October 12, 2008

Menafikan Ego dengan Mengikuti Bhajan

Menyanyikan bersama lagu spiritual

            Seorang penyanyi dengan suara merdu menyanyikan lagu spiritual dengan diiringi musik sebagai latar belakangnya. Keberadaan musik sebagai pengantar lirik Sang penyanyi, tidak mengganggu suara Sang penyanyi. Lirik Sang Penyanyi begitu jelas terdengar menyentuh kalbu para pendengarnya. Seluruh yang hadir kemudian menirukan lirik Sang Penyanyi Bait demi bait dengan segenap rasa. Kegiatan menyanyi bersama ini disebut bhajan. Bhajan akan terasa lebih berjiwa ketika sang Guru, Murshid mengikuti kegiatan bhajan tersebut.

 

Mempersatukan gelombang pikiran dengan menafikan ego

            Masing-masing peserta yang berpartisipasi mempunyai ego sendiri-sendiri, dan mempersatukan ego tidaklah mudah, bahkan sangat sulit. Musik bersifat universal dan dapat mempersatukan pikiran semua peserta yang berlainan egonya.

Musik dan lirik yang spiritual merasuk diri, dan dapat diterima peserta bhajan dengan terbuka. Penyanyi adalah The Leader, Sang Pemimpin. Sang Pemimpin tidak mengikuti irama musik seperti halnya pada musik karaoke. Para pemain musiklah yang mengikuti nyanyian Sang Pemimpin. Seluruh yang hadir mengulangi lirik lagu Sang Pemimpin dengan nada yang sama. Di situlah para pemain musik dan para peserta bhajan bertindak menafikan ego untuk mengikuti Sang Pemimpin. Penyanyi yang handal diikuti pemain musik yang harmonis dan peserta bhajan yang patuh menghasilkan lagu yang indah dan menyentuh hati. Seandainya pemimpin negara yang handal diikuti para pejabat (pemain musik) yang telah menghilangkan ego pribadi dan warga negara (peserta bhajan) yang patuh dan yakin pada Sang Pemimpin maka kemajuan suatu negara sudahlah pasti diambang mata.

 

Pengaruh musik terhadap manusia

            Pandangan Bapak Anand Krishna tentang musik membuka wacana betapa pentingnya musik bagi kehidupan manusia. Alat musik mempengaruhi otak manusia. Konon ketika ragas, sejenis sitar di India menjadi alat musik utama, masyarakat menjadi terlalu lembut dan dijajah bangsa asing selama 1.000 tahunan. Ketika tabla, sejenis gendang yang dinamis yang berasal dari Persia masuk dan dikombinasikan dengan ragas maka iramanya menjadi lebih dinamis dan dalam waktu kurang dari 400 tahun India merdeka. Memang pengaruh musik terhadap setiap orang tidak sama, akan tetapi musik string, senar, dawai menenangkan 70% pendengarnya. Sedangkan musik drum, gendang memberikan semangat kepada sekitar 70% pendengarnya. Musik sitar, flute, kecapi, suling cocok untuk meditasi sedangkan musik drum, gendang membuat keep awake, terjaga dan bersemangat. Hitler menyenangi lagu-lagi Wagner yang bersemangat. Terasa ada perbedaan pengaruh dari lagu God Save the Queen dari UK dengan Que Sera-Sera dari Amerika Latin. Setelah mendengar musik drum selama 5 menit denyut nadi di tangan terasa cepat, sedangkan setelah mendengarkan musik meditatif selama 5 menit, jumlah detak nadi di pergelangan tangan menurun.         Para Shaman (pemimpin spiritual) di kalangan American Indian menyanyikan mantra dengan suara-suara dan nada-nada tertentu untuk menyembuhkan manusia. Lagu-lagu mars dengan lirik perjuangan disukai Bung Karno karena memberikan semangat. Kadang-kadang terasa bahwa lagu “Kuingat Ibu Pertiwi” sangat menyayat hati dan membuat putus asa. Lirik lagu juga sangat berpengaruh, dapat dirasakan lagu “Makhluk Tuhan yang Paling Seksi” Mulan Jamella dengan lagu “Kembalikan Aku ke Rumah Orang Tuaku” dari Iis Sugianto. Apalagi lagu “Manuk Cocak Rawa”. Pengaruhnya jelas berbeda.

            Musik dapat dapat mempengaruhi kehidupan. Percobaan musik yang diperdengarkan kepada tanaman dengan tanaman yang tidak diberi musik sebagai standar, telah terbukti bahwa musik klasik membuat akar tanaman lebih panjang, sedangkan musik rock membuat akar tanaman lebih pendek. Suara burung dengan frekuensi tinggi yang ditiru teknik sonic bloom membuat stomata, mulut daun membuka lebih lebar, lebih subur dan panen yang lebih baik.

 

Kaitan menyanyi bhajan dengan spiritualitas

            Ego itu sangat alot, liat dan sulit untuk dihancurkan. Ketika merasa terganggu maka dia akan mempertahankan dirinya. Salah satu hal yang dilakukan para Seekers adalah dengan menafikan ego. Itu bukan saya, yang melakukan kebaikan itu bukan saya, not-me, not-me. Salah satu cara yang lain adalah dengan menyanyi dan bertepuk tangan mengikuti Sang pemimpin. Sang Penyanyi pun harus waspada, terus memperhatikan isyarat Murshid atau Guru yang mengetuk-ngetukkan jari atau menggerakkan anggota tubuhnya. Dalam lagu spiritual yang dihayati penuh, maka gelombang pikiran Sang Penyanyi, para Pemusik dan semua yang hadir dapat selaras dengan gelombang Guru dan memberikan pengaruh yang luar biasa dalam meningkatkan kesadaran seseorang. Sebaliknya, seorang peserta bhajan yang tidak sinkron atau tidak selaras dengan grup akan sangat terasa, dan merusakkan suasana. Bhajan menghaluskan rasa. Keindahan terdapat dalam rasa. Dan Tuhan lebih dekat dengan rasa. Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

Oktober 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone