August 10, 2009

Mana yang tepat ateis atau teis?

Orang yang mengaku ateis sesungguhnya orang yang sangat percaya pada keberadaan Tuhan. Sedangkan orang yang mengaku paling percaya Tuhan sering bertindak kekerasan atas nama Tuhan.

Pernyataan di atas tentu akan mendapat sanggahan keras dari para penganut teis. Tapi kenyataan dalam kehidupan menunjukkan bukti-bukti nyata. Siapa yang melakukan peledakkan bom di Bali, mereka yang mengaku sangat percaya pada Tuhan. Sholat tidak pernah bolong. Segala ritual dijalani secara penuh. Mereka bisa mengatakan bahwa tindakan mereka di ridhoi Alah. Sehingga mereka bisa melakukan pembunuhan dengan wajah tersenyum. Dan lucunya mereka juga sangat yakin bahwa jika meninggal akan masuk surga dan disambut bidadari bertelanjang dada. Bahkan mereka dengan bangga menyatakan diri sebagai martir. Mati karena membela Tuhan.

Kepercayaan terhadap sesuatulah yang menyebabkan para penjahat berkedok agama ini bisa melakukan kekerasan. Peristiwa 1 Juni 2008. Sekelompok orang, anggota Front Pembela Islam (FPI) melakukan kekerasan terhadap sekelompok orang yang tidak melakukan perlawanan. Atas nama agama. Mereka dengan lantang berteriak : Allah hu akbar, berulang-ulang. Dengan suara yang sangat keras. Teriakan itu medorong teman-teman mereka bisa melakukan pemukulan tanpa merasa kasihan. Dimana rasa kemanusiaan. Dimana kasih Allah yang seharusnya menjadi dasar perilaku mereka yang percaya pada Tuhan?

Demikian juga dalam keseharian. Di lingkungan perkantoran, banyak sudah yang melaksanakan umroh, haji atau pergi ke tanah suci sesuai dengan kepercayaan agamanya. Banyak sudah dibangun rumah-rumah ibadah. Tapi apakah tindakan kekerasan oleh mereka yang mengaku percaya pada Tuhan berkurang. Tidak. Dari data statistik menunjukkan grafik yang meningkat. Di tempat pekerjaan sering sekali terjadi penindasan, walaupun dalam kesehariannya kelihatan tekun sholat, puasa, dan ritual lainnya. Mereka sangat percaya dengan yang dinamakan : Menyembah yang di atas (Tuhan) dan silahturahmi dengan sesama. Faham sekularisme seperti ini yang menciptakan manusia-manusia palsu. Dengan melakukan ritual-ritual keagamaan seperti sholat dan puasa, mereka merasa sudah bisa diterima di surga. Menindas orang dianggap urusan dunia. Apalagi atas nama agama, membela agama Tuhan. Wah pasti surga ganjarannya. Hati mereka tertutup (khufur) oleh hasutan kata-kata manis para pemuka agama.

Pada tahun 1970 an, orang yang mengenakan pakaian bersimbol keagamaan belum sebanyak sekarang. Bangunan rumah ibadah juga belum sebanyak sekarang. Pada era yang sama, tindak kekerasan atas dasar agama belum banyak. Mengapa? Dengan menunjukkan pakaian bersimbolkan keagamaan, para penganut agama yang sama merasa punya teman. Gerombolan. Sehingga mereka merasa menjadi kelompok mayoritas.. Dampaknya, mereka cenderung memiliki rasa arogansi. Merasa punya kekuatan kelompok. Selain itu mereka bisa melakukan tindakan yang sesungguhnya bertentangan dengan norma agama yang mereka anut tanpa sedikitpun merasa takut. Dari tindakan mencaci maki, paling ringan sampai melakukan pembunuhan, paling berat.
Sesungguhnya tindakan mereka merupakan cerminan rasa ketakutan diri. Mereka ingin menunjukkan eksistensi atau jati diri dengan mengandalkan kekuatan kelompok. Mereka tidak punya rasa percaya diri. Jadi tindakan kekerasan yang mereka unjukkan. Dan yang lebih menyedihkan banyak ulama yang bahkan mendukung tindakan kekerasan ini. Tentu saja para ulama yang belum memahami esensi keberagamaan.

Apa yang sesungguhnya terjadi?? Pemisahan antara Tuhan dan manusia menjadi salah satu sebab. Kadang pemikiran kita menipu. Ini terjadi ketika kita yakin bahwa dengan melaksanakan ritual agama saja semuanya selesai. Kita merasa apabila sudah sembahyang, puasa, dan sedekah; kita bisa masuk surga. Anggapan yang sangat keliru. Golongan atau kelompok ini menganggap bahwa Tuhan mempunyai tempat tertentu. Bagaimana mungkin. Kalau katanya Tuhan meliputi berarti Tuhan melingkupi alam semesta. Dan kita semua hidup di dalamnya. Bagaikan ikan yang hidup dalam air. Orang yang di luar kolam atau akuarium yang tahu mana ikan, mana air. Kita semua di satukan oleh Unified field of energy. Energinya adalah air tersebut yang menyatukan antara ikan. Dengan kata lain, bahwa kita ini disatukan. Coba kita merenung sejenak. Ketika suatu saat kita berkumpul di dalam suatu ruangan. Nafas yang kita hembuskan pasti akan dihirup oleh teman satu ruangan. Demikian juga kita juga menghirup nafas yang dikeluarkan oleh orang lain. Kemudian nafas masuk ke paru-paru bercampur dengan darah dslnya sudah difahami. Bukankah ini merupakan persatuan dan kesatuan antara kita? Pemahaman seperti ini jika tepat dan diterapkan, pasti terjadi kedamaian.

Orang ateis, di sisi lain tidak pernah memikirkan obyek dalam hal ini Tuhan. Mereka hidup secara lebih realistis. Bagi mereka hidup tidak bisa sendiri. Artinya akan selalu membutuhkan dan berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian hubungan dengan orang lain merupakan sesuatu hal yang penting dan mesti dipelihara. Caranya jangan berbohong dan menyakiti orang lain. Kelompok ini sangat mungkin tidak pernah melakukan ritual agama. Namun mereka bisa mengakui hak-hak kehidupan orang lain. Banyak contoh yang sudah ada. Coba kita perhatikan bagaimana hak azasi begitu kuat berkembang di negeri barat. Orang tidak bisa melakukan tindak kekerasan seperti yang dilakukan FPI di Monas. Pasti ada hukum yang akan menyelesaikan.

Demikian juga ketika mereka menyadari bahwa kelangsungan hidup ini sangat tergantung dengan alam. Kita semua bisa makan karena kebaikan alam. Semua makanan kita berasal dari bumi. Pemikiran ini membuat mereka harus hidup selaras dengan lingkungan. Mereka merasa harus menjaga lingkungan demi kelangsungan hidup mere sendiri. Bagi mereka menyayangi lingkungan sama juga menyayangi diri sendiri. Sangat mungkin mereka tidak percaya pada Tuhan. Tuhan adalah suatu yang abstrak. Mengapa tidak melakukan tindakan yang realistis saja. Memelihara lingkungan agar dapat hidup tanpa kekurangan.

Untuk menidakkan Tuhan atau sesuatu, tidak bisa disangkal harus ada sesuatu yang disangkal. Dengan demikian, jika kitapun mengatakan tidak ada Tuhan berarti sesungguhnya ada obyek yang disangkal : Tuhan. Baru kita bisa menyangkal. Kalau tidak ada yang disangkal atau obyek yang jadi pokok persoalan, berarti tidak bakal ada yang diperdebatkan.

Jadi sesungguhnya keberadaan Tuhan tidak dapat disangkal oleh siapapun. Yang penting adalah : Apakah perbuatan kita memberikan manfaat atau mudharat.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone