January 30, 2009

Kesadaran Sang Batu Kali

Di tengah riuh rendah bisingnya suara mesin pemompa beton, dan di tengah semangatnya para pekerja bertopi kuning mengecor lantai gedung bertingkat lima, terdengar  pembicaraan lirih antara pecahan batu split dengan air semen.

 

Sang Pecahan Batu: Manusia menghormatimu, Air sahabatku! Mereka tak bisa hidup tanpamu. Dari lahir, berkembang, minum, mandi membuat gedung sampai mati pun mereka membutuhkanmu. Dengan berkurangnya ketersediaan air bersih di bumi, perang dunia ke-III pun diprediksi karena memperebutkanmu. Manusia telah menyadari kesadaran air, mereka tahu dirimu akan membentuk kristal heksagonal yang indah ketika mereka memberi vibrasi kebahagiaan kepadamu. Mereka mulai berkomunikasi denganmu. Gusti telah member kemuliaan padamu sahabatku.

 

Sang Air: Terima Kasih Sahabatku, semua yang ada di alam ini merupakan kombinasi dari lima elemen alami, tanah, air, api, udara dan ruang. Sahabat Batu, engkau adalah generasi turunan dari tanah, dari bumi. Semua yang ada di alam ini, merupakan kombinasi dari elemen alami. Perwujudan elemen alami pun pada hakikatnya adalah energi dengan berbagai kerapatan. Karena semua benda merupakan kombinasi dari berbagai elemen alami, maka pada hakikatnya semuanya adalah energi. Yang Ada hanyalah energi, Gusti adalah Energi Agung. Coba renungkanlah beberapa perwujudanmu.

 

Sang Pecahan Batu: Terima kasih sahabatku, engkau adalah teman Sangha-ku, yang mengingatkan hakikat ke-Buddhaan-ku, yang mengingatkan tentang Dharma-ku. Para seniman memahatku, orang suci mem-blessingku sehingga patungku dihormati, semuanya dengan tujuan meningkatkan kesadaran, mengingatkan hakikat ke-Buddha-an dalam diri. Jalan tol Jagorawi yang mulus menggunakan bangsaku sebagai fondasi jalan. Walau anak nakal tawuran melemparkan adikku yang kecil ke jidat orang sehingga bocor, aku berterima kasih atas peran yang Gusti berikan.

 

Sang Air: Dengan penuh kesadaran, mari kita bergandengan tangan bekerja menjadi adukan beton untuk memperkuat pembangunan gedung bertingkat lima ini.

 

Sang Pecahan Batu: Gusti memberi kita peran untuk  menghidupi ribuan keluarga pekerja bangunan, ratusan keluarga penjual material bahan bangunan  dan setelah selesai kita  memfasilitasi jutaan  manusia yang bekerja di dalam gedung yang ikut menggerakkan kehidupan dunia. Semoga semua manusia berbahagia.

 

Sang Air: Terima Kasih Keberadaan, saya melihat sahabat di depanku tidak lagi diam bersungut-sungut, membatu dan mematung. Kulihat kecerahan wajahmu. Gusti dalam dirimu telah mengungkapkan diri-Nya.

 

Sang Pecahan Batu: Terima kasih sahabatku. Dalam bangunan gedung beton kau adalah teman Sangha-ku. Dharma-ku adalah mendukung manusia dalam memperkuat bangunan. Aku menyadari aku adalah bagian dari percikan energi ke-Buddha-an. Terima kasih Guru, terima kasih Bapak.

 

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

 

Januari 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone