January 3, 2009

Gambar Calon-Calon Pemimpin Bangsa yang Menempel di Pohon

Maraknya gambar calon-calon anggota DPR dan DPRD di tepi jalan menggelitik Pakdhe Jarkoni, sehingga sore itu dia memanggil keponakannya Wisnu untuk diajak berdiskusi.

 

Pakdhe Jarkoni: Wisnu, bagaimana pandanganmu sebagai aktifis mahasiswa tentang fenomena gambar digital calon-calon pemimpin yang dipasang di ruang-ruang publik?

 

Wisnu: Jenuh Pakdhe, my temans seneng lihat Gambar Slank atau Luna Maya saja. Some temans ngrasani, katanya sekarang lebih banyak Genderuwo, itu yang malam-malam suka nempel di pohon. Tapi pakdhe zaman kan sudah modern, mengumpulkan masa bikin repot, ngomong di televisi mahal, lagian tingkat Kabupaten/Kota kan perlu mengingatkan kenalan-kenalan untuk memilihnya, ya nggak pakdhe.

 

Pakdhe Jarkoni: Bila hanya cari kepopuleran, kan jelas artis lebih dikenal, apalagi sekarang yang menentukan suara terbanyak. Artinya seorang anggota DPR senior pun kalau tidak dikenal bisa tidak dipilih lagi. Maksud pakdhe gejala apa yang terjadi Wisnu?

 

Wisnu: Political marketing pakdhe, sebagai rangkaian kegiatan untuk mendapatkan dukungan publik, tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan demokratis pakdhe. Salah satu rangkaian penting dari political marketing adalah iklan politik, ya diantaranya Gambar-gambar Tokoh dengan pesan dibawahnya.

 

Pakdhe Jarkoni: Iklan politik hampir sama dengan reklame produk komersial. Iklan mempunyai kecenderungan manipulatif, yang mengemas produknya agar konsumen tertarik. Tetapi terdapat perbedaan esensial dengan produk politik. Iklan komersial hanya memperkenalkan barang yang dikonsumsi secara pribadi dan tidak akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Sementara komoditas politik adalah tokoh atau lembaga politik yang akan menerima mandat kekuasaan dari rakyat. Iklan politik berpengaruh besar terhadap nasib dan masa depan bangsa.

 

Wisnu: Benar pakdhe, tetapi iklan politik terbukti dapat menjadi sarana ampuh membentuk dan menggiring  persepsi masyarakat. Memang sayangnya belum ada lembaga konsumen yang melindungi kepentingan publik dari akibat buruk iklan politik sebagai kontrol sosial.

 

Pakdhe Jarkoni: Ya, karena itu yang terjadi adalah ironi politik. Mereka yang bekerja keras, mempunyai kompetensi dan kapabilitas, bisa kalah dari mereka yang populer walau kurang kapabel. Rakyat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang dapat membebaskan mereka dari segala penderitaan akan sangat mudah terkecoh iklan politik.

 

Wisnu: Betul pakdhe, pilihan yang hanya berdasarkan iklan politik tanpa mengetahui track record, intelektualitas, dan integritas seseorang politisi, sangat membahayakan bangsa dan negara.

 

Pakdhe Jarkoni: Gusti, semoga bangsa kita cepat sadar dan dapat memilih pemimpin yang bijaksana. Amin. Sebagai generasi muda sebarkan kesadaranmu ke teman-teman semua.

 

Triwidodo

Januari 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone