November 30, 2008

Semar Rohnya Indonesia

Semar di dalam diri manusia Indonesia

Tokoh Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang. Penampilan dan perannya mengundang penafsiran yang beraneka ragam. Peran Semar menarik untuk ditelaah kembali dalam pencarian jati diri bangsa yang pada saat ini sedang menghadapi tekanan dari budaya asing yang melanda seluruh pelosok Nusantara. Hal ini penting agar bangsa Indonesia tidak terlalu jauh terperosok ke dalam budaya asing dan melupakan akar budayanya sendiri.

Dalam DNA manusia Indonesia terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur zaman Sriwijaya, zaman Majapahit dan genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Perilaku manusia saat dewasa terkait erat dengan perilaku dia sewaktu kecilnya. Sebuah kontinuitas yang melekat. Kearifan bangsa Indonesia sudah ada sejak zaman dahulu. Berdasar pengetahuan tentang genetika, bangsa Indonesia perlu mengkoreksi klasifikasi sejarah yang mengkotak-kotakkan Sejarah Bangsa menjadi Zaman Pra Hindu, Zaman Hindu, Zaman Islam, Zaman Penjajahan dan seterusnya. Genetik manusia Indonesia saat ini ada kaitannya dengan masa lalu, tidak dapat dipisah-pisahkan atas dasar kepercayaan yang dianut pada beberapa masa. Genetik yang berada dalam diri manusia Indonesia pernah mengalami zaman pra Hindu, zaman Hindu, zaman Islam, zaman Penjajahan. Masa-masa itu semua pernah dialami oleh genetik manusia Indonesia. Demikian pula genetik penuh ketakutan pada masa lalu dan genetik penuh keberanian pada masa lalu juga ada dalam diri manusia Indonesia.

Sejak zaman dahulu kala bangsa Indonesia dapat menerima dengan tangan terbuka agama apa saja. Walaupun memakai agama apapun juga, bila orangnya tetap itu-itu juga, kalau masih ada ketakutan, kedengkian, keserakahan, agama boleh berbeda tetapi hasilnya tidak banyak berbeda. Akan tetapi kalau orangnya sudah sadar, penuh kasih dan cinta pada Ibu Pertiwi, apa pun agamanya hasilnya akan baik juga. Budaya yang telah melekat dengan DNA kita pada saat ini telah digerogoti. Untuk itu manusia Indonesia perlu kembali membuka hati nurani. Apakah tindakannya saat ini sudah memakai hati nurani, atau hanya disebabkan oleh ketakutan, baik ketakutan terhadap keselamatan maupun ketakutan hilangnya kenyamanan dalam kemapanan comfort zone?

Bila yang terjadi adalah ketakutan, maka penjajahan budaya asing banyak miripnya dengan penjajahan zaman dahulu, hanya dalam bidang yang berbeda, dan kembali manusia Indonesia takut untuk bertindak. Bangsa Indonesia tidak hanya harus merdeka dari penjajahan kolonialisme, tetapi juga merdeka dari penjajahan ekonomi dan merdeka dari penjajahan budaya. Manusia Indonesia pernah takut terhadap senjata penjajah, pernah takut juga terhadap senjata ekonomi, sekarang manusia Indonesia mulai mengikuti budaya asing apakah karena ketakutan juga? Takut terhadap kehilangan kenikmatan surga dunia ala Barat, atau takut terhadap neraka akhirat? Kalau kita membaca Buku History of Java tulisan Stamford Raffless, masyarakat kita sudah mempunyai budaya sendiri. Apakah nenek moyang kita semua yang sebagian besar juga beragama sama dengan kita akan masuk neraka semua, hanya karena berbudaya Nusantara?

Semar tidak disebut dalam Kitab Bhagavad Gita, dan tidak dikenal di India karena Semar adalah tokoh made in para leluhur kita. Yang ada di India dan dikisahkan pergi ke Nusantara adalah Resi Agastya, yang konon masih hidup sejak zaman Sri Rama, yang  mempunyai banyak persamaan dengan Semar. Resi Agastya adalah seorang yang penuh kasih, konon selama dia tinggal pada suatu bangsa, maka bangsa tersebut dipenuhi kasih. Demikian pula Semar, selama Semar berada dalam diri manusia Indonesia, dia akan penuh kasih. Kalau bangsa kita mulai menyukai kekerasan, jangan-jangan bukan Semar, tetapi Togog lah yang mendampingi diri kita. Apakah kita sudah seperti Buta Cakil? 

Apakah Semar juga masih bersemayam dalam diri manusia Indonesia? Apakah Semar pernah pergi dan sudah kembali lagi? Pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab dengan hati nurani masing-masing. Anak-anak muda berkata: “Soal kata lidah bisa berdusta, soal rasa lidah tak dapat berdusta”, apalagi soal hati nurani manusia tak dapat berdusta. Hanya saja hati nurani sering ditinggalkan ketika manusia menghadapi dunia. Padahal dalam hati nurani manusia beriman, Dia berkenan bersemayam.

Sudah banyak tulisan mengenai Semar, kali ini Semar akan dilihat dengan pandangan yang lain. Pertarungan antara Kurawa dan Pandawa terdapat dalam diri manusia. Kejernihan pikiran seperti Krishna pun juga ada di dalam diri manusia. Akan tetapi sebelum melihat Semar dari sudut pandang yang lain, ada gunanya  memahami tentang proses berpikir menurut Ki Ageng Suryomentaram dulu, agar  dapat membuka diri.

 

Kramadangsa-nya Ki Ageng Suryomentaram

Otak sebagai Juru Catat

            Sejak masih bayi aku menjadi juru catat apa saja yang berhubungan dengan diriku. Juru catat dalam diriku hidup dalam ukuran pertama, seperti hidupnya tanaman. Kerjanya hanya mencatat, kalau berhenti mencatat berarti mati. Untuk hal di luar diri, otak mencatat melalui panca indera, sedang di dalam diri otak mencatat dari rasa, emosi. Catatan-catatan ini jumlahnya berjuta-juta. Catatan-catatan itu barang hidup, hidupnya catatan itu dalam ukuran yang kedua, seperti hidupnya hewan. Karena hidup, catatan ini butuh makan. Bila kurang makan menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan catatan-catatan itu berupa perhatian. Kalau diperhatikan catatan-catatan menjadi subur, bila tidak diperhatikan catatan-catatan menjadi mati.

Kramadangsa, ego manusia

            Kalau catatan ini sudah banyak maka Kramadangsa (yang bernama namaku) baru lahir, yaitu manunggalnya semua catatan bermacam-macam seperti: (1) harta milikku, (2) kehormatanku, (3) kekuasaanku, (4) keluargaku, (5) bangsaku, (6) golonganku, (7) jenisku, (8) pengetahuanku, (9) kebatinanku, (10) keahlianku, (11) rasa hidupku. Kramadangsa ini hidup dalam ukuran ketiga, karena tindakannya sudah memakai pikiran. Jadi Kramadangsa itu tukang berpikir, yang memikirkan kebutuhan catatan-catatannya.    

            Catatan-catatan ini termasuk ukuran kedua seperti halnya hewan yang apabila diganggu marah. Misalkan anakku diganggu, kita langsung marah, padahal anak itu sebetulnya itu hanya catatan tentang keluargaku. Sedangkan Kramadangsa ini termasuk ukuran ketiga, yang sebelum bertindak berfikir dulu. Pada waktu akan marah aku berfikir dulu, bagaimana cara marahnya, memukul, mengumpat atau lebih baik diam karena kalau marah membahayakan diri. Bila Kramadangsa didominasi salah satu catatan misalnya catatan tentang kekayaan, maka catatan lain misalnya catatan kehormatan, atau catatan bangsa diabaikan. Demi harta kekayaan orang mengabaikan kehormatan diri dan kepentingan bangsa. Kramadangsa ini adalah pembantu dari sebelas kelompok catatan-catatan tersebut di atas. Aku adalah kumpulan informasi dari hal-hal yang kualami.

Manusia Universal

            Apabila aku merasa marah dan kemudian berpikir bagaimana caranya marah, aku sedang menempuh ukuran ketiga yaitu Kramadangsa, ego. Apabila pada waktu marah aku berpikir, marah itu apa? Wujudnya bagaimana? Maksud marah itu apa? Apakah marah itu hanya karena catatan-catatanku diganggu? Aku sadar, aku bukan kumpulan catatan-catatan, aku adalah saksi. Dengan kesadaran tersebut, maka aku menempuh ukuran keempat yaitu Manusia Universal. Manusia Universal ini bila bertemu orang lain merasa damai. Bersamaan dengan munculnya Manusia Universal di ukuran keempat, maka Kramadangsa, Sang Ego menjadi berhenti dan aku dapat melihat kesalahan-kesalahan dari catatan-catatan yang telah dibuat.

Hubungan Kramadangsa dengan pengetahuan modern

            Selama ini yang sering dianggap diri seseorang sebetulnya hanya kumpulan catatan semata. Hal tersebut sesuai dengan pengetahuan modern bahwa otak sebagai kumpulan informasi dari anak-anak sampai dewasa. Informasi yang salah akan membuat pandangan diri salah juga. Sifat genetik pun sebetulnya juga wujud informasi bawaan yang diturunkan dari nenek moyang. Informasi yang banyak tersebut sudah masuk ke dalam pikiran bawah sadar. Sehingga manusia bertindak sesuai pikiran bawah sadarnya. Mungkin seseorang merasa mendapatkan “panggilan”, akan tetapi bisa saja itu hanya merupakan pikiran bawah sadar yang muncul. Hal-hal yang selalu di ulang-ulang, menjadi kebiasaan dan kebiasaan yang dilakukan terus menerus dapat menjadi karakter, mengubah synap otak menjadi stabil dan sulit mengubahnya .

            Kebenaran pada seseorang terbentuk dari sifat genetik bawaan, lingkungan masyarakat, pendidikan dan pengalaman pribadinya. Bukan kebenaran murni, ataupun hakikat kebenaran. Disebabkan catatan-catatan setiap orang berbeda dan masing-masing merasa benarnya sendiri maka sering terjadi perselisihan. Setelah menyadari tentang proses berpikir, maka kita mulai terbuka terhadap hal baru. Keterbukaan itu penting. Karena selama ini kita terbelenggu oleh pikiran kita. Ibarat air dalam gelas walau sudah di atas samudera dia merasa dirinya lain, baru setelah dinding gelas hijab dilepas maka dia bisa berhubungan dengan samudra luas. Demikian pula, selagi kita terkungkung oleh pikiran maka kita belum dapat mengakses energi alam semesta. Agar tidak terjebak dalam nalar saja, perlu penggunaan rasa. Dalam membaca sebuah tulisan, agar rasa berkembang, maka kata-kata kepada seseorang harus dirasakan seolah-olah kata tersebut ditujukan terhadap diri kita.

 

Kelahiran Semar

Disebutkan dalam Serat Manik Maya, Tatkala masih awang-uwung, belum ada bumi dan langit, yang ada terlebih dahulu adalah Sang Hyang Wisesa. Dia diam di tengah semesta, tidak bergerak, dalam batinnya Dia memusatkan pujian, menyatakan kehendak Hyang Mahapati untuk memulai adanya lakon kehidupan. Kemudian terdengar suara, bunyi seperti genta, pranawa, hoooooonggggggg, atau ooooommmmm menurut pendengaran bangsa lain. Seketika Sang Hyang Wisesa terperanjat, lalu melihat sesuatu tergantung di angkasa, berupa seperti telur. Segera telur itu dipegang dan disangga di atas telapak tangan, dicipta menjadi tiga unsur. Unsur pertama dijelmakan menjadi bumi dan langit, unsur ke dua menjadi terang dan gelap, unsur waktu, dan unsur ke tiga menjadi Manik dan Maya. Demikian Kitab Kejadian versi leluhur kita.

Sang Hyang Wisesa berkata kepada Manik: “Kau ketahuilah, bahwa kau itu keadaanku, Aku adalah keadaanmu. Aku percaya padamu, segala sesuatu yang hidup di dunia ini, kau kuasa menjadikan”.

Maya segera berkata kepada Sang Hyang Wisesa, “Kehendak paduka itu bagaimana? Paduka menjadikan saya berlainan bentuknya dengan Manik. Manik sangat tampan, cahayanya berkeliauan, sebaliknya rupa saya amat jelek, serta cahaya saya sangat hitam”.

Sang Hyang Wisesa menjawab: “Maya kau ketahuilah, itu adalah kehendak Hyang Mahapati, jangan terlalu bersedih, kau kuberi permata murni yang disebut Retno Dumilah, tak ada yang dapat menyamai, segala sesuatu yang dikehendaki akan tercapai atau terlaksana, aku tempatkan di kuncungmu. Dan lagi mengenai cahaya hitam itu adalah kenyataan yang tidak berubah-ubah, tidak berkurang dan tidak bertambah setiap hari”.

Membaca Serat Manik Maya, mungkin nalar kita dibingungkan, Tuhan itu siapa? Sang Hyang Wisesa, Hyang Mahapati, atau Hyang Manik yang dikenal sebagai Bathara Guru? Apakah Hyang Maya yang dikenal sebagai Semar adalah Wujud Ilahi yang ada di dalam diri? Kebingungan tersebut terjadi karena kita menggunakan nalar, yang sudah terbelenggu oleh pola  pikiran bawah sadar. Padahal manusia hidup bukan hanya memakai nalar, tetapi juga rasa, intuisi maupun hati nurani.

Bagaimana seandainya kita membayangkan bahwa semuanya terjadi dalam diri manusia. Bathara Guru maupun Semar ada dalam diri kita. Tuhan biarlah tetap menjadi misteri, Dzat tan kena kinaya ngapa, tidak dapat disepertikan. Tuhan hanya disebut dengan nama atau kekuasaanya. Yang Maha Kuasa, Yang Memberi Kehidupan itu hanya nama sebutan-Nya berdasar  kekuasaan-Nya.

 

Semar mengantar Arjuna bertapa

Ketika Arjuna bertapa, maka Semar dan Punakawan lainnya setia mendampinginya. Ketika seseorang meniti ke dalam diri untuk mencari jati dirinya, maka Semar selalu menemani. Dalam perjalanan masuk ke tengah hutan untuk bertapa, Arjuna dihalang-halangi oleh tiga raksasa yang didampingi Togog dan Sarawita. Ketiga raksasa tersebut adalah lambang dari nafsu-nafsu manusia. Togog adalah pendamping nafsu-nafsu tersebut.

Raksasa pertama yakni Cakil, kurus lincah berwajah kuning, sering disebut Gendir Penjalin karena lincahnya. Raksasa kedua bernama Buto Rambut Geni, tinggi besar kuat dan berwajah merah, mengerikan. Raksasa ketiga berwarna hitam legam, bengis, bernama Pragalba. 

Peperangan di antara Arjuna dengan mereka menggambarkan pertentangan dalam batin manusia berupa perebutan kekuasaan antara perbuatan baik, bijak, kasih sayang melawan dorongan perbuatan-perbuatan jahat, dengki dan nafsu-nafsu badaniah lainnya. Dalam pagelaran wayang, angkara murka selalu dikalahkan oleh kebajikan, raksasa dibunuh oleh sang ksatria, yang secara implisit memberi pelajaran bahwa kuasa-kuasa kebajikan mengatasi keangkaramurkaan.

Wayang berfungsi sebagai sarana penyampaian ajaran etika dalam masyarakat dan juga ajaran keteladanan bahwa di dalam diri manusia kebajikan harus bertempur melawan nafsu kejahatan. Leluhur kita menggambarkan keangkaramurkaan meliputi tiga nafsu dasar manusia yaitu nafsu Sukarda, Angkara, dan Lodra, Sufiah, Amarah dan Aluamah dan ketiganya masing-masing berkaitan dengan unsur-unsur alami, angin, yang disimbolkan berwarna kuning, api yang  berwarna merah, dan tanah yang dikaitkan dengan warna hitam. Sebaliknya, nafsu Nuraga atau Mutmainnah, nafsu yang tenang digambarkan sebagai ksatria Arjuna yang berwajah putih, unsur ruang kosong, yang diiringi oleh punakawan Semar. Semar adalah penuntun manusia untuk berbuat kebajikan, sedangkan Togog adalah penuntun nafsu yang memelencengkan manusia dari jalan kebenaran.

 Ketika Arjuna khusyu bertapa, mengheningkan cipta, turunlah Bathara Guru yang memberikan Senjata Panah Pasopati, penakluk pashu, penakluk sifat kehewanan dalam diri. Bathara Guru adalah pemandu yang memberikan senjata untuk menaklukkan nafsu hewani. Ketika seseorang bertekad mencari jati dirinya, maka alam akan membantunya dengan memberikan pemandu, apakah berupa seorang Guru, sebuah Kitab, sepenggal Cerita ataupun Alam yang terkembang yang dapat memicu terjadinya peningkatan kesadaran. Apa pun wujudnya itu semua dilambangkan dengan Bathara Guru.

 Sesudah sang Arjuna, sang ksatria utama berhasil mengatasi ketiga nafsu badaniah itu, maka dalam cerita selanjutnya, ia juga dapat mampu mengatasi rintangan-rintangan di mayapada. Secara ideal sang ksatria utama mencapai keselamatan atau menjadi penyelamat dalam masalah persoalan hidup manusia.

 

Semar adalah diri yang bebas

            Batara Semar digambarkan sebagai tokoh yang urakan, simbol kebebasan. Semar adalah juga simbol rakyat paling jelata. Semar justru sering mengendalikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan. Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikan dan sesamanya. Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Semar suka kentut sembarangan. Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.

Mengingat karakter Semar yang semacam itu, tokoh Semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, penuh humor. Salah satu tanda orang yang santai dan bebas adalah rasa humornya.

Semar adalah kakak yang lebih tua dari pada Batara Guru yang terhormat di istana kahyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa. Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, hanya bahasa ngoko. Tetapi kepada majikan yang diabdinya ia berbahasa kromo inggil, bahasa halus.

Semar gampang menangis melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah sebabnya wayang Semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Semar mempunyai empati yang luar biasa. Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Ego Semar itu telah lenyap, dia bertindak penuh pengabdian, seorang altruis sejati.

Semar adalah sosok yang berbahagia karena kesadaran diri, tak tergantung pada apa dan siapa untuk merasakan kebahagiaan itu. Banyak tokoh wayang yang juga berbahagia, akan tetapi kebahagiaan mereka tergantung kepada tabungan, kekayaan, harta, kekuasaan, kemasyhuran dan nama. Semar berbahagia bukan karena dunia luar, dunia luar tidak abadi, mereka yang menggantungkan kebahagiaan dari luar tidak akan selamanya bahagia.

 

Semar adalah rohnya manusia Indonesia

Semar, adalah roh Indonesia. Jiwa bangsa Indonesia. Itulah sebab orang Indonesia pun sangat akomodatif, adaptif. Bisa menerima apa saja. Masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Kristen dan Islam tidak melunturkan budaya mereka. Itu terjadi ketika Semar masih menjadi jiwa manusia para leluhur kita.

Manusia Indonesia saat ini belum cukup bebas, seperti Semar. Hati nuraninya telah tertutup oleh aturan-aturan kelembagaan. Ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Ada lembaga-lembaga keagamaan yang harus “merestui” cinta. Ada Pak Pendeta dan Pak Kiai yang harus mengukuhkan perkawinan. Kalau tidak, hubungan dianggap zinah. Lalu perkawinan akan dianggap prostitusi. Dan pintu sorga pun akan tertutup untuk selamanya. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Panca Sila yang menjadi dasar negara itu masih sekedar slogan. Enak untuk didengarkan. Baik sekali untuk digembar-gemborkan. Padahal Ki Hajar dewantara mengatakan bahwa budaya adalah unggulan-unggulan kebiasaan dari seluruh pelosok Nusantara. Dan unggulan-unggulan tersebut tercermin dalam Pancasila. Kalau sudah meninggalkan kebiasaan unggulan, maka Semar sudah pergi dari banyak manusia Indonesia. Kembalinya Semar adalah kembalinya kebebasan, kembalinya hati nurani, kembalinya budaya Nusantara.

Semar dapat membedakan antara religion atau agama dengan religious institution atau lembaga keagamaan. Agama merupaka pengalaman pribadi, setiap orang harus mengalaminya sendiri. Seperti jika haus, harus minum air sendiri. Tidak ada yang mewakili diri. Lalu dia juga bisa memilih apakah mau minum air biasa, atau hangat, atau dingin, atau ditambah sirop. Sementara lembaga keagamaan berupaya untuk menyuguhkan suatu yang seragam. Kalau hangat ya hangat saja, kalau pakai sirop stawberry ya strawberry saja. Dan namanya lembaga memang harus demikian. Tidak bisa tidak, karena setiap lembaga harus memiliki dasar, asas. Dan kalau bicara tentang dasar tentang asas, juga bicara tentang pembakuan beberapa konsep. Lalu pembakuan konsep-konsep itulah yang menciptakan keseragaman.

Di situ letak perbedaan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. Untuk mengethui bahwa api bisa membakar kita tidak harus mengalaminya dulu. Untuk mengetahui hukum gravitasi temuan Newton atau hulum relativitas temuan Einstein, kita tidak perlu menemukan kembali hukum-hukum tersebut. Cukup mempelajarinya. Tidak demikian dengan spiritualitas. Setiap orang harus mengalaminya sendiri. Pengalaman orang lain bisa dijadikan sumber inspirasi, pemicu kesadaran dalam diri. Tetapi harus tetap mengalaminya sendiri. Semar selalu mendampingi manusia yang mendalami dan mempraktekkan spiritualitas. Pemahaman yang benar harus dipraktekkan dalam hidup nyata sehari-hari. Pengetahuan tentang makan tidak mengeyangkan perut, seseorang harus melaksanakan makan agar tidak lapar.

Semar berani menyalahkan Batara Guru atau pun dewa-dewa yang lain yang melakukan hal tidak benar. Manusia yang kehilangan Semar dalam dirinya, tidak berani mengatakan kelompok yang menggunakan kekerasan demi pendapatnya sendiri. Silent Majority, sebagian besar masyarakat yang diam melihat ketidakbenaran, diam melihat kelompok yang membahayakan persatuan bangsa, sudah kehilangan semar dalam dirinya.

 

Semar dalam diri berusaha menundukkan ego yang terlanjur berkuasa

Apabila kesadaran manusia Indonesia telah merosot, maka sangat sulit meningkatkan kembali kesadaran yang sudah merosot, karena kemerosotan kesadaran akan meningkatkan kekuatan mind, pikiran, sumbernya ego. Dan mind yang sudah meningkat kekuatannya akan menjadi kebal terhadap upaya-upaya peningkatan kesadaran sebelumnya, semakin sulit menundukkan ego.

Karena itu, dibutuhkan seorang Guru, seorang Master, seorang Murshid, atau Semar dalam diri yang sudah bebas dari wabah ketidaksadaran, dan dapat menegur, menunjukkan kesalahan, entah melalui teguran langsung, atau dengan menciptakan keadaan tertentu, sehingga seseorang bisa menilai diri sendiri, bisa melakukan introspeksi diri, bisa mawas diri.

            Interaksi di masyarakat luas tanpa senjata pasopati, penakluk nafsu kehewanan dalam diri akan berat. Interaksi dengan mereka yang masih dipenuhi insting hewani ini menjadi stimulus bagi insting hewani, yang bagaimanapun masih tetap ada dalam diri setiap orang. Dengan selalu beramal saleh, insting hewani itu memang sudah sekarat, tetapi tidak pernah mati sepenuhnya. Beda orang, beda insting hewani yang tersisa, dan beda pula stimulus yang dapat membangkitkan keliaran dalam dirinya. Kelemahan adalah kelemahan. Apakah itu kecanduan, ketergantungan pada obat-obatan, seks, makanan, rokok atau apa saja. Yang satu terpeleset karena kulit pisang. Yang satu lagi terpeleset karena kulit mangga, atau hanya karena lantainya licin.

            Dalam masyarakat yang tidak sadar, wabah ketidaksadaran itu sangat ganas. Tidak perlu berada dalam satu ruangan. Bicara lewat telepon dengan seseorang yang tidak sadar, membaca buku karangan orang yang tidak sadar, bahkan sekedar mendengar tentang orang yang tidak sadar, sudah cukup untuk membangkitkan kembali mind. Dan pengaktifan kembali mind berarti tidurnya kembali ketidaksadaran, dan menguatnya ego. Ego yang sudah aktif kembali menjadi lebih ganas. Dia sudah tahu ntentang cara-cara yang pernah ditempuh untuk menaklukkan dirinya. Dia menjadi kebal terhadap cara-cara itu.

Sejak beberapa abad terakhir, Semar memang sangat gelisah. Manusia beragama semakin fanatik. Indonesia mulai melupakan budaya asalnya. Bahkan para cendekiawan dan ilmuwan pun beranggapan bahwa sebelum masuknya agama-agama besar, Indonesia tidak berbudaya. Tidak memiliki budaya asal. Semoga Semar cepat kembali merasuki diri manusia Indonesia. Tidak perlu menangis, “Jangan menangisi nasib. Kau lah penentu nasibmu. Tangisan dan ratapanmu justru melemahkan jiwamu. Hadapilah persoalan dengan keceriaan hati, dan kau akan memperoleh kekuatan untuk mengatasinya.” (SMS Wisdom). Terima kasih Guru.

 

Triwidodo

November 2008.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone