September 9, 2009

Percaya versus Faham

Sadarkah manusia yang mengaku beragama telah menebar kekerasan atas nama agama? Mereka tidak menyadari bahwa kepercayaan terhadap Tuhan sesungguhnya telah menjadi sumber konflik selama ini. Ketika seorang penganut agama tertentu mengatakan percaya pada Tuhan, saat itu juga ia telah menganggap bahwa Tuhan adalah suatu benda. Kita ambil contoh. Aku percaya adanya buku. Berarti buku adalah benda. Percaya dan yakin akan memberikan efek pada pikiran pada kebendaan. Setelah percaya pada benda tersebut, orang tidak mau lagi mengekspolr tentang benda tersebut. Cukup berbekal hanya berbekal rasa kepercayaan, kita lantas sudah menganggap benar. Yang lebih parah lagi, kelompok ini berani melakukan klaim bahwa agama mereka lebih baik dari yang lain.

Apakah dengan bekal percaya pada Tuhan, sudah bisa menyatakan bahwa kita lebih baik dari yang lain? Tidak semudah itu. Bekal percaya belum cukup tanpa memahami tentang yang dipercaya. Percaya masih terkait dengan luaran. Bersifat kebendaan. Dan ini biasanya pasti bersifat kekerasan. Karena benda pasti sesuatu yang dapat diraba. Dan biasanya pasti dikaitkan dengan ritual luaran yang terlihat. Bukan makna ritual.
Tidak Kenal maka Tidak Sayang. Pepatah ini tepat sekali. Jika kita sungguh-sungguh ingin melampaui tingkat percaya, pengenalan terhadap yang kita percaya sangat diperlukan. Jadi sesungguhnya percaya adalah langkah awal sebelum menuju tingkat pemahaman. Jangan berhenti di tingkat percaya. Lampauilah itu menuju ke tingkat faham. Lampauilah tingkat luaran untuk menuju yang lebih dalam. Itulah tujuan kelahiran setiap manusia ke dunia. Memahami jalan untuk kembali pada Nya. Jalan percaya tidak akan menghantar pada suatu yang lebih dalam esensinya. Level pemahaman pada suatu yang kita percaya akan menimbulkan rasa kasih dalam diri kita. Inilah pengetahuan yang sangat mendasar dan perlu.
Bekal sayang atau cinta terhadap benda tersebut akan mendorong kita selalu mengingatnya. Ingatan kita pada sesuatu mengakibatkan kita tertular oleh sifatnya. Demikian pula, kecintaan kita pada Tuhan bisa terjadi jika kita cinta pada Nya. Cinta pada sifat atau nama yang dimiliki. Ingatan atau pikiran kita adalah suatu pancaran energi dengan frekuensi tertentu. Jika pikiran kita selalu mengarah kepada Yang Maha Kasih, dengan sendirinya kita tertular dengan sifat kasih Nya. Banyak orang melakukan dzikir untuk mengingat sifat Nya. Menurut saya ini kurang tepat. Dzikir sesungguhnya akan semakin mengaktifkan otak kiri. Apalagi dengan hitungan. Layaknya seperti pedagang saja. Kita membeli kasih Nya dengan jumlah tertentu dzikir. Kita masih berdagang dengan Tuhan. Dengan mengingat segala sesuatu pemberian Nya, kita akah lebih mudah menimbulkan rasa kasih. Tafakur. Perenungan akan kemurahan Nya bisa menimbulkan rasa syukur dalam diri. Selanjutnya watak kasih Nya menular ke hati kita.
Orang yang selama ini mengaku theis, kebanyakan masih pada tingkat percaya. Theis berarti percaya pada Tuhan. Jadi tidak salah jika para penganut theis ini bisanya suka bertindak kekerasan. Karena yang mereka percaya juga masih bersifat luaran . dampaknya mereka hanya senag pada segala sesuatu yang berorientasi pada tanpakan luaran. Pakaian, baik cara berpakaian maupun jenis yang digunakan. Sibuk denga cara atau ritual pemujaan terhadap Tuhan. Tampilan badaniah. Mereka lupa bahwa apa yang dikenakan Nabi SAW sama dengan yang dikenakan Abu Jahal (musuh Rasulullah). Pakaian boleh sama, tapi perilaku yang berbeda. Falsafah ini tidak dimengerti oleh para penganut ‘Percaya Tuhan’ Bukan ‘Faham’ tentang Tuhan.
Mereka yang percaya pada Tuhan atau theis hanya melihat tampilan luaran dan kurang menghargai esensi. Sedangkan mereka yang mengaku atheis pada umumnya faham, tidak percaya pada tampilan luar. Namun sangat memahami esensi kebaikan atau manfaat dari yang difahami. Proses berpikir mereka berlawanan. Melihat hasil ciptaan terlebih dulu, baru timbul rasa empati. Rasa empati ini menimbulkan rasa apresiasi dan sayang untuk tetap menjaganya. Lihat saja para pejuang lingkungan dari negara-negara yang mengaku tidak percaya Tuhan. Tapi sifat mereka yang begitu mencintai alam sekitar dan senang melakukan konservasi alam, telah membuktikan mereka mencintai pencipta. Sebaliknya, para theis beda. Mereka mengaku bahwa percaya. Titik. Tidak mau lagi mendalami tentang segala sesuatu yang dipercaya. Bagi kelompok ini ucapan , tampilan luaran lebih bisa dipercaya dari perilaku. Kelompok ini bisa melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Membela agama. Mereka tidak sadar jika sesuatu dapat dibela. Berarti kita telah membendakan kepercayaan kita.
Jangan memahami agama. Tapi fahamilah keber-agama-an. Agama adalah kata benda. Keber-agama-an adalah kata sifat. Semakin kita percaya pada agama, semakin alot dan keras jiwa kita. Karena yang dipercaya adalah benda bukan sifat. Selain itu yang diperdalam pembahasannya tentu isi dari agama bukan makna atau nilai keber-agama-an.
Seorang theis percaya Tuhan tapi tidak faham Tuhan. Sedangkan mereka yang mengaku atheis, tidak percaya Tuhan, namun memahami tentang Tuhan. Saya punya keponakan berumur tiga tahun. Dia bisa mengucapkan aku percaya Tuhan. Tapi tidak seorangpun yang percaya padanya jika dia berkata : aku faham tentang Tuhan. Ini membuktikan bahwa kepercayaan itu berkaitan dengan level yang lebih rendah atau luaran. Sedangkan faham berkaitan dengan pendalaman.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone