February 27, 2009

Persahabatan dan Saptapadi, “7 Steps toward a happy marriage”

Sehabis mandi sepulang dari tugas ke luar kota, seorang suami bercakap-cakap dengan isterinya. Anak-anaknya sedang ‘ngenet’ di dekat mereka, sehingga tanpa sadar mereka menyimak percakapan ayah ibunya.

Sang Suami: Isteriku, tadi saya ikut pembinaan kepegawaian karyawan di Kudus. Pembicara yang diundang dari Badan Kepegawaian Daerah. Orangnya gaul dan banyak senda gurau, seluruh karyawan merasa betah mendengarkannya. Dalam hal urusan rumah tangga karyawan, dia menyampaikan hal yang lucu tapi mengena: “Sewaktu pacaran, pria banyak bicara dan wanita mendengarkan;  Setelah perkawinan, gantian wanita yang banyak bicara dan pria mendengarkan;  Setelah tiga tahun perkawinan pria banyak bicara wanita,  banyak bicara dan tetangga yang mendengarkan”. Hahaha…..

Sang Isteri:  Suami atau isteri yang menganggap dirinya benar, sebetulnya adalah benar menurut kerangkanya ‘mind’-nya sendiri. Kita lahir telanjang, tidak memakai  apa-apa, tidak tahu apa-apa, kalaupun  ada yang kita punyai, hanyalah sifat bawaan yang nantinya akan kelihatan kalau kita sudah lebih besar. Kemudian kita belajar dari ibu, keluarga, sekolah, lingkungan. Semua itu kemudian membentuk suatu kerangka. Kerangka yang berupa kumpulan pengetahuan masa lalu kita, kerangka dari semua ide kita. Seandainya kita mendapatkan sistem pendidikan yang berbeda, tempat kelahiran berbeda, lingkungan yang juga berbeda, apakah kerangka kita juga masih sama? Sehingga wajar kalau suami dan isteri mempunyai pemikiran yang berbeda, karena beda pengalaman, beda lingkungan, beda pendidikan. Hal itulah yang perlu disadari oleh para suami-isteri. Kerangka ‘mind’ yang berbeda.

Sang Suami: Aku ingat refrain lagu Sinden Tosca…. (Suami, istri dan anak-anak ikut nyanyi bersama) “Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Persahabatan bagai kepompong, hal yang tak mudah berubah jadi indah. Persahabatan bagai kepompong, maklumi teman hadapi perbedaan.  Persahabatan bagai kepompong, na na na na na……… Dalam persahabatan tak ada rasa iri, tak ada rasa keangkuhan dan tak ada rasa dendam. Begitulah seharusnya, hubungan suami-istri seharusnya berupa persahabatan. Isteriku ingat tidak buku: “SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage”, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2006?

Sang Isteri: Ingat sedikit-sedikit! Dimulai dengan saling menghargai, Inilah dasar utama dalam perkawinan, dalam hidup berumah tangga. Bila kita kawin hanya karena urusan seks, perkawinan kita pasti tidak tahan lama. Kegairahan seks selalu membutuhkan pemicu baru untuk bertahan. Dari mana pula kita akan memperoleh pemicu baru setiap hari, setiap saat? Maka kita akan mencari pasangan lain. Selanjutnya, berkomitmen untuk menjalani hidup bersama, “bila engkau berduka, aku akan menghiburmu, bila engkau suka, aku akan ikut bersuka cita”. Kemudian, meningkat menjadi berusaha bersama untuk mengisi hidup dengan kesucian dan kemuliaan, serta berupaya untuk memperkaya hidup dengan Kesadaran. “Apa pun yang terjadi di masa lalu, ya sudah… Masa lalu memang tidak bisa diperbaiki, termasuk konsekuensi dari perbuatan kita di masa lalu. Akibatnya harus dipikul, tetapi masa depan masih dapat diperbaiki. Masa depan lahir dari kandungan masa ini, dari hari ini”. Inilah kesadaran, dan kesadaran seperti inilah yang dapat memperkaya perkawinan.

Sang Suami: Betul isteriku, seorang suami berkata: “You have truly filled my heart with happiness, may you be filled with peace. Kau telah membahagiakan hatiku, semoga kedamaian mengisi hatimu pula”. Dan, seorang istri menjawab: “I will always support you in all your virtuous acts. Aku akan selalu mendukungmu dalam kegiatan-kegiatanmu yang baik dan mulia”.

Sang Isteri: Persahabatan, kemitraan – itulah tujuan perkawinan. Persahabatan adalah sesuatu yang luar biasa.persahabatan adalah langkah awal menuju Pertemuan Agung. Persahabatan dengan sesama manusia adalah anak tangga yang dapat mengantar kita kepada-Nya. Persahabatan tidak membutuhkan perekat lagi. Cinta pun sudah tidak dibutuhkan sebagai perekat, karena persahabatan lahir dari cinta itu sendiri. Tidak ada persahabatan tanpa rasa cinta. Seorang perempuan yang memahami suaminya, akan mengatakan: “Sempurna sudah persahabatan kita, maka aku berjanji tak akan mengganggumu dalam usaha-usahamu yang menguntungkan dan demi kebaikan sesama. Aku mencintai dirimu dan segala kegiatanmu itu”.

Sang Suami: Bila sudah demikian, maka suami-isteri memasuki wilayah suci perkawinan demi kesucian dan penyebaran kesucian. Sebarkan kesucian. Berbagilah kesucian itu dengan sesama manusia, dengan sesama makhluk hidup. Pasangan kita adalah sahabat kita dalam tugas suci ini. Inilah makna perkawinan yang dikenal oleh budaya asal kita; makna yang sudah terlupakan lama. Kita boleh beragama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, apa saja… makna perkawinan ini tidak melanggar nilai-nilai dasar yang ada dalam agama kita, karena makna perkawinan ini bersifat ‘user friendly’. Sangat layak bagi manusia dan kemanusiaan di dalam dirimu. Pasangan kita bukanlah milik kita, karena hanya Dialah Pemilik Tunggal Alam Semesta – Al Malik. Syukurilah keberadaannya di samping Anda, karena Ia telah menitipkannya kepada Anda.

Sang Isteri: Anak-anakku,  pahami makna buku: “SAPTAPADI, 7 Steps toward a happy marriage”. Dengan kesadaran seperti inilah hendaknya kamu nanti mengisi perkawinan, maka kebahagiaan pun akan datang sendiri. Kemudian, sebarkan kebahagiaan ini ke seluruh kota, ke seluruh negeri, ke seluruh dunia. Itulah langkah pertama menuju kedamaian dunia, kedamaian alam semesta. Mari kita melakukan sinkronisasi menyelaraskan diri dengan alam semesta. Terima kasih Guru.

 

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

Februari 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone