May 20, 2009

Antara Kebangkitan Nasional dan Kebangkitan dari Keterpurukan Bangsa

Sebuah Refleksi Hari Kebangkitan Nasonal ke 101 tahun 2009

 

Kaitan Masa Lalu dan Masa Depan

Sebagai  marka perjalanan sebuah bangsa, Hari Kebangkitan Nasional  (Harkitnas) harus terus dikumandangkan dan dilakukan rekontekstualisasi sesuai masanya. Sebuah bangsa tidak pernah lahir dan jadi begitu saja, akan tetapi  selalu berproses, dan karena itu selalu dalam keadaan menjadi, yaitu selalu dalam proses lahir kembali. Kesadaran ini harus kita tanamkan dalam memperingati Harkitnas.

Bapak Anand Krishna dalam buku THE GITA OF MANAGEMENT, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 mengetengahkan kaitan antara masa lalu dan masa depan dengan gamblang.

Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Coba perhatikan. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita ada masa depan tanpa masa kini? Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan masa remaja; antara masa remaja dan masa di mana kita menjadi lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama.

Dengan titik tolak pemikiran seperti itu kami mencoba merefleksikan sebuah Bangsa Indonesia. Masa Lalu Bangsa yang kita anggap sudah berlalu itu sesungguhnya tidak pernah berlalu. Ia hanya mengendap. Kemudian, yang muncul di permukaan adalah Masa Lain. Masa Depan yang tidak atau belum nampak itu pun sesungguhnya tidak muncul pada suatu saat tertentu. Kita semua sedang menuju ke Masa Depan; Masa Depan kita sedang dalam proses “menjadi”. It is a happening. Ya, Masa Depan tidak terjadi pada saat tertentu, tetapi adalah proses “menjadi” dari saat ke saat. Saat ini Bangsa Indonesia  “merasa” hidup dalam Masa Kini. Apa betul demikian? Tidak juga. Ketika kami menulis kata-kata ini, untuk sesaat itu saja, untuk seberapa detik itu saja Bangsa berada dalam Masa Kini; sesaat kemudian, seperberapa detik kemudian, Masa itu berlalu sudah. Kendati demikian, apa yang kita lakukan saat ini menentukan apa yang dapat terjadi pada diri kita sesaat kemudian.

 

Marka Perjalanan Bangsa

Dalam DNA kita tersimpan sejarah masa lalu leluhur kita, baik dari zaman Homo Soloensis, Zaman Sriwijya maupun Zaman Majapahit. Akan tetapi sebagai sebuah Bangsa Indonesia, pengalaman masa lalu tersebut mewujud dalam beberapa marka penting. Pertama 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nsional, Kedua 28 Oktober 1928 sebagai Hari Sumpah Pemuda, Ketiga 17 Agustus 1945 sebagai  Hari Proklamasi Kemerdekaan.

Bagi Seniman WS Rendra, meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka , tetapi Rakyat Indonesia , atau Bangsa Indonsia , belum merdeka . Adapun para penguasa yang membelenggu adalah Pemerintah dan semua partai politik yang ada . Adalah kenyataan kebudayaan sejak dari zaman raja-raja , zaman kolonialisme Belanda , kolonialisme Jepang , penjajahan rezim Orde Lama dan penjajahan rezim Orde Baru , rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh untuk bebas berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan , urusan pemerintahan dan urusan kenegaraan .

Di zaman raja-raja dan kolonialisme Belanda , rakyat adalah “kawulo” atau hamba Sang Raja . Di zaman kolonialisme Jepang rakyat adalah barisan massa budak yang harus membantu Dai Nippon dalam perang antar imperialis yang disebut Perang Dunia ll . Sedang di zaman rezim Orde Lama , rakyat adalah massa revolusi dan bagi partai-partai politik rakyat sekadar dianggap sebagai barisan massa partai . Kemudian di zaman penjajahan rezim Orde Baru rakyat tetap saja diangap sebagai “koor bebek”. Pemerintah menganggap mereka sebagai massa pembangunan yang harus mendapatkan penataran-penataran . Cara berpikir dalam bidang apapun diseragamkan .

Pemusatan kekuasaan Lembaga Eksekutif Orde Baru semakin berlebih-lebihan sehingga melumpuhkan daya hidup masyarakat . Rakyat yang tidak berdaya adalah rakyat yang kehilangan kemanusiaannya. Kekuasaan Pemerintah atau Lembaga Eksekutif yang absolut menjadi berhala yang mengobrak-abrik tatanan nilai moral dan peradaban , sehingga akhirnya terjadi proses erosi kemanusiaan didalam kehidupan berbangsa.

Itulah tadi gambaran keadaan Rakyat Indonesia yang disimpulkan WS Rendra sebagai gambaran rakyat yang tidak merdeka, yang tidak punya hak hukum terhadap Lembaga Eksekutif , dan karena itu tidak punya kepastian hidup didalam negaranya sendiri .

Gerakan reformasi telah terjadi . Namun , sejak permulaan Gerakan Reformasi sampai kini, kekuatan rakyat , kedaulatan rakyat , kemerdekaan rakyat tidak pernah diperjuangkan secara konkrit dan eksplisit oleh para elite politik di DPR , MPR. Yang secara getol diperjuangkan oleh para elite politik adalah posisi dan kekuatan partai-partai politik dan golongan . Bukan kedaulatan Rakyat .

Mereka menyangka diri mereka sendiri adalah suara rakyat dan kekuatan rakyat . Padahal mereka sebenarnya hanyalah golongan politik saja , diantara golongan-golongan lain di dalam masyarakat. Mereka pikir kedaulatan golongan mereka sudah merupakan kedaulatan seluruh rakyat . Lalu apa bedanya sikap gede rasa semacam itu dengan sikap rezim Orde Lama dan Orde Baru , yang menganggap kedaulatan Lembaga Eksekutif itu adalah kedaulatan seluruh rakyat , dan bahkan juga kedaulatan Negara ?

Bukankah ini sikap para raja feodal agraris yan menganggap diri mereka sebagai Ratu Adil ? Lalu apa artinya segala macam reformasi ini ? Dengan sikap para elite politik semacam ini daur ulang dari rezim Kerajaan dahulu , rezim Orde Lama , rezim Orde Baru tetap terjadi .

 

Bangkit dari keterpurukan bangsa

Bapak Anand Krishna mengambil jalur yang jarang ditempuh oleh penafsir buku kuno “Jangka Jayabaya”. Alih-alih menantikan seorang tokoh hebat yang akan memimpin kita, beliau melihat Jayabaya bicara mengenai kerinduan akan penemuan jatidiri setiap manusia Indonesia. Jangka Jayabaya adalah ajakan untuk mentransformasi diri, mengalahkan ketakutan. Lebih dari sekedar ramalan, naskah kuno ini memaparkan tuntutan waktu supaya kita hidup dalam kekinian, dengan penuh semangat, dan berkarya tanpa rasa takut. Karena itu, kita tak perlu menantikan Herumukti, sebab dia itu adalah Anda! Sambut kelahirannya dalam diri Anda!  Buku JANGKA JAYABA, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005

Dunia kita terbagi dalam dua kelompok besar ini. Pertama, kelompok yang malas dan mengharapkan perubahan. Kedua, kelompok yang rajin dan mengakibatkan terjadinya perubahan. Celakanya, kelompok pertama selalu mayoritas. Dominasi mereka tidak pernah surut. Jumlah para pemalas selalu lebih banyak. Banyaknya jumlah pemalas itu telah mempengaruhi seluruh budaya kita. Lebih banyak di antara kita yang “berharap” daripada yang bekerja untuk mewujudkan harapan itu. Para New-Agers adalah kelompok yang paling malas. Dari sebutan New-Agers itu sendiri kita bisa lihat bahwa mereka tergantung pada “age”, pada zaman, pada masa, pada sesuatu yang baru, yang didatangkan oleh zaman baru. Mereka belum paham bahwa pembaharuan itu mesti terjadi dari diri sendiri. New-Age tidak berarti apa-apa jika manusia tidak menjadi “Neo”, “Baru”. FEAR MANAGEMENT, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 halaman 12.

Kelompok penunggu Ratu Adil, penunggu Herumukti, penunggu Satrio Piningit, penunggu berakhirnya zaman Kalabendu, harus mengubah diri. Setelah banyak yang mengubah diri, maka sesuai hukum “Law of Attraction” maka akan muncul dengan sendirinya pemimpin yang selaras dengan hasrat perubahan.

Arjuna-Arjuna Bangkitlah! Mulailah dari Diri Sendiri!

Terima Kasih Guru.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

Mei 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone