October 29, 2008

Syekh Puji, poligami dan poliandri di Indonesia, sesuai atau tidak?

Malam sudah mulai larut, Pakdhe Jarkoni masih membaca buku Stamford Raffles, History of Java, ketika keponakannya Wisnu menghampiri membawakan secangkir teh manis kental. Dan terjadilah dialog diantara mereka.

 

Wisnu: Pakdhe bagaimana pandangan Pakdhe tentang tindakan Syekh Puji yang berasal dari daerah Jambu, Kabupaten Semarang yang mengawini perawan kencur 12 tahun?

 

Pakdhe Jarkoni: Pakdhe akan cerita dulu, sepenggal cerita Guru di salah satu kuliahnya. Drupadi itu di India istri dari kelima Pandawa, di Indonesia diceritakan hanya merupakan istri Yudistira. Aa Gym, dai kondang favorit pakdhe kawin lagi, kalau itu terjadi di Timur Tengah merupakan hal yang lumrah, di sini kepopulerannya menjadi menurun. Artinya apa? Budaya kita menolak kebiasaan asing walaupun tidak disalahkan syarak. Poliandri dan poligami tidak sesuai dengan jatidiri kita.

 

Wisnu: Pakdhe pernah cerita, DNA kita merupakan genetik dari leluhur yang sudah berbudaya bahkan sebelum zaman keemasan Sriwijaya dan Majapahit. Dan DNA tersebut masih mengalir dalam diri kita. Agama diterima dengan tangan terbuka oleh leluhur-leluhur kita, tetapi kebudayaan yang menyertainya disaring dahulu. Makanan yang kita cerna yang berasal dari bumi Nusantara turut mempengaruhi DNA dan jatidiri kita. Bahkan bumbu masakan pun khas kita, yang berbeda dengan bangsa lainnya.

 

Pakdhe Jarkoni: Betul, saya bangga dengan mahasiswa seperti Wisnu, yang sadar tentang kebudayaan sendiri. Lihat sejarah kemerdekaan kita. Partai-partai saat itu ala Indonesia. Bukan Partai Komunis Marxisme, tetapi Partai Komunis Indonesia. Partai Sarikat Islam Indonesia, Bukan Gereja Katolik Roma tetapi Gereja Katolik Indonesia. Mereka semua punya pendapat sendiri-sendiri, tetapi Visi Misi mereka tetap Bangsa Indonesia, wilayahnya dari Sabang sampai Merauke yang  berbahasa satu, berbangsa satu, bertanah air satu yaitu Indonesia.

 

Wisnu: Pengaruh globalisasi, food, fashion, fun, makanan, mode dan hiburan global mempengaruhi bangsa kita. Tetapi bangsa Jepang tetap punya kekhasan sendiri, Bangsa India tetap punya Bollywood. Bangsa Korea juga demikian. Saya ingin bangsa Indonesia sadar tentang jatidirinya dan tidak ikut budaya yang tidak sesuai dengan sifat bawaan DNAnya.

 

Pakdhe Jarkoni: Para pemimpin kita terlalu memikirkan kemapanannya, berjuang demi ambisi diri dan kelompoknya. Mereka berkompromi demi mencapai atau mempertahankan kemapanannya. Mereka telah lupa jatidirinya. Budaya kita, jatidiri kita dan Pancasila adalah saripati budaya kita. Ego, cara memandang boleh berbeda sesuai pahamnya, tetapi Visi Misi tetap Indonesia Jaya, yang khas, yang beranekaragam, Bhinneka Tunggal Ika.

 

Wisnu: Pakdhe kembali ke Syekh Puji?

 

Pakdhe Jarkoni: Pada masa itu perkawinan antar kafilah memegang peranan penting bagi persatuan karena telah mengangkat mereka sebagai saudara. Perhatikan isteri-isteri Kanjeng Nabi, dari Kafilah mana, itu semua demi persatuan bangsa. Kalau mau meniru Kanjeng Nabi ikuti semua keteladanannya. Memang yang paling gampang mengikuti perkawinannya. Golek penake dhewe, cari enaknya saja!

 

Triwidodo

Oktober 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone