February 11, 2009

Kesadaran Manusia Sebagai Penyewa Dunia

Sehabis penyuluhan terhadap masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, seorang penyuluh ngudarasa, berkeluh kesah dengan penyuluh temannya. Mari kita dengarkan pembicaraan mereka.

 

Penyuluh pertama: Reformasi sudah berjalan hampir sepuluhan tahun, tetapi dampak negatifnya masih terasa. Bantaran sungai ini tadinya hanya berupa semak-semak tak terawat. Pejabat yang merasa sebagai penguasa pada waktu itu membiarkan pendukungnya mengolah bantaran sungai. Sehingga sekarang menjadi kemriyek, padat seperti saat ini, sulit untuk ditata. Padahal bencana banjir setiap saat mengintainya.

 

Penyuluh kedua:  Kami mengamati, pertama kali hanya ada tanaman kacang dan jagung, kemudian dilengkapi pohon pisang, seterusnya berdiri gubuk, gudang dan akhirnya menjadi rumah bertingkat. Setiap menjelang pilkada, apakah pemilihan Bupati/Walikota atau pemilihan Gubernur selalu saja penertiban terkendala, karena banyaknya, masyarakat bantaran sungai mempunyai jumlah suara yang signifikan dalam setiap pilkada.

 

Penyuluh pertama: Tugas kita adalah mengadakan penyuluhan bahwa tanah bantaran ini sebetulnya bukan miliknya. Sehingga tidak kaget apabila akan dilakukan penataan oleh Pemerintah.

 

Penyuluh kedua: Seharusnya masyarakat sadar bahwa tanah bantaran ini bukan miliknya. Tetapi, bukankah kita ini juga perlu sadar bahwa tanah ‘hak milik’ kita pun hakikatnya bukan milik kita juga?

 

Penyuluh pertama: Betul sekali temanku, seperti halnya para penghuni bantaran, Mind itu merasa bahwa istri, anak, jabatan, harta itu semuanya milikku. Seandainya saja manusia sadar semua itu milik-‘Nya’……………. Bukankah leluhur kita bilang, harta, jabatan dan keluarga itu hanya ‘gaduhan’, pinjaman dari-Nya. Untuk apa sedih kalau Dia mengambil milik-Nya. Yang penting kita memelihara dan mengamankan milik-Nya yang dipinjamkan kepada kita.

 

Penyuluh kedua: Manusia melenceng dari jalan yang lurus karena menggunakan ‘mind’-Nya. Manusia selalu digoda ‘mind’ agar mengikuti petunjuknya. Bagi saya pribadi Nabi Adam digoda syetan itu kalau diterapkan dalam diri maka syetan itu adalah ‘mind’ yang menggoda. Menuruti keinginan ‘mind’ lah yang membuat diri terlempar dari kebahagiaan sejati.

 

Penyuluh pertama: Saya pernah baca buku ‘ISA SANG MASIHA’ tulisan Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Cetakan Kelima 2005:Seorang Tuan Tanah menyewakan kebun anggurnya. Para petani bercocok tanam dan membayar dengan hasil panennya. Seorang Hamba diutus untuk mengambil apa yang menjadi haknya. Para petani malah beramai-ramai menganiaya. Dalam keadaan sekarat, Sang Hamba pulang ke rumah dan lapor kepada Majikannya. Kamu mungkin tidak dikenali mereka, kata majikannya. Maka dikirimlah seorang Hamba lainnya. Dia pun mendapat perlakuan sama. Lalu Ia mengutus anak-Nya. Mereka mesti menghormati Sang Putra. Para petani mengenali dia dari ciri-ciri yang dipunyainya. Tetapi, nasib sama menimpa anak-Nya. Kalian yang memiliki sepasang telinga hendaknya mendengarkan kisah ini”.

 

Penyuluh kedua: Setiap Guru selalu bicara dari pengalaman pribadinya.

Orang yang sibuk mengutip ayat-ayat suci. Esensi agama masih jauh dari diri.

Gusti Yesus tahu persis apa yang dapat terjadi terhadap diri pribadi, kendati demikian ia tidak akan berkompromi. Kebenaran tidak akan ditutup-tutupi.

 

Penyuluh pertama: Tiba-tiba aku diingatkan Guru dalam ‘Face Book’ :  God envelopes all, we all are in God… From the minutest amoeba to the farthest galaxy, all exist in God… Hence all equally venerable….  seperti disebutkan dalam Ayat Kursi: Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak mengantuk dan tidak tidur Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (2 : 255). Terima kasih Guru.

 

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

 

Februari 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone