September 1, 2009

Mempertanyakan Semboyan Rahmat Bagi Semesta Alam

Semboyan Rahmat Bagi Semesta Alam yang biasa digembor-gemborkan oleh umat islam selama ini merujuk pada Surah Al Anbiya sebagai berikut.

21:107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Satu hal yang perlu dipertanyakan adalah apakah umat islam mampu menjalankan perannya sebagai rahmat bagi semesta alam? Sudahkah semboyan ini diamalkan atau hanya sekedar lip service belaka? Coba Anda cermati cerita ini.

Saya adalah orang jawa yang menetap di Malang dan bekerja sebagai tenaga kontrak di FMIPA Universitas Negeri Malang, sementara istri saya bekerja sebagai guru SMP di Torjun, Sampang, Madura. Kami berdua untuk sementara menjalani hidup secara terpisah karena istri saya menghendaki saya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di Universitas Negeri Malang. Oleh karena itu umumnya dalam interval satu atau dua minggu saya jadualkan untuk mengunjungi istri saya di Madura pada hari sabtu dan minggu.

Mobil Isuzu Elf adalah jenis kendaraan yang lazim dijadikan transportasi umum antar kota di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di pulau Madura. Saya biasa menggunakan kendaraan ini untuk perjalanan dari Dermaga Kamal Bangkalan menuju tempat tinggal istri saya di Pamekasan, atau sebaliknya dari Pamekasan menuju Kamal untuk perjalanan kembali ke Jawa.

Pada hari minggu sore tanggal 10 Mei 2009 saya berpamitan untuk pulang ke Malang setelah mampir sejenak di rumah kerabat di Sampang. Seperti biasa saya menggunakan angkutan Isuzu Elf untuk bertolak menuju Kamal. Kondisi saya saat itu agak lelah dan mengantuk sehingga saya tidak terlalu memperhatikan ponsel yang saya letakkan di saku celana. Saya tidak sadar bahwa selama perjalanan ponsel saya melorot dan terjatuh dari saku celana. Pada saat di atas kapal yang bertolak dari Dermaga Kamal ke Dermaga Ujung Surabaya saya baru sadar bila ponsel saya sudah hilang. Saya tidak terlalu kecewa akan hal ini karena ponsel saya yang bermerk Nokia generasi kuno memang kondisinya sudah butut.

Setelah diusut istri saya berhasil menghubungi orang yang menemukan ponsel saya yang berbicara dalam dialek Madura. Apa yang dibicarakan tidak terlalu penting dan memang bukan hal itu yang perlu saya sampaikan. Mengetahui istri saya berbicara dalam bahasa Madura, selanjutnya coba perhatikan yang diucapkan si penemu ponsel saya, kira-kira dia berbicara seperti ini.

“Wah, kalau tahu ini hape-nya orang Madura, sudah pasti saya kembalikan. Coba kalau hape-nya orang CINA, gak bakal saya kembalikan”

Dari sini segalanya menjadi jelas. Anda mungkin bisa menangkap makna dari perkataan tersebut.

Saya adalah orang Jawa yang mewarisi darah Jawa, Madura, dan Cina dari leluhur saya. Materi genetik leluhur Chinese saya nampaknya terekspresi lebih dominan daripada materi genetik leluhur saya yang lain. Akibatnya saya memiliki penampilan fisik atau phenotype yang memang cenderung khas Timur Jauh. Hal ini membuat saya nampak berbeda di antara orang Madura yang rata-rata berkulit lebih gelap.

Etnis Madura selain terkenal oleh wataknya yang temperamental, mereka juga dikenal memiliki rasa solidaritas dan persaudaraan yang sangat kuat terhadap sesama orang Madura. Etnis Madura juga memiliki fanatisme yang kuat terhadap agama Islam seperti halnya orang Betawi atau Aceh. Namun sisi jeleknya mereka sejak kecil tumbuh di lingkungan yang RASIS, terutama terhadap orang CINA (yang mayoritas non muslim).

Jadi dari ucapan si penemu ponsel saya bisa dipastikan hal sebagai berikut:
1. Si penemu sebenarnya sudah mengetahui bahwa ponsel yang dia temukan adalah milik saya.
2. Berhubung saya memiliki penampilan seperti orang CINA dan si penemu bersikap RASIS terhadap orang CINA, maka si penemu memutuskan untuk tidak mengembalikan ponsel tersebut kepada saya.
3. Seandainya saya dilahirkan memiliki phenotype khas Madura, besar kemungkinan karena solidaritas sesama orang Madura, ponsel saya langsung dikembalikan kepada saya.

Pikiran saya mulai menerawang ke masa lampau, di masa kecil saya. Saat itu pun ayah saya yang memang orang Madura selalu bercerita bahwa orang kafir yang tidak menyembah Allah, tidak melakukan solat, dan makan daging babi kelak akan disiksa Allah di dalam neraka. Jelas yang dimaksud orang kafir oleh ayah saya adalah orang Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan non-muslim lainnya. Ayah saya pun secara terang-terangan menyatakan kebenciannya terhadap kakek saya yang merupakan jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (ayah dari Ibu saya). Betapa bencinya ayah saya terhadap kakek saya yang non-muslim hingga berani mengatakan “Dasar anjing!” terhadap mertuanya ini.

Saya termasuk anak-anak yang beruntung bahwa conditioning ini tidak merasuk ke dalam jiwa saya karena saya memiliki Ibu yang berpandangan moderat dan senantiasa memfilter indoktrinasi ayah saya.

Mayoritas orang tua muslim di Indonesia mengkondisikan jiwa anaknya untuk membenci non-muslim atau non-pribumi seperti saya. Bukan hanya saya yang mengalami conditioning ngawur ini, dan bukan hanya orang Madura saja yang mengalami ini. Bila saya mengingat tragedi Mei 1998, saya mulai bisa melihat bahwa penjarahan properti milik keturunan Cina dan perkosaan yang dialami para perempuan Cina jelas dianggap wajar oleh para pelakunya. Apa yang dipikirkan para pelaku kerusuhan sangat jelas, “Orang Cina adalah kaum kafir, sudah sewajarnya mereka dihabisi”

Perlakuan diskriminatif yang disebabkan tampang Timur Jauh saya seperti ini bukan yang pertama saya alami. Sering terjadi tarif angkutan umum yang dikenakan kepada saya lebih mahal daripada orang Madura sendiri atau bahkan mereka memberi uang kembalian seenaknya. Saya memutuskan untuk tidak bereaksi terhadap perlakuan ini, lebih baik tidak bikin ribut dengan orang-orang yang masih melestarikan tradisi Carok (duel dengan memakai celurit) ini. Menyadari bahwa tampang saya yang cenderung mengakibatkan perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang rasis, memang sejak lama saya mendalami berbagai fighting arts untuk mengantisipasi skenario yang paling buruk yang bisa menimpa saya.

Semboyan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam masih sebatas wacana saja.  Islam hanya sebatas rahmat bagi sesama muslim sendiri. Umat muslim di Indonesia belum bisa membawa keselamatan bagi umat non-muslim atau non-pribumi.

haikal

13 mei 2009

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone