May 24, 2009

Bakti Burung Garuda Kendaraan Wisnu Terhadap Ibu

Kisah tentang telur yang lama menetas. Mempunyai tugas mulia melepaskan Ibu dari perbudakan. Memiliki sifat berani dan tidak ragu yang merupakan modal utama dalam meniti jalur spiritual. Dan, pada akhirnya  dijadikan kendaraan Sang Pemelihara Alam.

 

Patung Garuda Wisnu Kencana

Tiket Promo bagi seseorang yang bepergian sangat berarti, karena bisa mencapai separuh harga dari tiket biasa. Harganya di sedikit di atas perjalanan naik bis, sedangkan waktunya jauh lebih singkat. Hanya saja, di kala orang masih terlena dalam mimpi, kami harus sudah di airport, jam setengah empat alarm berbunyi, dan jam empat pagi sudah mandi. Keuntungannya berangkat dini adalah waktu yang hampir selalu tepat, karena merupakan flight pertama. Tiket promo, bisa juga berarti, sewaktu orang lain sudah santai di depan tivi sebelum masuk peraduan, para penumpangnya  masih berada di udara, ditambah lagi flight terakhir biasanya selalu telat. Wong namanya promo, perlu disyukuri, Alhamdulillah, Puji Tuhan.

Sepulang dari perjalanan Denpasar Jogya dengan tiket promo, kami mampir ke Solo, karena hari masih pagi dan tidak terburu-buru ke Semarang. Masuk halaman rumah, kami melihat patung yang tak terduga. Kami diberitahu bahwa seorang teman lama, orang tuanya meninggal dan dia menitipkan patung ke rumah. Patung Garuda Wisnu Kencana. Sudah ada patung Semar, Ganesha, Kresna dan Dewi Sri, masih ada satu tempat kosong yang rencananya diperuntukkan bagi Parvati. Sekarang di tempat tersebut telah berdiri sebuah patung Garuda Wisnu Kencana.

Kasih Burung Garuda

Dewi Winata dan Dewi Kadru adalah puteri Dhaksa, dan keduanya beserta saudari-saudarinya menjadi isteri dari Bhagawan Kasyapa. Dewi Kadru melahirkan ribuan telur dan telah menetas semuanya menjadi ular, yang diantaranya adalah Naga Taksaka dan Basuki. Dewi Winata cemburu, karena dua telornya belum menetas juga, maka satu telurnya dipecah, dan keluar burung Arun yang masih setengah jadi, tanpa punya bagian perut ke bawah. Sang Dewi pun dikutuk Sang Putra bahwa Sang Ibu akan menjadi budak.

Pada suatu hari, Dewi Winata terlibat pertaruhan dengan Dewi Kadru mengenai warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera. Dewi Winata bertaruh bahwa kuda tersebut ekornya berwarna putih. Para ular memberi tahu Dewi Kadru, Sang Ibu bahwa dia akan kalah, karena memang ekor kuda tersebut berwarna putih. Dewi Kadru meminta anak-anaknya menutupi ekor kuda agar ekornya nampak berwarna hitam. Ular yang menolak dikutuk akan mati sebagai persembahan. Mereka yang menolak amat sedih dan bertapa mohon keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat bahwa ekor kuda berwarna hitam dan Dewi Winata menjadi budak Dewi Kadru untuk memelihara ular-ular putranya.

Telor Winata akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada ibunya yang telah menyebabkan dirinya lahir di dunia. Dalam diri Garuda sudah ada benih kasih. Dia mencari ibunya dan akhirnya mengetahui bahwa ibunya menjadi budak perawat para ular. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular sangat lincah. Garuda bertanya dengan pengganti apa, dia dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Para ular meminta “tirta amerta”, air yang membuat “a-merta”, tidak mati. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan air tersebut. Segala halangan dan rintangan dilewatinya.

 

Benih kasih yang berpotensi menjadi bhakti dalam diri Garuda

Dewa Wisnu melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Seorang Guru telah melihat adanya benih kasih dalam diri muridnya. Dia paham bahwa benih tersebut berpotensi mekar menjadi lembaga dan muridnya dapat mencapai keadaan bhakti. Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah berani dan yakin, fearless and no doubt terhadap Kebenaran. Garuda dalam berupaya menyelamatkan ibunya telah melepaskan pertimbangan-pertimbangan. Seorang murid yang datang ke Ashram dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti mendapatkan ilmu, atau dia masih berpikir akan dikucilkan keluarga dan masyarakat belum pantas menjadi murid. Dia belum berserah diri. Dia masih menggunakan belahan otak kiri yang penuh pertimbangan. Dia boleh bilang no-mind, tetapi belum melaksanakannya. Seorang Mira Bhai, bahkan meninggalkan istana suaminya demi cinta Ilahi.

Bahkan seorang Prahlada, yang amat sangat bijak pun , saat meminta Wisnu untuk mengampuni Hiranyakasipu Sang Ayah, dia masih mempunyai keterikatan. Pada saat itu dia belum menjadi bhakta. Seorang Ibrahim yang dimuliakan alam pun diuji keterikatannya terhadap sang putera sebelum menjadi bhakta. Seorang yang menyatakan diri sebagai bhakta dari seorang Guru tertentu, perlu introspeksi, yang memberi gelar itu siapa? Apakah Gurunya sendiri? Kalau hanya memberi gelar pada diri sendiri itu termasuk ego. Kalau memproklamirkan diri sebagai hamba, perlu introspeksi, yang memberi sebutan itu siapa? Kalau yang memberi itu diri sendiri, bukankah itu bentuk ego yang halus? Dan selama ada ego, maka diri belum selaras dengan alam. Bukankah matahari menghidupi kehidupan, air membasahi kehidupan, tanah menyangga  kehidupan dan mereka tidak mempunyai ego selain hanya bersifat melayani?

Wisnu melihat benih kasih itu dalam Garuda ketika mencari tirta amerta. Wisnu bermaksud memberikan tirta amerta untuk diminum Garuda, tetapi Garuda menolak. “Terima Kasih Gusti, tirta amerta ini untuk membebaskan ibu saya dari perbudakan. Saya percaya kebijakanmu, saya yakin tidak ragu, bila memang tetap mau memberi anugerah, berikanlah anugerah lainnya, Gusti”. Wisnu amat berkenan dengan etika Garuda dan meminta Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda tidak hanya mendapatkan hidup abadi, tetapi dia bisa setiap saat mendampingi Yang Maha Memelihara, sebuah keadaan penuh berkah bagi seorang bhakta.

Selanjutnya, Garuda mohon pamit untuk menyelesaikan tugas keduniawiannya, membebaskan perbudakan ibunya. Kita-kita ini selalu menunda panggilan Ilahi. Guru adalah Duta Ilahi, yang mengingatkan kita adanya benih kasih di dalam diri. Lepaskan ego. Dan Tuhan ada dimana-mana, dalam diri pun ada Dia, selama ego terlampaui. Kita-kita ini terikat kesenangan dunia dan tak mau cabut dari kesenangan panca indera. “Krishna yang bahagia selamanya, Ananda Krishna!” “Mohon bimbinglah kami, agar kami cepat selesai dalam melaksanakan tugas keduniawian”, demikian ungkapan Arjuna sesaat sebelum  melakukan tugasnya berperang melawan para Korawa di medan Kurukshetra. Masing-masing kita pun juga mempunyai tugas menjalankan dharma mengalahkan adharma di medan Kurukshetra dunia.

Di tengah perjalanan Dewa Indera menghentikan Garuda dan berpesan kepadanya, agar memberikan tirta amerta kepada para ular setelah mereka membebaskan Dewi Winata, dan setelah mereka mandi membersihkan diri dari kesalahan yang telah dilakukan mereka. Para ular, mematuhi permintaan Garuda, membebaskan Dewi Winata, dan mandi mensucikan diri.  Para ular lupa kesalahan mereka yang karena takut dikutuk ibunya, mereka pernah mengikuti Dewi Kadru sang Ibu untuk berbuat tidak benar. Ketika mereka sedang mandi ,tirta amerta direbut para Dewa, dan para ular tetap akan tetap mati walau dia dapat berganti kulit, meremajakan diri. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi.

Terima kasih para “founding fathers” yang telah memilih Burung Garuda kendaraan Sang Pemelihara Alam menjadi simbol pembawa Pancasila. Pancasila akan “memelihara” keutuhan NKRI. Dalam Garuda kita tertulis “afirmasi persatuan”. Sahabat-sahabtaku mari kita pertahankan Pancasila dan afirmasi, mantra, japa “ Bhinneka Tunggal Ika” dalam Burung Garuda tercinta. Burung Garuda yang telah membebaskan Ibu Pertiwi dari perbudakan, penjajahan.

 

Bhakti satu-satunya jalan

Waktu di dunia amat pendek kata Guru, silahkan menuju tujuan memakai becak dan bersantai ria, tetapi bagi yang usianya sudah senja, tak ada jalan lain menuju dia kecuali jalan Bhakti, naiklah wahana yang cepat. Dan tidak mudah mengikuti jalan Garuda, ada jalan para angsa  yang mungkin lebih sesuai bagi kita.

Dalam buku Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 dijelaskan tentang sebuah kelompok angsa.

Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan “daya dukung” bagi burung yang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusuah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian…….. Kalau seekor angsa terbang ke luar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya………. Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya……. Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.

Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain……… Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersana-sama……….. adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama, bergantian. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya…….. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama saling menguatkan) adalah kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan……. Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama (atau bahkan lebih) seperti ketika segalanya baik!

Dalam tradisi Hindu, seorang suci disebut Paramhansa, Angsa Besar – Ia Yang Berjiwa Angsa. Seorang Paramhansa “datang” untuk menjemput kita. Kedatangannya semata-mata untuk membantu kita. Dia adalah Angsa Sejati, Sahabat Sejati. Dekatilah para Paramhansa. Mendekati mereka berarti mendekati kebenaran. Dan mendekati kebenaran berarti mendekati kasih – The Ultimate Truth.

Terima Kasih Guru, terima kasih sahabat-sahabat perjalananku. Semua berkat rahmat Guru.

Jay Gurudev!

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

Mei 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone