November 25, 2008

Pagelaran Wayang Sebagai Model Pemicu Peningkatan Kesadaran

Pelajaran dari model fisik, model perilaku dan model pemicu peningkatan kesadaran

Sungai Bengawan Solo sering terjadi banjir, oleh karena itu pemerintah merencanakan pembangunan sudetan sungai baru di Desa Babat, Lamongan menuju ke laut, agar dapat mengurangi besarnya banjir. Dalam perencanaannya, sebuah perhitungan teknis saja tidak cukup, karena banyak faktor lapangan yang sulit disederhanakan. Oleh karena itu para pakar membuat model penelitian fisik di laboratorium dengan membuat model Sungai Bengawan solo dengan skala dimensi yang lebih kecil. Pada model tersebut dibuat sudetan dan dicoba dengan simulasi beberapa besaran debit banjir. Hasil penelitian menggunakan model tersebut lebih dapat mewakili kenyataan yang terjadi di lapangan dari pada perhitungan teknis semata.

Para pakar perilaku ingin mengetahui apakah kondisi lingkungan tertentu dapat mempengaruhi moral seseorang. Satu kelas mahasiswa di Universitas Washington melakukan simulasi model perilaku selama dua minggu. Separuh mahasiswa menjadi sipir, penjaga penjara sedangkan separuhnya lagi menjadi narapidana. Belum sampai satu minggu simulasi dihentikan, karena perilaku para sipir sangat keterlaluan, semakin semena-mena, sedangkan para narapidana semakin hari semakin tertekan, depresi berat. Ternyata lingkungan kerja mempengaruhi perilaku. Ini merupakan contoh model penelitian perilaku.

Para Murshid kaum Sufi menggunakan banyak cerita untuk memicu kesadaran para murid. Para ibu di Nusantara mendidik putra-putrinya yang masih kecil dengan dongeng Kancil dan lain sebagainya. Para leluhur kita menggunakan cerita wayang untuk memicu peningkatan kesadaran. Dongeng atau sebuah nyanyian mudah merasuk, diterima pikiran, tanpa pertahanan diri yang berarti. Selanjutnya, agar dongeng tersebut dapat lebih efektif, maka ditampilkanlah pagelaran wayang kulit dengan dalang, wayang, gamelan, sinden yang memikat.

            Sebagai wahana yang dapat memicu kesadaran, wayang perlu dipahami dengan rasa bukan hanya logika semata. Bagaimana leluhur kita menggambarkan kemahakuasaan Bathara Guru sehingga dilukiskan bertangan empat. Bagaimana Krishna dapat mengangkat bukit Gowardhana dan Bhima yang amat besar masuk ke dalam telinga Dewa Ruci. Untuk menggambarkan kekuasaan alam dari air, api, angin dan lain-lainnya, digambarkan sebagai Bathara Baruna, Bathara Brama, Bathara Bayu dan seterusnya. Kalau Tuhan disebut dengan banyak nama, maka nama-nama tersebut tersebut oleh leluhur kita digambarkan sebagai Dewa. Sehingga Dewa adalah wujud kekuatan Tuhan.

Seseorang yang belum halus rasanya dan terlalu menggunakan logika dari otak kirinya, sulit menerima hal-hal yang berada di luar logika. Padahal manusia yang utuh tidak hanya menggunakan logika, tetapi rasa, intuisi dan juga hati nuraninya.

 

Cerita wayang bersifat terbuka terhadap penilaian dengan berbagai persepsi

            Kanjeng Nabi Sulaiman berkata tidak ada hal yang baru di dunia ini. Setting dan penampilannya bisa berubah, tetapi pertentangan antara kebenaran dan ketidakbenaran, antara kesadaran dan ketidaksadaran tetap ada. Pihak yang berperilaku seperti Kurawa tetap ada, demikian juga yang seperti Pandawa juga tetap ada. Penaklukan suatu bangsa juga tetap ada walaupun bukan penjajahan nyata seperti zaman dahulu, tetapi dalam bentuk penjajahan ekonomi yang pengaruhnya hampir sama. 

Di dalam diri manusia pun terdapat pertentangan antara Kurawa dengan Pandawa. Pikiran jernih yang bijaksana seperti Krishna juga ada dalam diri kita. Kemenangan Pandawa dalam diri manusia harus diupayakan dengan penuh perjuangan. Oleh karena itu cerita wayang dapat memberi inspirasi untuk memicu terjadinya peningkatan kesadaran.

Nafsu, Kurawa dalam diri, tidak pernah mati selama seseorang masih hidup sebagai manusia, maka nafsu harus dikendalikan, mesti ditarik dari dunia dan keduniawian, kemudian diarahkan ke Tuhan dan keilahian. Proses pengarahan nafsu kepada Tuhan dan keilahian itulah Arjuna, spiritualitas, meditasi. Dalam bahasa Timur-Tengah itu disebut taubah, metanoia, membelok, atau kembali. Maksudnya kembali pada diri sejati, karena itulah kerajaan-Nya, di sanalah Ia bersemayam.

Arjuna, meditasi tidak meninggalkan rumah dan keluarga. Meditasi juga tidak berarti meninggalkan dunia. Meditasi membekali manusia dengan semangat dan keberanian untuk menghadapi segala macam tantangan, termasuk perang bharatayuda. Seseorang tetap tinggal di dalam dunia yang sama, di tengah keluarga yang sama, tetapi tidak diperbudak oleh mereka. Seorang istri atau seorang suami tidak dapat menyandera jiwanya. Orang tua dan saudara tidak boleh merampas hak untuk bertindak sesuai dengan nuraninya. Arjuna mendapat pengetahuan dari Krishna, pikiran jernih yang bijaksana, pengetahuan tentang jatidiri dan kebutuhan manusia untuk menemukannya, karena tanpa penemuan itu, manusia merasa hampa. Ia tidak merasa berguna. Kemudian, tindakannya pun kacau dan mengacaukan.

            Kita menjadi manusia yang lebih baik karena meditasi, Arjuna dalam diri. Dunia sungguh membutuhkan beberapa manusia baik yang rela berkorban demi kebaikan umat manusia, untuk mencegah terjadinya kehancuran total. Manusia-manusia baik yang rela mengorbankan kenyamanannya demi kebaikan dunia, manusia-manusia baik yang siap berkarya tanpa pamrih, demi kesatuan dan persatuan dunia.

           

Arjuna sebagai pemicu peningkatan kesadaran

 

Ambillah hikmah dari kisah di pewayangan

Arjuna bertapa di tengah hutan

Hanya Semar dan anak-anaknya yang menjadi kawan

Semua gerbang badan yang berjumlah sembilan

Ditutup semua untuk mendapat ketenangan

 

Penglihatan, pendengaran, penciuman

Pengecapan, pengucapan, hubungan badan, semua dijauhkan

Setelah semua indera terkendalikan

Masih satu yang harus ditaklukkan

Mind, Pikiran

 

Godaan pertama berujud raksasa

Mengapa harus bertapa, ditakut-takuti raksasa kesengsaraan dunia

Godaan selanjutnya kilauan emas permata

Harta sudah di depan mata mengapa tidak berselera?

Godaan terakhir bidadari cantik jelita

Nafsu birahi tersisa digoda juga

Banyak Kesatria gagal bertapa

Takut akan sengsara

Selain itu banyak yang tidak berhasil juga

Disebabkan harta, tahta dan wanita

 

Dengan duduk hening menyaksikan godaan pikiran yang datang dan pergi

Sampai Bathara Guru turun dari Kahyangan menemui

Memberi senjata ampuh Pasopati

Penakluk sifat kebinatangan di dalam diri

Untuk mencapai Kebahagiaan Sejati.

 

Hanya kesatria perkasa yang tabah hati

Yakin dunia ini hanya ilusi

Berjalan mantap meniti ke dalam diri

Untuk menemukan jati diri

Kesadaran Murni

Kebahagiaan Sejati

 

Sastrajendra Pangruwating Diyu

            Diyu adalah raksasa, ego yang selalu berbuat sekehendak hatinya terhadap siapapun tanpa mau memikirkan akibat nantinya, hal tersebut dilakukan terhadap sesama makluk hidup termasuk terhadap tanaman, hewan dan bumi. Raksasa, ego ini begitu angkuh, merasa dirinya bisa bertindak semaunya, dia merasa berkuasa. Sifat Diyu dalam diri manusia harus diruwat, dikembalikan ke sebagaimana asalnya. Semuanya berasal dari Gusti Kang Murbeng Dumadi, Tuhan Yang Berkuasa atas Kehidupan. Ego tersesat, melenceng dari jalan yang lurus dan merasa dirinya berkuasa atas segala sesuatu. Ego harus ditundukkan agar dapat bekerja penuh mendukung Hati Nurani yang menjadi pemimpin diri.

            Sastra Jendra adalah Tulisan Agung yang harus dapat dimengerti atau dipahami artinya. “Buku dalam Tulisan Agung” itu adalah manusia dan alam semesta beserta isinya. Mempelajari Sastra Jendra berarti harus mengerti sangkan paraning dumadi, asal- usul kehidupan, gumelaring jagad, berkembangnya alam dan harus dapat memahami tentang urip sejati, hakikat hidup , manembah sejati, bhakti terhadap Yang Maha Kuasa, sampurnaning pati, kematian sejati dengan tuntunan Sang Guru Sejati.     

            Ketika Bhagawan Wisrawa sedang menjabarkan Sastra Jendra Hayuningrat kepada Sukesi, mereka terlena dan terjebak dalam kobaran hawa nafsu yang tak terbendung, maka keduanya gagal memaknai Sastra Jendra Hayuningrat. Penyesalan kemudian sudah tidak berguna. Sebuah tindakan akan memberikan akibat yang harus ditanggung sebagai konsekuensi. Sukesi telah hamil dan kemudian dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku.

            Segumpal darah itu menjadi anak bermuka sepuluh bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Seorang raja jahat, serakah dan penuh amarah. Dia adalah simbol nafsu amarah. Menurut Serat Centhini, amarah bercahaya merah, dan letaknya di dalam limpa. Orang yang dikuasai Raja Amarah, tabiatnya mendengki orang lain. Dalam menghadapi dunia, dia ingin menguasai segalanya, dengan segala cara.

Wujud telinga menjadi raksasa yang bernama Kumbakarna, yang meskipun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan orang tuanya. Satria berwujud raksasa ini melambangkan nafsu aluwamah yang sangat besar. Menurut Serat Centhini, Maharaja Lauwamah, ber­cahaya hitam, dan bersemayam di jantung. Kekuasaannya meliputi nafsu makan, minum dan tidur, sehingga kalau raja ini yang berkuasa, maka otaknya hanya berpikir soal makanan, dan lupa akan kewajiban. Dalam menghadapi dunia yang tidak sesuai dengan hati nuraninya dia melupakannya dengan cara makan minum dan tidur.

Kuku berkembang menjadi raksasa wanita yang buruk rupa dan buruk perangai bernama Sarpakenaka yang melambangkan nafsu sufiyah. Dalam Serat Centhini disebutkan, Ratu Supiyah, bercahaya kuning, dan bersemayam di dalam paru-paru. Orang yang dikuasai oleh nafsu supiyah, wataknya suka memaksakan kehendak dan serakah.

Pada akhirnya, Bhagawan Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Gunawan Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuanya. Si bungsu, Gunawan Wibisana, seorang satria tampan dan halus budinya, yang melambangkan nafsu mutmainah. Dalam Serat Centhini disebutkan bahwa Raja Mutmainah ini bertahta di hati sanubari, dan bercahaya putih. Orang yang dikuasai nafsu mutmainah ini akan menampakkan sifat-sifat yang sabar, tawakal dan beriman. Nafsu muthmainah inilah bersama Kekuatan Ilahi, Sri Rama, titisan Wisnu, mengalahkan ketiga nafsu lainnya.

 

Hubungan manusia dengan Tuhan dalam lakon Dewaruci

Tuhan adalah “Sangkan Paraning Dumadi”, asal usul dan tujuan akhir makhluk. Leluhur kita menyebutnya “tan kena kinaya ngapa”,tak dapat disepertikan, Acintya. Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranan-Nya. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Penentu nasib semua mahluk) , Gusti Kang Murbeng Gesang (Penguasa kehidupan), Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain yang dikenal dengan 99 Nama Allah bagi kaum muslimin. “Ekam Sat Viprah Bahuda Vadanti” artinya “Tuhan itu satu tetapi para bijak menyebut-Nya dengan banyak nama”.

Perjalanan manusia menemukan Tuhannya digambarkan seperti perjalanan Bima, satria Pandawa mencari susuhing angin, sarangnya angin. Istilah lain adalah, mencari tapake kuntul nglayang, jejaknya burung yang terbang, mencari galihing kangkung, intinya sayur kangkung yang kosong dan lain sebagainya. Sebelum bertemu dengan Dewa Ruci, Bima dalam samudera kehidupan harus mengalahkan naga ganas keduniawian yang membelitnya dengan kuat dan erat. Dengan kesungguhan hatinya, naga dapat dikalahkan dengan kuku pancanakha, dan Bima bertemu dengan Dewa Ruci, wujud kembarannya yang kecil. Dewa Ruci meminta Bima memasuki dirinya lewat telinganya. Pada awalnya Bima ragu-ragu, wujud dirinya besar sedang wujud Dewa Ruci kecil. Dewa Ruci mengatakan, besar mana antara diri Bima dengan samudera dan jagad raya, karena seluruh jagad raya ini bisa masuk ke dalam dirinya.

Leluhur kita menggambarkan wadag, raga ini sebagai warangka, sarung keris, sedang ruh kita adalah curiga, kerisnya. Manusia hidup di alam ini disebut curiga manjing warangka, keris di dalam sarungnya. Setelah manusia sadar atas ketidaksempurnaan duniawi ini dan dapat melepaskan dari belitan naga ganas duniawi dan yakin pada dirinya yang sejati, maka dia dapat memasuki dirinya yang sejati, seperti Bima yang memasuki Dewa Ruci. Di dalam diri Dewa Ruci ini ternyata sangat luas, alam pun berada pada dirinya. Leluhur kita menggambarkan peristiwa ini ibarat warangka manjing curiga, sarung keris masuk kedalam keris, kodok ngemuli lenge, katak menyelimuti liangnya, Manunggaling Kawula Gusti, bersatunya makhluk dengan Keberadaan. Selama ini manusia diibaratkan golek banyu apikulan warih, manusia mencari air sedangkan dia sendiri memikul air.

             

Wayang mengingatkan diri bahwa dunia ini hanya bayangan

            Penonton wayang boleh jengkel setengah mati terhadap liciknya patih Shakuni, boleh juga naik darah seperti Bhima, ataupun termangu-mangu oleh kebijakan Krishna, akan tetapi semuanya itu hanya merupakan bayangan saja, kita hanya sebagai penonton, sebagai saksi. Ibarat mimpi, kita larut ke dalam suasana impian, akan tetapi setelah sadar kita tahu semuanya hanya mimpi. Yang terpenting adalah bagaimana menarik manfaat dari mimpi, menarik manfaat dari pagelaran wayang.

Bayangan itu ada karena adanya sesuatu. Mengejar bayangan bagi orang yang sadar tidak ada gunanya. Segala sesuatu di alam ini tidak ada yang abadi, semuanya dari tidak ada, kemudian ada, dan akhirnya tidak ada lagi. Mengejar dunia demi kebahagiaan tidak akan tercapai juga, keserakahan tidak mempunyai batas, sedangkan hidup di dunia ini mempunyai keterbatasan.

            Kitab-kitab suci menyebutkan, tidak ada yang lain, yang ada hanya Dia. Seluruh alam ini berada dalam Dia. Alam ini hanya merupakan bayangan-Nya. Seseorang yang belum sadar berjalan membelakangi matahari, maka ia harus mengikuti bayangannya sendiri. Mereka yang sudah sadar berjalan menuju matahari, bayangannya berada di belakang. Bila seseorang berjalan menuju Kasih, dunia akan berada di belakangnya. Bila seseorang berjalan menjauhi kasih, dunia akan berada di depannya. Dan, keberadaan dunia di depan manusia itu sangat merepotkan. Ia ingin kita mengikutinya. Kebebasannya dirampas. Ia diperbudak. Dengan mengikuti dunia, ia memberikan hak kepada dunia untuk menyetel dirinya.

            Dalam pagelaran wayang dapat diambil suri teladan bahwa, kenyamanan istana, kemapanan hidup menghentikan evolusi batin. Saat itu, manusia terjebak dalam kenikmatan sesaat. Tidak ada yang melarang untuk menikmati, asal tidak berhenti. Saat menikmati hidup ada kecenderungan besar bahwa kita jadi lupa bahwa perjalanan masih panjang dan kita harus tetap berjalan. Pada saat harus memilih jalan yang harus ditempuh, terjadilah friksi. Dan friksi itu menimbulkan energi luar biasa untuk meningkatkan kesadaran, untuk melanjutkan perjalanan.

            Pagelaran wayang memberikan gambaran agar tidak mencari Dia dalam ketenangan dan kedamaian. Susah mencari-Nya di sana, karena Tenang itulah Dia; Damai itulah Dia. Latar belakang kegaduhan dibutuhkan sehingga Tenang menjadi nyata.

 

Kidung, Gamelan dan spiritualitas

            Kidung dalam bahasa latin disebut canticle. Getaran-getaran yang keluar dari lagu ini dapat mengubah diri dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh manusia sedang bergetar. Getaran di dalam diri manusia memahami bahasa lagu. Ia sudah pasti memberi respon, asal lagunya indah. Jangankan manusia yang otaknya sudah cukup berkembang, arak dan anggurpun memberi respon terhadap lagu. Produsen mempercepat proses fermentasi menggunakan gelombang radio. Lagu atau musik tertentu menjadi sarana yang kuat untuk mengantar manusia ke alam meditasi.  Alam meditasi berarti alam di dalam diri. Dan, di alam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran. Maka, organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi.

             Gamelan selalu digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang dan tari tradisional Jawa. Jenis gendhing yang dipakai untuk mengiringi wayang  kulit tergantung dari tahapan dalam pagelaran wayang kulit yang dimulai sekitar jam 21.00 dan berakhir sekitar jam 06.00 pagi. Gendhing Pathet Nem disuarakan antara pukul 21.00-24.00, mengiringi gambaran yang melambangkan masa kanak-kanak Sang Satria pemeran utama. Gending Pathet Sanga digunakan antara pukul 24.00-03.00, mengiringi penggambaran Sang Satria yang  mulai mencari Guru untuk belajar ilmu pengetahuan. Dalam tahapan ini disampaikan wejangan oleh Dewa, Prabu Kresno atau Semar. Gending Pathet Manyuro, dimunculkan antara pukul 03.00-06.00 mengiringi cerita yang memperlihatkan Sang Satria  yang telah memiliki pengetahuan memberantas ketidakadilan sehingga kehidupannya berbuah kebahagiaan.

Di dalam tubuh manusia terdapat  irama  yang harmonis, seperti halnya alam semesta yang juga berirama. Nada-nada alam semesta yang tertangkap oleh kepekaan rasa diungkapkan menjadi nada-nada Gamelan. Lewat nada-nada musik tersebut manusia melakukan pemujaan dan perenungan spiritual. Nada-nada musik bukan sekedar seni, tetapi merupakan bahasa jiwa, spirit kehidupan, musik Sang Maha Pencipta, bahasa pertama yang menjadi asal muasal kehidupan. Sebagai media dan bentuk komunikasi universal, nada-nada musik melewati bahasa verbal, diterima indera pendengaran, diteruskan ke hati, pusat rasa. Karena Rasa itulah, maka nada-nada musik melewati batas-batas etnis, agama, komunitas dan negara.

Dalam buku, “Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetics in Central Java”, Judith Becker menemukan bahwa pada zaman pertengahan, di Indonesia, elemen Gamelan digunakan sebagai pemujaan kedalam dan keluar diri. Dia mengutip Sastrapustaka yang mengungkapkan makna esoteris nada-nada Gamelan yang berhubungan dengan chakra, panca indera dan rasa. Musik Gamelan sebagai yantra, alat, dapat membantu tahapan meditasi sebelum mencapai keadaan samadhi. Lewat musik tersebut orang bisa melakukan penjernihan pikir, pembeningan hati dan pemurnian jiwa sehingga muncul penyembuhan psikologis.

Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa musik dapat mempengaruhi air, sehingga musik yang indah akan membuat air membentuk kristal hexagonal yang indah. Memahami bahwa baik manusia, hewan dan tanaman mengandung air, maka suara musik akan mempengaruhi semua makhluk hidup. Organ-organ manusia mempunyai getaran dengan berbagai frekuensi. Walau frekuensi yang dapat didengar manusia berkisar 20 Hz-20 KHz, frekuensi suara berbagai alat gamelan sangat bervariasi dan memungkinkan terjadinya frekuensi yang sama dengan organ tubuh. Bila getaran suara Gamelan mempunyai frekuensi yang sama dengan suatu organ tubuh yang lemah, maka resonansi yang terjadi dapat memperkuat dan menyembuhkan organ yang bersangkutan. Musik yang harmonis juga akan mebuat sapi merasa tenang dan mempengaruhi sistem kelenjar yang berhubungan dengan susu. Selanjutnya, getaran frekuensi tinggi dari Gamelan akan merangsang ‘stomata’ tanaman untuk tetap terbuka, meningkatkan proses pertumbuhan. Bunga-bunga yang beraneka warna pada umumnya mempunyai panjang gelombang sama seperti panjang gelombang warnanya. Suara alat-alat musik yang bervariasi panjang gelombangnya dapat mempengaruhi organ yang sama panjang gelombangnya.

Dalam suatu pergelaran Gamelan, beragam alat dengan beragam nada mempunyai peranan yang sama, asalkan semuanya mengikuti satu irama kesepakatan, sehingga dapat menciptakan komposisi yang indah dan harmonis. Suatu pengimplementasian dari falsafah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu kesatuan jua.

 

Mendapatkan Guru

            Arjuna mendapatkan Guru, Sri Krishna dan kegamangannya dalam menghadapi Medan Kurusethra hilang, dan akhirnya dia bertempur penuh semangat demi dharma. Seorang Guru datang dalam hidup manusia bukan karena kehendak guru tersebut, tetapi karena dikehendaki-Nya. Kedatangan seorang murshid atau seorang guru dalam hidup manusia terjadi karena dikehendaki oleh-Nya. Itulah kenapa manusia begitu menghormatinya, karena sesungguhnya dengan menghormati kepadanya manusia sedang mmenghormati kepada-Nya. Itulah sebabnya leluhur mengajarkan untuk menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, atau posisi namaskar. Manusia menghormati Tuhan yang ada dalam diri guru, pemimpin ataupun tamu di hadapan kita. Guru menunjukkan jalan supaya murid berjalan sendiri. Guru membakar semangat murid. Guru membangkitkan kembali jiwa yang sudah sekarat.

            Ketika seorang dengan kemauan keras mencari jatidirinya, maka alam akan membantunya dengan kehadiran Guru untuk memicu terjadinya peningkatan kesadaran. Guru dapat berwujud sebagai sahabat, pimpinan, buku, ataupun alam terkembang pun dapat sebagai Guru. Kekuatan memandu itu dilukiskan leluhur dalam wujud Bathara Guru. Pagelaran wayang kulit adalah salah satu Guru menurut ajaran para leluhur kita. Leluhur kita tidak mengajari debat untuk meningkatkan kesadaran. Debat justru menambah masalah, tidak menyelesaikannya. Jangan sampai manusia terjebak dalam perdebatan yang tidak berguna. Lagi pula apa gunanya berdebat dengan mereka yang sudah menutup diri? Debat tidak dapat membuka hati, kenapa tidak dengan cerita? Dengan pagelaran wayang? Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

November 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone