September 1, 2009

Wajah Pendidikan Negeri

Sering kita dengar seorang ibu bicara pada anaknya “Kamu harus sekolah!” pada anaknya. Tanpa menyadari apa yang sesungguh si anak ini dapatkan dari sekolahnya, hal positif apa yang si anak dapatkan dari proses belajarnya. Mungkin para orang tua peduli, namun sebagian besar hanya peduli pada prestasi yang diperoleh si anak, hasil belajarnya saja yang disoroti, tapi tidak pada proses belajar yang si anak jalani. Dan karena hal ini, kecurangan saat ujian sekolah sudah menjadi pemandangan biasa.

Nampaknya memang segala sesuatunya harus dipertanyakan lagi, dipikirkan kembali, salah satunya adalah wajah pendidikan di Indonesia. Orang menyebut sekolah adalah salah satu tempat untuk memeroleh pendidikan, namun kini nampaknya orang-orang kita lebih berfokus pada “sekolah” dibanding “pendidikan” apa yang si anak dapatkan.
Wacana tentang pendidikan ini banyak menjadi sorotan, maka tak heran muncul beragam solusi dan metode yang ditawarkan, dari home-schooling, hingga sekolah gratis. Namun jika para praktisi pendidikan dan para orang tua, garis besarnya adalah masyarakat Indonesia tidak menyadari apa tujuan pendidikan, maka semua gembar-gembor yang digencarkan baik di media massa atau media elektronik, hanya akan mewujud menjadi sebuah mimpi semu.

Ki Hajar Dewantara, pendiri Taman Siswa, tokoh pendidikan yang disegani telah menggali kekayaan khazanah budaya Nusantara, dan menyatakan bahwa pendidikan dimaksudkan untuk menuntun segala potensi dan kodrat yang ada dalam diri setiap anak, untuk bisa bertumbuh sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat, yang mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan hanya sebuah tuntunan dalam proses bertumbuh si anak. Anak-anak ini kemudian dihormati sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai sesuatu yang hidup, dan oleh karenanya para pendidik tidak bisa memaksakan kehendaknya pada si anak didik, sebab si anak sebagai sesuatu yang hidup memiliki kodratnya sendiri.

Beberapa asas yang dapat dijadikan pedoman terkandung dalam maksud dan tujuan pendidikan, berintikan pada hak seseorang untuk mengatur dirinya sendiri. Pengajaran berarti mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya, dan merdeka tenaganya. Seorang guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, namun juga harus mendidik si murid untuk mampu menggali pengetahuan dan menggunakannya untuk kemaslahatan umum. Dan dalam hal ini potensi yang ada dalam batin dan lahir si anak harus berkembang secara seimbang.
Aspek batin ditekankan oleh Sang Maestro sebagai aspek pertama yang harus didahulukan dari aspek lahirnya. Namun tidak begitu yang terjadi pada wajah pendidikan kita, wajah pembangunan Indonesia.

Di mana-mana pembangunan hanya ditumpukan pada pembangunan fisik semata, entah itu fisik manusia atau fisik jalan raya. Banyak sekali gedung dan bangunan tinggi, namun batin manusianya kering kerontang. Mengutip visi Bapak Anand Krishna mengenai wajah pendidikan Indonesia, beliau berujar bahwa jika negara Indonesia ingin berubah dalam mencapai hal-hal yang hakiki – tujuan ke depan yang lebih mulia, maka yang pertama-tama harus diubah adalah manusianya (revolution of man), dan hal itu harus dimulai sejak pendidikan dasar, baik itu formal maupun non formal.
Proses perubahan ini harus berjalan secara integral baik ke dalam maupun ke luar sehingga tercapai suatu transformasi sosial yang lebih besar.

Fenomena pendidikan yang kini semakin menjadi lahan yang dikomersilkan nampaknya telah dirasakan oleh Sang Maestro, Ki Hajar Dewantara, dimana ancaman yang masih membayangi masa depan bangsa ini adalah lebih mementingkan pengajaran yang hanya memuja satu aspek saja, yaitu intelektualisme. Sang Maestro mengingatkan bahwa pengajaran model itu hanya akan membawa bangsa ini menjadi tidak merdeka, dan memisahkan para cendikiawan dengan kehidupan rakyat.

Kata “wisuda” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “vishuddha” bahasa Sanskrit yang artinya “pembersihan”. Seorang mahasiswa yang diwisuda dan dinyatakan sebagai sarjana sesungguhnya mengalami proses pembersihan dan dinyatakan “bersih”. Pendidikan yang telah ia lalui dimaksudkan untuk membersihkan manusia dari naluri hewaninya(1).

Wisuda bukan hanya pernyataan “lulus”, tapi pernyataan “bersih”, bersih dari naluri tidak beradab, naluri hewaninya. Adakah makna ini masih kita ingat, masihkah terngiang dalam hati para lembaga2 pendidikan kita? Para dosen, para guru, yang seharusnya membantu terjadinya proses pembersihan ini juga harus bersih dulu, sebelum bisa membimbing anak didiknya untuk menjalani proses pembersihan yang sama.

Maraknya peristiwa kekerasan yang terjadi antara guru dan murid, baik kasus bullying guru kepada muridnya, atau bahkan yang paling memprihatinkan kasus murid membacok gurunya, adalah cermin betapa salah kaprahnya proses pendidikan yang berlangsung di negeri ini. Apa bedanya kasus ini dengan terorisme?
Percaya tidak percaya pada teori Darwin, keinginan membunuh adalah warisan insting hewani yang telah mengendap dalam otak manusia, yang diperoleh lewat evolusi panjang. Keinginan untuk bunuh membunuh dan perangkat lunak otak harus diolah sedemikian rupa sehingga keinginan untuk bunuh membunuh lenyap, dan pada akhirnya perangkat lunak otak tersebut bersih dari program bunuh membunuh (2).

Para praktisi dan pemerhati pendidikan sudah saatnya kita maju untuk membenahi dan menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam proses KBM. Kegagalan lembaga-lembaga pendidikan yang sudah melupakan tugasnya, tidak mampu melakukan pembersihan yang dimaksudkan. Itu sebab masyarakat Indonesia kacau, terjadi kekerasan di mana-mana, terhadap diri sendiri dan orang yang kita sayangi bahkan, pemaksaan kehendak, merasa diri yang paling benar, demi mencapai tujuan merelakan segala cara, dan sebagainya.

Jika tujuan pendidikan seperti yang dikemukakan Sang Maestro ingin mewujud, maka jangan abaikan aspek budi pekerti dalam pendidikan kita. Ini sebuah harga mati. Budi pekerti membuat tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (berkepribadian), yang mampu memerintah dan menguasai diri sendiri (mandiri). Inilah manusia yang beradab dan inilah maksud dan tujuan pendidikan secara garis besar.

Kini adakah kita mau berubah menjadi generasi yang melukis kebesaran masa depan bangsa kita sendiri?

————————–————————–————————–
(1) Kundalini Yoga dalam Hidup Sehari-hari, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.
(2) Bhaja Govindam- Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone