March 8, 2009

Calon Wakil Rakyat yang Patriotis, Profesional, Amatiran dan Coba-Coba

Wisnu, mahasiswa keponakan Pakdhe Jarkoni, pulang ke rumah dengan wajah tegang, nampaknya ada pemahaman baru yang ingin segera dimuntahkan, tetapi perlu diverifikasi kebenarannya, dengan cara mengajak Pakdhenya berdiskusi.

Wisnu: Sepanjang perjalanan ke kampus terpajang banyak foto dengan berbagai slogan dan berbagai penampilan. Saya ingat gurauan teman yang biasa datang ke cafe remang-remang. Katanya pernah seorang pemuda berjaket hitam datang menawari, “Mas kami punya foto-foto mereka, mau ‘ngersakke’, ingin yang nomer berapa?” Daftar foto tersebut dilengkapi dengan berbagai fashion dan pose yang menawan! Kehandalan seseorang ditawarkan melalui foto dengan berbagai atribut dan motto. Cukup efisien, akan tetapi apa bisa memenuhi kriteria wakil rakyat suatu bangsa yang besar?

Pakdhe Jarkoni: Asem! Kamu menyamakan jualan foto calon wakil rakyat dengan jualan foto syuur. Ada beberapa kriteria pengabdi bangsa, dari yang profesional, amatiran, coba-coba dan seorang patriotis. Apa bisa kriteria kehandalan  terwakili dengan foto baliho? Yang sudah menjadi pengamat ekonomi handal saja, begitu masuk eksekutif belum tentu bisa meningkatkan kinerja pemerintah?

Wisnu: Pekerja profesional, adalah pekerja yang sehari-hari menekuni profesinya, dia hidup dari profesi tersebut. Dia bertanggung jawab atas pekerjaannya dan menggunakan waktunya dengan begitu efisien. Hidupnya untuk kerja dan pengembangan diri dalam bidangnya. Dia bergaul dengan kolega yang menunjang keprofesionalannya. Dia membentuk team-work dengan orang-orang yang mempunyai visi misi yang sama. Mereka yang sejak sekolah ikut organisasi, sudah berpengalaman dalam berorganisasi pantas menjadi calon wakil rakyat yang profesional.

Pakdhe Jarkoni: Mereka yang bekerja hanya untuk hobby, pekerjaan sehari-harinya bukan di bidang tersebut, dan hidupnya didukung bukan dari pekerjaan tersebut mereka hanya amatiran. Ada lagi yang sekedar punya kepopuleran, ada juga yang coba-coba investasi, siapa tahu ‘kena’ dan dapat penghasilan tetap, terkenal lagi. Siapa yang tidak ingin?

Wisnu: Seandainya para pemilih sadar harga seorang wakil rakyat bagi perkembangan bangsa. Kenyataannya di pelosok masih banyak yang menunggu ‘serangan fajar’. Keputusan mahkamah konstitusi MK atas uji materi UU No 10 tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD. Menetapkan calon terpilih ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak berarti menggoyangkan keputusan partai politik yang memperingkat calon berdasar nomor urut. Politik uang berbelok, yang tadinya ke partai akan gencar mengalir ke masyarakat. Mereka yang pragmatis akan memperoleh keuntungan. Harus diakui caleg yang duduk di DPR 2004 sebagian besar belum pernah turun dan menyalurkan aspirasi pemilih di daerah pemilihannya. Politik uang adalah salah satu cara meraih suara dengan cepat. Sekitar 150.000 suara untuk jadi anggota DPR, dan 60.000 suara untuk jadi anggota DPRD Provinsi. Panjar dulu kepada pemuka desa 50%. Apabila berhasil sisa kekurangannya baru diberikan. ‘Serangan fajar’ hanya lima kali dalam lima tahun. Pilpres, pilcaleg, pilgub, pilbub/pilwali dan pilkades. Seandainya saja semua orang sadar bahwa suara hati nurani mereka telah digadaikan demi segepok uang. Seandainya semua orang sadar bahwa akan datang suatu masa ketika mulut dikunci dan anggota badan dimintai pertanggungan jawab. Semuanya hanya tinggal teori. Petunjuk ‘Din’ telah dilupakan.

Pakdhe Jarkoni: ‘Tumbu oleh tutup’, ‘klop’, konon banyak calon wakil rakyat yang profesional dalam cari duwit. Buktinya ada saja wakil rakyat  yang ketangkap KPK. Pakdhe merindukan calon wakil rakyat yang patriotis. Mungkin sekarang belum profesional, tetapi kehidupannya sehari-hari hanya dipersembahkan kepada Ibu Pertiwi. Dia begitu yakin, apabila dia terus berjuang demi Ibu Pertiwi, maka Ibu Pertiwi akan mencukupi kebutuhannya. Tujuannya mengabdi dan bukan materi.

Wisnu: Maksud Pakdhe, seperti yang didalam buku “5 Steps to Awareness, 40 Kebiasaan Orang yang Tercerahkan”, karya  Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2006? Yang intinya: 1. Kenalilah diri; 2. Jaga pergaulan, hindari pergaulan yang tidak menunjang; 3. Pertahankan kesadaran diri; 4. Selalu tekun dan bersemangat; dan 5. Selalu berkarya sesuai dengan kesadaran diri. Itu profesional juga spiritual Pakdhe.

Pakdhe Jarkoni: Memang bangsa kita terlalu terfokus kepada materi. Semua dipertimbangkan berdasar materi. Pakdhe teringat kisah Prabu Yudhistira bermain dadu mempertaruhkan kerabat dan negaranya di atas meja judi. Dan Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa diam seribu bahasa. Sekarang hal ini terjadi di depan mata dengan ‘setting’ yang berbeda. Kesadaran sering datang terlambat. Dan, terjadilah perang hancur-hancuran Bharatayudha gara-gara awalnya kecurangan di meja judi. Fokus materi membuat masalah besar di kemudian hari. Baik Eksekutif, legislatif, yudikatif, masyarakat semuanya pemuja duit. Gusti mohon ampun, istighfar! Bhima, Arjuna, bangkitlah!!

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

Maret 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone