September 1, 2009

Cinta Tanah Air atau Agama????

Betapa menyedihkan bahwa sesungguhnya akhlak keberagamaan di Indonesia sudah jauh menurun. Munculnya SKB 3(tiga) Menteri dan seringnya dialog antar agama ditayangkan di TVRI setiap Jumat pagi merupakan bukti nyata. Banyaknya peristiwa bernafaskan kekerasan seperti pemboman atas nama agama. Di luar negeri maupun dalam negeri yang atas nama agama tertentu. Banyaknya partai dan ormas dengan landasan agama yang sesungguhnya mereka sangat menonjolkan SARA. Walaupun mereka sangat marah jika dituding menjadi biangnya SARA. Yang lucunya kelompok ini sering menunjuk kelompok orang lain membawa isu SARA. Belum lagi dengan adanya kelompok yang ngakunya kumpulan cendekiawan/para cerdik pandai. Membentuk kumpulan atas nama agama tertentu. Mengapa bukan menunjukkan kelompok nusantara??? Atau Indonesia?? Mengapa bangga dengan kelompok agamanya? Dimana rasa kebanggan menjadi warga Indonesia???
Dalam suatu acara Sufi Mehfil di padepokan One Earth di Ciawi, seorang teman berbagi cerita yang sangat menyentuh hati. Teman kita ini semasa kecil pernah tinggal di Makasar. Dia bercerita bahwa semasa kecil bersama teman-temannya selalu pergi ke rumah-rumah orang tua setiap kali hari-hari besar ke agama an. Anak-anak kecil ini pergi bersama tidak melihat apa agama temannya. Pada hari raya Lebaran/Iedul Fitri, mereka bersama ke rumah-rumah yang sedang merayakan hari besar agama Islam. Mereka dating dengan mengucapkan Selamat Iedul Fitri dan makan bersama di rumah warga Islam dan pulangnya diberi angpao. Demikian seterusnya dalam sehari anak-anak ini mengunjungi sekian rumah. Hal sama terjadi ketika merayakan Natal. Secara rombongan mereka, anak-anak pergi ke rumah-rumah yang sedang merayakan Natal. Makan sepuasnya dan pulangnya diberikan angpao. Mereka begitu polos dan ceria tidak pernah mereka berpikir apakah hari besar Islam, Kristen atau Budha. Yang penting bahagia dan ceria. Teman kita yang berbagi tersebut sangat bahagia mengenang masa kecilnya dan begitu berbinar-binar matanya ketika bercerita tentang hal tersebut. Begitu rindu hati ini melihat kerukunan antar anak kecil tanpa embel-embel apakah agamaku lebih baik daripada agamamu.
Sebelum terjadi peristiwa Ambon yang juga di latarbelakangi agama, kehidupan warga rukun dan damai. Konon menurut cerita warga yang sudah tua, kehidupan keberagamaan antar warga tidak pernah jadi persoalan. Ketika warga yang menganut agama Islam membangun masjid, kelompok warga Kristen secara bergotong royong membantu. Demikian pula sebaliknya. Mereka sadar sepenuhnya bahwa agama bukan menjadi suatu yang bisa dibanggakan. Tidak satupun warga agama tertentu mengatakan bahwa agamnya lebih baik dari agama lain. Mereka sadar bahwa tidak selayaknya agama dibandingkan. Masing-masing punya cara yang tidak akan bisa diperbandingkan seperti layaknya membandingkan apel dengan apel. Bagaimana mungkin membandingkan apel dengan jeruk. Jelas beda. Demikian juga agama. Waktu dan pembawa pesan berbeda. Sangat spesifik sesuai dengan dan waktu diwahyukan. Juga untuk umat dengan lingkungan alam dan situasi yang khusus, sangat berbeda. Sangat menggelikan kalau ada golongan agama tertentu meng klaim bahwa agamanya paling sempurna. Sangat jelas, jika kita percaya bahwa yang memerintah penyebaran pesan damai di bumi berasal dari sumber yang sama, Tuhan. Kebenaran hanya satu. Damai di bumi ini. Inti pesan dari para suci, rasul, maupun nabi pasti sama. Semua pengikut para nabi, rasul, dan suci adalah mencintai dan menyayangi semua ciptaan Tuhan. Tiada satupun yang memberi perintah untuk melakukan perusakan di bumi ini.
Pertanyaan yang sangat mendasar. Mengapa terjadi peristiwa-peristiwa kekerasan atas nama agama? Sangat mudah jawabannya. Agama sudah tidak lagi berfungsi sebagai mana tujuan agama sejak awal. Sarana untuk mencapai Tuhan. Agama sudah dijadikan tujuan oleh pemeluknya. Sebagai ideologi. Lantas apa bedanya dengan ajaran ideologi-ideologi yang diciptakan manusia biasa??? Siapa sekarang yang harus dipersalahkan. Tentu pemeluknya yang sebagian besar tidak lagi bisa memahami makna tujuan agama. Agama sudah diturunkan derajatnya sebagai suatu alat untuk mencapai kekuasaan. Semata-mata KEKUASAAN. Bukan lagi suatu yang bernilai sakral. Ini loh saya dengan agamaku yang paling baik. Ayo ikut agamaku. Mereka lupa bahwa ini sangat bertentangan dengan niat awal para rasul dan nabi yang membawa pesan perdamaian bagi dunia, bahkan alam semesta.
Sesungguhnya semua peristiwa atas nama agama bisa diselesaikan dengan mudah. Lakukan pesan Bapak Anand Krishna, tokoh lintas agama yang disampaikan dalam tayangan TVRI tanggal 26 Juni 2009. Katakan secara tegas bahwa tiada satupun agama yang lebih rendah dari agamaku. Semua agama baik, agamaku tidak lebih baik dari agama lain. Itulah bentuk APRESIASI. Bukan lagi sikap TOLERANSI yang kita butuhkan, tapi APRESIASI. Langkah selanjutnya sangat mudah untuk membangun Negara. Di balik semua persoalan dengan latar belakang agama sesungguhnya juga ada tujuannya. Penguasaan TANAH AIR INDONESIA. NEGERI NAN KAYA SUMBER DAYA ALAMNYA. Terkaya nomor dua setelah Brasil.
Adalah menjadi kewajiban setiap anak bangsa untuk menyebarkan pengertian ini, jika masih mengaku menjadi warga Negara Indonesia. Rasa cinta terhadap nasionalisme lebih bernilai daripada agama. Salah satu cerita lucu terjadi ketika Cawapres tertentu di pertanyakan keberagamaannya. Walaupun sang Cawapres tersebut seorang nasionalis tapi masih dipertanyakan kualitas keberagamaannya (Pilpres 2009). Nampak sekali si penanya menganggap bahwa keberagamaan seseorang masih lebih tinggi daripada rasa nasionalismenya. Pantaskah ini???? Apakah Negara Indonesia mau diarahkan sebagai Negara agama tertentu? Sangat menyalahi pesan para founding father kita.
Sembah sujudku Bagi Mu Ibu Pertiwi

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone