hal-hal didalam diri melalui rasanya. Kesadaran dimensi 2, yang seperti hewan adalah kesadaran manusia yang menganggap catatan-catatan (kumpulan informasi) sebagai dirinya. Catatan-catatan yang jumlahnya jutaan ini hidup seperti halnya hewan, kalau diberi makan berupa perhatian akan semakin kuat, kalau tidak diberi perhatian akan mati. Hewan hanya bertindak alami, bereaksi fight or flight, berkelahi atau lari, kalau diri (catatan-catatan) nya diganggu. Kesadaran dimensi 3, yang menganggap Kramadangsa (nama kita sendiri) sebagai diri, yaitu ketika manusia menggunakan pikirannya untuk menanggapi atau bertindak terhadap hal yang berkaitan dengan dirinya. Kesadaran dimensi 4, yaitu manusia yang menyadari bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi Pengawas, Saksi dari setiap kejadian yang dialaminya.  Setelah menyadari bahwa diri ini bukannya kumpulan catatan-catatan dan pikiran, maka manusia menjadi sadar, bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi Saksi, dan manusia tersebut mencapai derajat Manusia Universal yang merasa damai ketika bertemu manusia dan makhluk lainnya.

 

Dari Thoughts ke Mind menuju Ego

            Penjelasan Ki Ageng Suryomentaram tersebut selaras dengan pengertian modern tentang thoughts, anak-anak pikiran yang berkelebatan dalam otak yang dalam sehari mencapai sekitar 60.000 thoughts. Thoughts ini fresh, segar, baru dan pada waktu latihan meditasi, seseorang dapat memperhatikan datang dan perginya thought yang kemudian berganti dengan thought yang lain. Semakin tenang, maka jarak antara thought yang satu dengan yang lain akan semakin lama. Mind,pikiran adalah kristalisasi dari thoughts. Sedangkan ego yang disebut oleh Ki Ageng sebagai Kramadangsa adalah kristalisasi dari mind. Kesalahan identitas yang memandang kombinasi kumpulan informasi (disebut catatan oleh Ki Ageng) dan kemampuan berpikir sebagai diri, membuat terbentuknya ego, yang semakin lama semakin keras dan alot. Apabila identitas tersebut diganggu maka dia akan bereaksi. Kehidupan sederhana masyarakat perdesaan di sekeliling Ki Ageng memudahkan mereka untuk mengenali Kramadangsa, menuju manusia dimensi ke 4, Manusia Universal. Tidak demikian dengan kehidupan masyarakat modern yang sangat kompleks. Apalagi kebanyakan manusia di luar juga beranggapan hal yang sama, yang menganggap ego sebagai dirinya. Maka menaklukkan ego adalah bukan pekerjaan yang mudah.

 

Latihan Seni Memberdaya Diri

            Latihan Seni Memberdaya Diri yang dilakukan di Anand Krishna Center menjelaskan tentang beberapa lapisan kesadaran manusia dan bagaimana cara mengolahnya. Ego manusia itu sudah mengkristal dan sangat susah untuk menyadari bahwa diri manusia itu sebenarnya bukan ego. Peserta latihan Seni Memberdaya Diri akan mengenal kesadaran fisik, kesadaran energi, kesadaran mental-emosional, kesadaran intelegensia dan kesadaran murni. Latihan-latihan Seni Memberdaya Diri akan membuat seseorang rileks dan santai di dalam dirinya, sehingga pikiran menjadi jernih dan lebih efektif dalam bertindak melangkah dalam hidup ini. Dengan melakukannya secara tekun peserta dapat meningkatkan kesadarannya, dari kesadaran hewani, yaitu naluri untuk makan, minum, tidur dan seks menuju kesadaran kasih yang universal.

Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

Oktober 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone