May 17, 2009

Dan Udawa pun Menangis……………….

Sahabat Kresna Kecil

Udawa secara genetika adalah putra Prabu Basudewa dengan Nyai Segopi yang cantik, akan tetapi sewaktu Udawa masih berada dalam kandungan, Nyai Segopi diserahkan pada Antagopa. Secara resmi Udawa adalah putra Antagopa dengan Nyai Segopi. Wajah Udawa menyerupai Raden Baladewa, kakak kandung Prabu Kresna,  dan kedua saudara tersebut  merupakan putra-putra  Prabu Basudewa.

Menurut versi Jawa, Kangsadewa mempunyai rencana untuk membunuh semua putra Prabu Basudewa agar dia bisa menguasai Kerajaan Mandura yang dipimpin oleh Prabu Basudewa. Oleh karena itu, ketiga putra Prabu Basudewa yaitu Kakrasana (nama Baladewa sewaktu kecil), Narayana (nama Prabu Kresna sewaktu kecil) dan Dewi Subadra (yang nantinya menjadi istri Arjuna)  disembunyikan di desa Widarakandhang tempat tinggal Antagopa dan Nyai Segopi. Sejak saat itulah Udawa kecil mempunyai hubungan yang sangat erat dengan “Kakang” Narayana.

 

Menjadi seorang “Gyaani”

Interaksi dengan Narayana meningkatkan kesadaran Udawa. Pada waktu dia mulai ikut berperang sebagai prajurit Mandura, dia sudah paham, dia tidak pernah membunuh satu jiwa pun. Dia yakin dengan kata Narayana: “Kau tidak dapat membunuh atau membiarkan orang terbunuh. Kau juga tidak dapat mencegahnya. Kematian adalah keniscayaan; tak seorang pun dapat mengelakkannya. Cara seseorang menemui ajalnya ditentukan oleh perbuatannya sendiri.” Tugasnya sebagai prajurit adalah berperang, dan dia berperang demi Prabu Kresna, demi kebenaran. Dia hanya melaksanakan tugas untuk berperang dan terbebas dari rasa pamrih untuk mendapatkan segala sesuatu. Udawa juga tidak terpengaruh oleh perasaan kasihan terhadap musuh-musauhnya. Apa yang harus dikasihani, justru setelah musuh-musuhnya mati, mereka akan lahir lagi untuk menyempurnakan kehidupannya. Apabila dibiarkan hidup, musuh-musuhnya justru akan menambah banyak perbuatan tak baik yang bagaimana pun harus mereka pertanggungjawabkan nantinya.

Kala melihat Raden Samba, putra Gusti Prabu Kresna, putra dari Guru  idolanya yang mata keranjang, dia pun hanya sekali menasehati. Prabu Kresna adalah seorang avatar, perwujudan Ilahi, dan Dia sudah tahu segalanya, mengapa aku pusing-pusing dengan putranya, yang penting aku mengikuti Prabu Kresna.

Udawa, termasuk seseorang yang sudah berkesadaran. Berpengetahuan tinggi, berpengalaman pribadi, seorang “Gyaani” yang kebetulan selalu dekat dengan diri Prabu Kresna. Udawa sudah bisa melihat Kebenaran di balik wujud Prabu Kresna. Dia tidak lagi terikat dengan wujud dan sifat, dengan rupa dan nama. Yang penting baginya Kresna adalah perwujudan  keilahian.

 

Pertemuan dengan para Gopi

Kini dia ditugaskan Sang Prabu mengunjungi para Gopi, para pencinta Kresna di Brindavan. Udawa tidak habis mengerti, mengapa para Gopi di Brindavan menangisi Kresna, hanya karena rindu terpisah dari wujud Sang Avatar.  Udawa merasa kasihan dan dia menegur mereka. “Sadarkah kalian bahwa Prabu Kresna adalah Avatar, Penjelmaan Ilahi.  Lalu apa yang kalian tangisi? Wujud dia? Berusahalah untuk melihat Kebenaran Sejati  itu, Kebenaran yang ada di mana-mana”. “Jangan menangisi wujud-Nya! Dia tidak pernah menderita. Dia tidak akan kalah dengan siapa pun? Mengapa kalian bersedih?”

Bagi seorang Udawa, patung dan wujud seorang avatar – kedua-duanya – adalah berhala yang harus dilampaui, harus dilewati. Dia menguraikan dengan sangat jelas agar  para Gopi dapat melihat Kebenaran, “Kalian tidak bisa melihat Kebenaran di balik wujud? Tidak bisa merasakan Kebenaran Yang Satu itu?”  Udawa menambahkan, “Kita semua sudah tidak dapat dipisahkan dengan Prabu Kresna, kita telah berubah karena Prabu Kresna, dan Dia sudah bersemayam dalam hati kita, mengapa begitu sedih dan menangis tak terkira ketika Prabu Kresna pergi tanpa kabar berita?”

Mendengar suara Udawa, tangisan para Gopi bertambah semakin memilukan, “Kebenaran apa yang kau bicarakan, Udawa? Kebenaran apa yang harus kami rasakan? Kresna adalah kebenaran hidup kami. Apa pula maksudmu dengan Kebenaran di balik wujud?” Mereka dengan terbata-bata melanjutkan, “Udhava, kami sudah tidak dapat berpikir lagi. Tidak dapat merasakan sesuatu lagi. Yang terpikir dan terasa hanyalah Kresna, Kresna, Kresna….”

Udawa terdiam, angin berhenti bertiup, seluruh hutan dan penghuninya tak bersuara, suasana menjadi sangat hening. Dan di keheningan itu, air mata Udawa meleleh, “Kakang Prabu Kresna Yang Berbahagia – “Anand” Krishna – aku mencintaimu”………………… Selama ini pengetahuanku terlalu kering, dan para Gopi telah mengajariku untuk menjadi lembab.

 

Yang ada hanya Kasih

Udawa baru menyadari kesalahannya. Dia salah menilai para Gopi. Untuk mencapai kesadaran kasih, memang segala sesuatu di luar kasih harus “dilepaskan”. Dan Udawa masih berada pada tingkat “pelepasan” itu. Sebaliknya, para Gopi telah mencapai kesadaran kasih. Sudah tidak perlu melepaskan apa-apa lagi. Karena memang tidak ada yang bisa dilepaskan. Tidak ada yang bisa melepaskan. Bagi para Gopi, yang ada hanyalah kasih, kasih dan kasih.

Kresna menyuruhnya mendatangi para Gopi hanya untuk belajar tentang kasih. Sesuatu yang harus dihayati seorang “Gyaani” untuk meningkatkan kesadarannya.  Kelak Udawa dikenal sebagai Patih Udawa dari Kerajaan Dwarawati yang berwatak setia, pendiam dan mudah mengalah. Akan tetapi apabila dia tak dapat mengendalikan perasaannya dia akan menangis. Dia begitu yakin, setiap dia menangis “Kakang Prabu Kresna” akan memberinya solusi.

Pertemuan dengan para Gopi menggores dalam di hatinya. Setelah itu dia mendengar Prabu Kresna sakit keras, dan semua istrinya bertanya kepada Resi Narada apakah obat dari penyakit suaminya. Resi Narada menjawab obatnya adalah debu dari telapak kaki pencinta Kresna dengan dioleskan ke kepalanya. Dan mereka berebut mengambil debu dari kaki mereka masing-masing, sebelum Resi Narada melanjutkan penjelasannya bahwa menurut kitab suci seorang istri tidak boleh menghina suaminya. Mengolesi debu ke muka suami merupakan penghinaan dan hukumannya sangat berat, yaitu Neraka.  Dan para isteri tersebut  tidak ada yang berani mengoleskan debu ke kepala suaminya. Prabu Kresna semakin kesakitan, tetapi tak ada seorang pun isterinya yang mau masuk neraka dengan berdalih tak mau menghina suami. Narada berkata kepada Kresna bahwa dia akan keluar untuk mencari para Gopi.

Para Gopi banyak yang pingsan mendengar sakitnya Prabu Kresna, dan dalam waktu singkat Resi Narada telah mendapatkan sekarung debu kaki para Gopi . Mereka tidak peduli Neraka, bagi mereka yang penting Prabu Kresna sembuh.

Maha suci Tuhan, semoga masih ada Gopi-Gopi di atas dunia ini. Terima Kasih Guru atas kisahmu. Kami semua mencintaimu.

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

Mei 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone