November 19, 2008

Budaya Sebagai Alat Pemersatu

Malam semakin larut tetapi pakdhe Jarkoni masih asyik berdiskusi dengan Wisnu, keponakannya seorang aktifis mahasiswa.

 

Pakdhe Jarkoni: Budaya memberi ciri khas pada suatu bangsa. Beda bangsa kita dengan bangsa lain terletak dalam perbedaan budayanya. Budaya adalah unggulan-unggulan dari adat kebiasaan yang bersifat luhur dan universal dari suatu bangsa.

 

Wisnu: Maksud Pakdhe, perbedaan adat atau kebiasaanlah yang sering membuat friksi dan budayalah yang mempersatukan suatu bangsa?

 

Pakdhe Jarkoni: Betul, adat adalah kebiasaan-kebiasaan yang mungkin saja pada masa itu baik, sedang sekarang tidak sesuai lagi. Misalkan adat adu jago, adat main kartu pada waktu malam hari sebelum penguburan jenazah. Adat yang menjadi unggulan yang bersifat luhur adalah budaya. Para founding fathers mengumpulkan unggulan-unggulan dari setiap daerah, maka terkumpulah 5 butir Pancasila. Ada juga unggulan-unggulan lain dari setiap daerah tetapi yang bersifat mencakup seluruh wilayah Nusantara adalah 5 butir Pancasila.

 

Wisnu: Baiklah pakdhe, kami bisa menerima bahwa unggulan adat dari setiap daerah di Nusantara, yang bersifat universal yaitu Pancasila. Bagaimana dengan agama? Bukankah agama pada prakteknya ingin membenarkan pandangan dan keunggulannya sendiri?

 

Pakdhe Jarkoni: Agama jelas bukan adat, akan tetapi kita dapat juga mencari unggulan-unggulan dari setiap agama, yang semuanya pasti dianggap unggul oleh penganut agama masing-masing. Walaupun demikian ada juga unggulan yang bersifat universal, misalnya penerapan kasih dan penggunaan hati nurani. Bukankah sila-sila dalam 5 butir Pancasila tidak bertentangan dengan semua agama. Bukankah para founding fathers mempunyai kejeniusan yang tinggi untuk mempersatukan Nusantara dengan menggunakan budaya yaitu budaya Pancasila?

 

Wisnu: Pakdhe, masalahnya sering ada kaitannya antara agama dan politik. Bila agama berada dalam dominasi politik, maka agama sangat mudah diselewengkan, agama bukan lagi sebagai kekuatan pembebas dari berbagai penindasan dan ketidak adilan. Bahkan agama akan berkembang menjadi kekuatan yang menindas dan kejam.

 

Pakdhe Jarkoni: Adalah kewajiban moral agama untuk ikut memandu politik agar tidak berkembang kepada hal-hal yang bisa membahayakan kehidupan. Agar agama dapat menjalankan peran moral tersebut, maka agama harus dapat mengatasi politik, bukan terlibat langsung ke dalam politik praktis. Karena bila agama berada di dalam kooptasi politik, maka agama akan kehilangan kekuatan moralnya. Agama harus mampu mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menekan kehidupan dan menyimpang dari batas-batas moral dan etika agama, masyarakat, dan hukum. Sudahlah Wisnu, kembali pada kearifan lokal, jadikan Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa.

 

Wisnu: Betul pakdhe, saya mempertanyakan para pemimpin yang menomorduakan kepentingan persatuan bangsa Indonesia, untuk kepentingan politiknya.

 

Triwidodo

November 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone