November 4, 2008

Kebebasan dengan Melampaui Belenggu Pikiran

Lebih baik hidup sehari sebagai manusia bebas dan tak terbelenggu oleh adat istiadat yang sudah kadaluarsa daripada hidup seribu tahun dengan jiwa terbebani olehnya. (SMS Wisdom, Anand Krishna)

Bagian-bagian kehidupan
Ada 5 bagian kehidupan tertera dalam Buku Ah, Hridaya Sutra Bagi Orang Modern, Gramedia 2000, karya Bapak Anand Krishna, yaitu: 1. roopa skandha, segala sesuatu yang memiliki wujud; 2. vedaana skandha, perasaan yaitu senang, tidak senang dan cuek; 3. sangyaa skandha, sikap menghubung-hubungkan; 4. samskaar skandha, pikiran dan keinginan; 5. vigyaan skandha, pengetahuan dan kemampuan memilah.
Kelima bagian kehidupan masih bermakna, jika seseorang masih dikuasai mind, pikiran. Pada waktu seseorang dalam keadaan tidur pulas, untuk sesaat dia terbebaskan dari mind – dan terbebaskan pula dari wujud, rasa, persepsi, pikiran dan kesadaran untuk memilah. Ini pula yang terjadi dalam alam meditasi, keadaan tidur pula tetapi dengan penuh kesadaran. Suka dan duka, dua-duanya bersifat relatif. Penderitaan disebabkan oleh pikiran. Kebahagiaan juga disebabkan oleh pikiran. Semuanya adalah produk pikiran. Pada saat seseorang telah melampaui pikiran, seorang melihat bahwa wujud, rasa, keterkaitan atau persepsi, keinginan bahkan kesadaran untuk memilah sesungguhnya tidak ada.

Belenggu pikiran
Menurut Bapak Anand Krishna, berlapis-lapis pikiran mengurungi seseorang. Tetapi ada 3 lapisan utama :
1 Lapisan pertama, adalah yang diwarisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga seseorang masih harus lahir kembali.
2 Lapisan kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran saat ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru.
3 Lapisan ketiga adalah yang diperoleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok seseorang – semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini.
Lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Buddha sedang mengundang untuk membebaskan diri dari kurungan. Tetapi seseorang ragu-ragu. Di dalam kurungan, hidup sudah cukup secure. Cukup terjamin. Gusti Yesus sangat persuasif. Kanjeng Nabi Muhammad sangat lembut. Mereka memberikan gambaran “surga”. Mereka ingin manusia bebas dari kurungan. Untuk menerima undangan seorang Master, seseorang haruslah menjadi pemberani. Berani loncat keluar dari kurungan.
Buddha tidak berkepentingan dengan “agama” Buddha. Yang Ia dirikan, yang Ia bentuk adalah sebuah sangha – paguyuban. Perkumpulan para calon Buddha. Vihara berarti “jalan-jalan” – berjalan. Seorang Buddha tidak pernah statis, tidak pernah berhenti di suatu tempat. Karena itu Ia tidak pernah basi. Ia mengalir terus mengikuti arus kehidupan, arus keberadaan, arus kenyataan.
Tetapi setelah mereka tidak ada dan ajaran mereka dilembagakan, dijadikan agama, tidak ada lagi yang memperhatikan kebebasan jiwa manusia. Mereka menciptakan kurungan-kurungan baru.

Melampaui belenggu pikiran
Cara mendapatkan kebebasan hanya satu : pikiran harus dilampaui. Selama ini manusia mendandani pikiran. Memperbaiki pola pikir dengan cara berpikir positif, mengendalikan pikiran dengan cara menekan keinginan-keinginan – semuanya tidak berguna. Selama ini, manusia sibuk memperbaiki kondisi dalam sel tahanan. Para napi diberi makanan yang bergizi. Selnya dibuat lebih nyaman. Tetapi yang namanya tahanan masih tetap tahanan juga. Para Buddha, para Avataar, para Nabi, para Mesias tidak berkepentingan dengan kondisi dalam sel tahanan. Mereka berkepentingan dengan kebebasan para tahanan. Manusia takut keluar dari comfort zone, wilayah kenyamanan. Bapak Anand Krishna berkata: Keberanian adalah sifat dasar manusia. Para pengecut mengkhianati sifat mereka sendiri, maka mereka tidak pernah bahagia. Pilihan di tanganmu, mau jadi pemberani atau pengecut.

Triwidodo
Oktober 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone