April 19, 2009

MENJADIKAN TRADISI SEBAGAI TUMPUAN KREATIVITAS

1.  Tradisi

Sesuatu disebut tradisi apabila hal itu sudah tersedia di masyarakat, berasal dari masyarakat generasi sebelumnya, yaitu telah mengalami penerusan turun-temurun antargenerasi. Tradisi berwujud sebagai barang dan jasa serta perpaduan antara keduanya. Sebagai barang, tradisi merupakan produk dari masa lalu yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebagai jasa, tradisi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, yang jenis dan caranya sudah tertentu. Kegiatan yang demikian itu diwariskan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Dalam produk barang dan jasa itu terkandung nilai dan norma yang juga ikut diwariskan bersama-sama dengan barang dan jasa yang mengandungnya.

Tradisi itu diteruskan dalam ruang dan waktu dengan perbuatan berbahasa, baik secara lisan maupun secara tertulis, dan dengan perbuatan pengindraan, perbuatan jasmani serta perbuatan rohani. Perbuatan-perbuatan tersebut dapat dibedakan, tetapi dalam perwujudannya berpadu saja. Berdasarkan medium yang digunakan dalam mentransmisikan tradisi itu, lalu tradisi, secara garis besar, dikelompokkan atas tradisi lisan (yaitu yang diteruskan dengan bahasa tulis dalam bentuk naskah).

Cakupan tradisi itu sangat luas, meliputi berbagai hal yang menjadi konteks dalam kejadiannya. Terdapat tradisi yang berkenaan dengan alam fisik (tanah, air, udara, cahaya, benda-benda langit, dsb), alam hayati (tumbuhan, binatang), masyarakat, budaya, dan kehidupan beragama.

Berkenaan dengan cakupan tradisi yang sangat luas itu, diadakan usaha untuk mengelompokkannya. Tentang tradisi lisan, Unesco mengelompokkannya atas sastra lisan, teknologi tradisional, pengetahuan folk, unsur-unsur religi dan kepercayaan folk, dan hukum adat (di Indonesia dikeluarkan dari tradisi lisan sebab sudah merupakan bagian khusus dari ilmu hukum Indonesia)

Untuk memperoleh gambaran mengenai isi setiap kelompok itu, di bawah ini diberikan contoh-contoh tradisi yang menjadi perinciannya.

1)  SASTRA

  • Dongeng : mite, legenda
  • carita pantun
  • babad dan hikayat (umumnya dalam bentuk naskah wawacan)
  • mantra (ajian, jangjawokan, peleti dsb)
  • sisindiran
  • pupujian
  • kakawihan
  • sawer
  • Paribas
  • Cacandran
  • Tatarucingan

2)      TEKNOLOGI TRADISIONAL

  • peralatan produktif
  • peralatan upacara
  • alat bunyi-bunyian
  • senjata tradisional
  • wadah
  • pakaian dan tekstil
  • anyaman
  • bangunan pemukiman
  • alat transportasi
  • makanan dan minuman

3)      PENGETAHUAN FOLK

Tentang

  • lingkungan alam
  • alam flora, tanaman berkhasiat
  • alam fauna
  • zat dan bahan mentah
  • tubuh manusia
  • sifat manusia (ilmu firasat)
  • ruang waktu dan angka (ilmu patangan)

4)      PERISTIWA DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA

  • tradisi yang menyertai peristiwa keagamaan

5)      KESENIAN

  • patung, relief, ukir,sungging, lukis, gambar
  • tenun
  • rias
  • vokal
  • tari
  • penca silat
  • karawitan
  • longer, lenong, banjet, sandiwara

Itulah, sekadar contoh. Peletakan contoh pada setiap kelompok pun masih dapat dipertimbangkan kembali.

2. Ketahanan Tradisi

Perlu digambarkan juga bagaimana keadaan ketahanan tradisi itu, yaitu ketangguhannya, kemampuannya menghadapi kesulitan, dan kemampuannya berkembang.

Tradisi yang tangguh adalah tradisi yang tetap hidup, yaitu ada dalam komunitasnya, hadir dalam kegiatan masyarakat, menjalankan fungsinya dalam konteks kehidupan. Terjadi penyebaran dan penerusan kepada anggota masyarakat segenerasi dan antargenerasi. Dalam keadaan masyarakat dan budaya yang berubah, terjadi penyesuaian dalam struktur, makna dan fungsinya, sehingga berbagai jenis tradisi itu hadir dalam wujud yang serasi dengan perilaku manusia yang menggunakannya.

Keadaan ketangguhan tradisi mengalami masalah, apabila kehadirannya dalam kehidupan masyarakat menjadi jarang. Dengan demikian, penyebaran dan penerusan tradisi itu pun mengalami hambatan.

Ketahanan tradisi itu nampak pula dari kemampuannya menghadapi kesulitan yang timbul dari keadaan baru, berupa perubahan lingkungan fisik, lingkungan hayati, kehidupan masyarakat serta budaya, dan kehidupan beragama. Keadaan baru itu memberikan tantangan dan peluang kepada tradisi. Tradisi yang dapat menemukan peluang baru dalam tantangan yang dihadapinya, memunculkan pemikiran, pemerasaan, serta pengimajinasian baru, dan melakukan modifikasi atau kreativitas.

Terjadinya perubahan-perubahan itu sering menimbulkan masalah yang tidak teratasi oleh pendukung tradisi. Kerusakan lingkungan hidup, misalnya, menyebakan tradisi kehilangan konteks, dan karena itu kehilangan rujukan untuk kehadirannya. Begitu juga perubahan di bidang kemasyarakatan, kebudayaan, dan kehidupan beragama, dapat menimbulkan kesulitan yang tidak teratasi oleh pendukung tradisi, dan karena itu, perlu mendapat dukungan berbagai pihak.

Kesulitan lainnya yang dihadapi oleh tradisi datang berupa ancaman yang merombak atau memusnahkan sistem tradisi itu sendiri. Struktur dan makna tradisi, begitu pula fungsinya dalam kehidupan, menjadi rusak oleh ancaman dari luar. Untuk dapat bertahan dalam menghadapi ancaman itu, tradisi harus mampu memperkuat sistemnya agar tetap utuh dan sesuai dengan identitasnya sendiri.

Tradisi yang memiliki ketahanan yang handal, yaitu yang keadaannya tangguh dan mampu menghadapi tantangan dan ancaman, kehidupannya terus berlangsung. Tradisi yang demikian dapat berkembang, membaharu menjadi lebih bervariasi, lebih luas penyebarannya, dan dapat menemukan posisi yang lebih baik dalam konteks kehidupan.

Tradisi yang tidak dapat bertahan mengalami keadaan sebagai berikut:

  • Tidak dapat mengikuti perjalanan kehidupan yang menjadi konteksnya, lalu terdiam, membeku, dan tersisa sebagai kepingan masa lalu.
  • Kehadirannya dalam kehidupan masyarakat semakin jarang, sampai, pada akhirnya, hilang. Akibatnya, strukturnya juga menciut dan konteksnya terputus.

3. Kreativitas

Kreativitas, sebagai kemampuan untuk mencipta, untuk menghasilkan sesuatu yang baru, merupakan kemampuan untuk bergerak maju. Terjadilah produk barang dan produk jasa serta nilai-nilai yang dikandungnya, yang lebih baik, yang lebih indah, yang lebih benar, yang lebih berguna, yang lebih efisien, deb., yaitu lebih memuaskan pihak yang membutuhkannya.

Kreativitas sebagai gerak maju atau gerak meninggi, tentulah memerlukan dasar untuk berpijak. Dasar itu berupa hasil-hasil kegiatan di sepanjang jalur yang sudah ditempuh oleh masyarakat dari generasi-generasi yang terdahulu, yang sudah terwujud sebagai tradisi dalam kebudayaannya. Dalam tradisi yang sudah terbentang itu, sesungguhnya, telah terjadi pembaharuan, telah terjadi inovasi demi inovasi, sebab pembaharuan merupakan bagian dari tradisi yang hidup. Tradisi yang tidak mampu membaharu, akan menjadi tradisi yang terhenti, tidak memiliki daya hidup.

Tradisi dapat menjadi dasar bagi penciptaan kebudayaan baru, yaitu dalam membentuk dan mengembangkan kehidupan budaya bangsa serta menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Terdapat beberapa alasan :

  1. Tradisi merupakan bagian dari budaya serta mempunyai kandungan unsur budaya yang banyak.
  2. Tradisi merupakan bagian dar budaya yang sekaligus mencerminkan pula budaya keseluruhannya.
  3. Tradisi dalam suatu unsur budaya mempunyai kaitan yang erat dengan unsur-unsur budaya lainnya.

Demikianlah, tradisi memiliki potensi yang dapat diwujudkan untuk pengembangan budaya. Potensi itu akan menjadi potensi yang terpendam saja jika tidak dilakukan usaha yang sungguh-sungguh dalam mengelola tradisi. Perlu dilakukan usaha agar tradisi dapat hadir dan berfungsi dalam kehidupan masyarakat dan budaya masa kini dan yang akan datang.

4. Untuk Seribu Tahun yang Kita Hadapi

Dengan terus-menerus membicarakan tradisi, sebagai potensi yang merupakan tenga dalam dari suatu masyarakat, bukanlah berarti menumbuhkan sikap anti terhadap pengaruh dari luar. Kontak-kontak dengan gelombang dari luar telah dialami oleh masyarakat kita, yaitu dengan gelombang agama dan budaya Hindu, agama dan budaya Islam, agama dan budaya Kristen. Gelombang demi gelombang itu ternyata tidak menenggelam kebudayaan bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia, sepanjang dua millenium mampu bertahan dalam tradisinya dan berkembang dengan menggunakan pengaruh luar sebagai rujukan baru dalam penciptaan, yaitu hasil kontak itu diintegrasikan ke dalam apa yang sudah tersedia sebelumnya. Dengan demikian, terjadi pembaharuan dalam kebudayaan di Indonesia, dan sekaligus terjadi pengayaan terhadap tradisinya. Dengan cara itu pula kontinyuitas kehidupan budaya terjadi.

Hasil-hasl tradisi yang sudah tersedia sebelumnya itu tidaklah terdesak lalu musnah, melainkan tetap hidup dan berinteraksi dengan bahan-bahan baru, sehingga terjadilah perubahan dan pemancamragaman, yang menyediakan pula potensi bagi penciptaan.

Berdasarkan pengalaman masa lalu dalam berhadapan dengan pengaruh luar, yang telah berhasil dengan selamat, maka di masa kini pun kita tetap mengusahakan keselamatan, kemanfaatan, dan kenikmatan dalam berhadapan dengan pengaruh luar yang biasa disanjung dan dielu-elukan sebagai ‘globalisasi.’ Kita sudah manggapulla (survive), dalam dua millenium, maka marilah kita berbuat untuk kejayaan sepanjang seribu tahun yang sedang kita hadapi! Insya Allah.

Oleh Prof. Dr. Yus Rusyana *)

*) Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Disampaikan pada acara Diskusi Bulanan Nasional Integration Movement (NIM) bertema : ”Membangun Bangsa dengan Persatuan yang berdasar pada Semangat Mencintai Budaya Bangsa dan Kearifan Lokal,” dalam rangka  menyambut HUT NIM ke-4 di One Earth, Ciawi-Bogor.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone