November 25, 2009

Dilema Wibisana dan Kumbakarna, Membela Kebenaran Atau Membela Negara, Pemahaman Esoteris

Ciri pertama seorang satria adalah dapat mengendalikan dirinya pada setiap saat, dalam keadaan apa pun. Ia dalam keadaan tenang, walaupun di tengah keramaian…. Dalam keadaan kritis, apabila Anda masih bisa mempertahankan ketenangan diri Anda, Anda baru bisa disebut seorang satria.

Ciri kedua yang tidak kalah penting adalah bahwa satria selalu berupaya mempertahankan kesadarannya. Memang sulit sekali. Begitu Anda diberi seragam, begitu Anda diberi senjata, Anda pun langsung lupa daratan.

Ciri ketiga, perilaku satria berlandaskan susila dan anoraga. Susila atau sushila bisa diartikan sebagai “tindakan yang bijak”. Ia yang berperilaku baik disebut Sushil. Dan anoraga atau anurag berarti “kasih”. Tidak sekadar cinta, tetapi kasih sayang.

Sri Bhagawan masih belum puas dengan apa yang beliau katakan. Ia harus menekankan lagi. Sebenarnya, orang seperti satria itulah yang patut disebut orang yang beragama. *1 Wedhatama

Cerita sebagai pemicu peningkatan kesadaran

Perdebatan tentang bagaimana sebaiknya masyarakat menyikapi pemerintahan yang lalim, muncul dalam peran Kumbakarna dan Wibisana dalam kisah Ramayana. Pada intinya, Kumbakarna tidak setuju dengan pemerintahan Rahwana yang lalim dan memilih mengasingkan diri daripada makan hati melihat tindakan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Akan tetapi pada saat negeri Alengka diserbu bala tentara Sri Rama, Kumbakarna memilih bertempur sampai titik darah penghabisan demi membela ibu pertiwi. Pujangga Sri Mangkunegara IV dalam Serat Tripama bahkan mengambil keteladanan Kumbakarna dalam membela Ibu Pertiwi sebagai satria kedua dari tiga satria teladan yang mempunyai jiwa nasionalisme.

Di Lain pihak, Wibisana menjunjung tinggi dharma, kebenaran. Dia berani bersuara melawan arus masyarakat raksasa yang mendukung Rahwana, bahkan berani mengambil resiko berbahaya atas pendapatnya yang bertentangan dengan Sang Penguasa. Sebagai akibat keberaniannya, Wibisana diusir dari Alengka dan akhirnya berperang di pihak Sri Rama.

Sebetulnya ada kelompok ketiga, yaitu kelompok Indrajid, sang putra mahkota yang mendukung ayahandanya tanpa reserve. “Right or wrong is my country. The King can do no wrong”.

Sampai masa kini, perdebatan antara kelompok pendukung Kumbakarna dan pendukung Wibisana tak pernah usai. Bahkan kini muncul pendukung baru Rahwana yang menjadikan Dasamuka sebagi idola melawan kesewenang-wenangan para dewa. Bagaimana pun selama perdebatan tersebut didasarkan atas mind, atas pikiran, hal tersebut tak pernah usai. Demikianlah kesukaan mind, berdebat, merasa menang dan menyepelekan pihak lain. Mind, ego senang menonjol, suka memisahkan sedang intelegensia mempersatukan, karena intelegensia adalah universal mind. Mind bersama.

Manusia lahir dengan sifat genetik tertentu warisan dari orang tua, kemudian mendapat pengetahuan tentang kebenaran dari orang tua, lingkungan, pendidikan dan pengalaman. Maka kebenaran bagi seorang manusia adalah kebenaran menurut pola kerangka pikirnya. Seseorang yang lahir di negara lain, pendidikan yang lain akan memunculkan pemahaman tentang kebenaran yang lain. Pemahaman tentang kebenaran inilah yang dimanfaatkan oleh para pencetak teroris, yang memanipulasi pikiran teroris untuk berani mati demi kebenaran. Sebetulnya para teroris bukan berpijak pada kebenaran tetapi merasa bertindak benar akibat pola pikir yang didiktekan secara sistematis. Manipulasi mind.

Rahwana, Kumbakarna dan Wibisana mempunyai orang tua yang sama tetapi pemahaman tentang kebenaran berbeda. Demikian pula yang terjadi antara Sugriwa dan Subali. Beda pengalaman, beda pergaulan beda pula pemahanan tentang kebenaran.

Para leluhur kita mengenal istilah tentang “ngelmu”, pemahaman yang bersifat esoteris, kebenaran yang tak dapat diterima semua orang, hanya benar menurut pemahaman tertentu. Para leluhur kita menyadari bahwa setiap orang itu mempunyai tingkat kesadaran yang berbeda. Ada yang menilai segala sesuatu dari fisik luar, apakah suatu hal menyenangkan panca indera, pikiran dan perasaan atau tidak? Ada yang sudah sadar sebetulnya kebahagiaan itu merupakan pilihan hati di dalam diri. Apabila di dalam hati bahagia, maka apa yang terjadi di luar tidak mempengaruhinya. Ada yang dengan intelegensianya berpendapat bahwa siapa yang menanam benih pasti memetik buahnya. Sehingga dia lebih concern dengan proses yang baik, bukan hasil baik yang diperoleh dengan menghalalkan berbagai cara. Ada pula yang berpendapat di dunia ini hanya bersifat sementara, tak ada yang abadi. Merupakan kesia-siaan mencari kebahagiaan abadi dari dunia yang tidak abadi. Begitu banyak tingkat-tingkat kesadaran sehingga kebenaran menjadi hal yang relatif.

Oleh karena itu para leluhur tidak mempermasalahkan berbagai kisah “carangan”, yang keluar dari “pakem” sepanjang kisah tersebut dapat meningkatkan kesadaran. Kisah Kumbakarna dan Wibisana pun perlu dimaknai secara esoteris. Semuanya adalah persoalan mind, dan kita perlu memahami mind.

Perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu. *2 Atisha

Sekarang kita terkendalikan oleh mind dengan tri fungsinya. Nanti, kita akan mengendalikan mind, tetap dengan tri fungsinya juga. Aktifkan “Kesadaran” dan mind dengan trifungsinya dapat dijadikan landasan yang kukuh, yang dapat menyangga bangunan kehidupan anda. Tri fungsi mind ini dapat Memperindah kehidupan anda. Fungsi pertama, suka-sukailah kesadaran. Fungsi kedua, tidak suka jangan menyukai ketidaksadaran. Fungsi ketiga, cuwek bersikaplah demikianlah terhadap mereka yang menghujat anda. Apabila itu yang ada lakukan, apabila pekerjaan itu yang anda berikan kepada mind, maka mind yang sama justru bisa memperkukuh kesadaran anda. Mind menjadi alat yang sangat efektif. Mind tidak akan memperalat anda lagi. *2 Atisha

 

Makna Esoteris Sri Rama

Bebaskan dirimu dari keterikatan-keterikatan duniawi yang tak berguna, dan tidak dibutuhkan untuk hidup di dunia. Untuk hidup didunia, anda tidak perlu mengikat diri dengan banyak hal. Ada keterikatan-keterikatan sesaat yang memang tidak bisa dihindari. Keterkaitan pada jam kerja, bila anda masih bekerja. Keterikatan pada tanggung jawab terhadap keluarga, bila anda masih berkeluarga. Hanya beberapa saja. Bahkan, “napas” yang begitu penting demi kelangsungan hidup tidak perlu diikat. Selama anda masih hidup, justru ia mengikat diri dengan badan anda. *3 Nirtan

Sri Rama adalah simbol Paramatman, Sang Jiwa Agung dan Sita adalah simbol atma, jiwa yang berada pada tubuh manusia.  Alengka adalah simbol dari raga dengan segenap kemegahan dan kegemerlapan fisik. Sang jiwa tadinya selalu bersama Paramatman dalam mengarungi Dandaka -  belantara kehidupan, akan tetapi karena sang jiwa menginginkan rusa emas – keduniawian, maka sang jiwa menjadi jauh dari Sang Jiwa Agung dan terperangkap dalam ego – Rahwana yang berada di kerajaan raga – Alengka. Sang Jiwa yang berada dalam tubuh ingin kembali ke Sang Jiwa Agung, tetapi para raksasa tidak memperbolehkannya. Rahwana simbol dari nafsu ego rajas yang dinamis, gairah meluap-luap. Kumbakarna mewakili nafsu tamas yang malas, diam. Wibisana merupakan simbol nafsu satvik yang tenang. Nafsu ego ini menahan Dewi Sinta dalam raga – Alengka agar tidak bergabung dengan Sang Jiwa Agung.

Dewi Sinta akhirnya bertemu dengan Hanuman, Sang Guru, Utusan Ilahi yang memberi cincin keilahian, kebijaksanaan tertinggi yang menghancurkan semua ilusi. Karena Hanuman, Sang Pembawa Pesan Ilahi, Dewi Sinta akhirnya mendapatkan jalan untuk bertemu Sri Rama.

Ada pula yang memaknai Sri Rama dimaknai sebagai Jati Diri Sejati. Rama adalah putra “Dasarata”, dasa berarti sepuluh dan ratha berarti kereta. Kereta dengan sepuluh kuda yaitu lima karmendriya, yaitu tangan, kaki, mulut, dubur dan alat kelamin serta lima gyanendria yaitu pengecap, peraba, pelihat, pembau dan pendengar. Dasarata bermakna diri manusia.

Pemaknaan esoteris putra-putra Dasarata adalah sebagai berikut: Rama, RAM= Atma Shakti, The Power of Soul; Bharata, BHARAT= Deh Shakti Bharat, The Power of Body; Laksmana, LAKSHMAN= Manah Shakti, The Power of Will; Satrugna, SHATRUGHNA= Karma Shakti, The Power of Action.

Shakti atau kekuatan diri dalam hal ini diwujudkan dalam istri Dasarata yaitu Kaushalya, KAUSHALYA= Satva Guna, sifat tenang; Keikayi, KAIKEYI= Tamo Guna, sifat diam, angkuh; Sumitra, SUMITRA= Rajo Guna, sifat dinamis. Apabila kita jeli membaca Ramayana, maka karakter pribadi para pelaku tidak jauh dari namanya.

Faktanya diri – Dasarata berada di bawah pengaruh keangkuhan – Keikayi mengabaikan peranan Rama, sang jiwa dan lebih memperhatikan raga, Bharata. Beruntung sang raga – Bharata tidak mau menduduki tahta dan hanya memerintah atas nama sang jiwa, sampai sang jiwa kembali ke tahtanya setelah berjuang di belantara kehidupan selama 14 tahun.

 

Kumbakarna

Sejak awal Kumbakarna menyadari keraksasaan dalam dirinya, dia tidak setuju dengan cara-cara kakaknya, Rahwana yang selalu mengedepankan nafsu angkara murka untuk mendapatkan segalanya. Dia juga tidak setuju dengan penculikan Dewi Sinta isteri Sri Rama. Hanya kemalasannya untuk mengingatkan kakaknya berulang kali, membuat dia pergi bertapa di gunung. Bagi dia lebih baik tidur daripada menyaksikan ulah ‘adharma’ kakak kandungnya yang menjadi penguasa Alengka. Dalam hal ini bisa dimaknai bahwa Kumbakarna memilih kenyamanan ego pribadi yang semu, tidak memikirkan bangsa dan negara Alengka secara keseluruhan.

Hidup dalam rahim ibu selama lebih dari sembilan bulan, hidup dalam kegelapan itu, merupakan pengalaman yang tidak pernah pernah terlupakan oleh manusia. Setelah dilahirkan sampai ajal tiba, hidup manusia sebenarnya merupakan proses pencarian yang panjang. Apa pula yang dicarinya, kalau bukan kegelapan itu? Kenapa demikian? Karena, dalam kegelapan itu, ia pernah merasa begitu aman, begitu nyaman. Dalam kegelapan itu, ia merasakan kehangatan kasih ibu. Dalam kegelapan dan keheningan itu, ia pernah merasa begitu tenang, begitu tenteram, begitu damai, begitu bahagia. *1 Wedhatama

Selama Kumbakarna mencari di luar, dia tidak pernah mendapatkannya. Memang cahaya dapat membuat hidup dia sedikit lebih nyaman, tetapi hanya itu saja. Tidak lebih dari itu. Kumbakarna mencari kebahagiaan dalam kegelapan dan keheningan jiwanya sendiri. Beberapa kali, dia memejamkan mata dan merasakan betapa indahnya kegelapan itu. Apa yang terjadi, sewaktu seseorang berada dalam keadaan tidur? Dia diselimuti oleh kegelapan dan esoknya dia begitu segar. Kegelapan akan menyegarkan jiwa. Kegelapan akan menyegarkan batin.

Konon diceritakan Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun satu hari menyantap apa pun yang ada di dekatnya. Beberapa saat lagi mungkin Kumbakarna akan mendapatkan kesadaran dan mungkin akan melanjutkan kehidupan sehari-hari seperti biasa dalam keadaan tetap tenang. Ketenangan yang dinamis, ketenangan dalam kesibukan berkarya, seperti ketenangan yang dirasakan penumpang pesawat jet di angkasa yang tenang walau semua mesinnya sibuk berkarya. Sebentar lagi mungkin dia akan mencapai keadaan nafsu yang tenang, sifat alami ‘satvik’. Ketenangan dari mengasingkan diri adalah ketenangan yang semu. Bumi selalu ber-rotasi dan ber-revolusi, selalu bergerak, mengapa manusia memilih diam dan tak berkarya di tengah-tengah masyarakat.

Hari itu Kumbakarna dibangunkan secara paksa oleh para prajurit Alengka, dan diminta menghadap kakaknya, Rahwana. Dalam usahanya menyelamatkan isterinya Dewi Sinta yang disandera di Alengka oleh Rahwana, Sri Rama yang merupakan titisan Wisnu bersama Laksmana dibantu balatentara kera yang dipimpin Sugriwa dan Hanuman menyerang kerajaan Alengka.

Bagi Kumbakarna, yang telah mendapatkan kesadaran selama bertapa, dia telah dianugerahi kesempatan untuk berbuat mulia demi ibu pertiwi, bahkan kalau pun dia mati dia akan terbunuh oleh tangan titisan Wisnu. Negaranya yang selama ini menghidupi dia dan para leluhurnya diserang oleh pasukan kera.

Di medan perang, Kumbakarna bertemu dengan Wibisana dalam dua pihak yang berlawanan. Kumbakarna diingatkan Wibisana bahwa kehancuran Alengka sudah dekat. Ketika adharma merajalela, akan datang titisan Wisnu untuk menyeimbangkan kehidupan. Kumbakarna tidak menyalahkan Wibisana yang berpihak pada musuh negerinya. Kumbakarna tidak bertanya kepada Wibisana, apa jaminannya Sri Rama tidak sewenang-wenang seperti Rahwana setelah menang. Apakah ada jaminan, para kera tidak menjarah kekayaan Alengka. Tidak.

Kumbakarna hanya berkata, menang atau kalah adalah urusan Gusti, Keberadaan. Tugasku adalah membela negara, mati pun hanya mati raga tetapi jiwaku tetap mencintai ibu pertiwi dan itu sudah merupakan kemenangan bagiku. Kumbakarna tidak menceritakan bahwa semalam dia bermimpi tentang “past life”, kala dirinya menjadi Wijaya di istana Wisnu dan kala dia menjadi Hiranyaksa, sudah takdirnya dia akan mati di tangan Avatara Wisnu dan tinggal sekali lagi dia menitis dan selanjutnya akan kembali manunggal dengan Wisnu. Itulah sebabnya dia memakai pakaian Brahmana putih-putih untuk bertempur, dia siap menerima kematiannya. Dan akhirnya Kumbakarna mati karena panah Sri Rama.

 

Wibisana

Wibisana adalah raksasa yang tenang dan nenek moyang kita menggambarkannya sebagai ksatria yang tampan. Wibisana lahir dari Resi Wisrawa yang sudah mendapatkan kedamaian setelah paham bahwa kejadiannya bersama Dewi Sukesi memang sudah merupakan skenario alam. Resi Wisrawa  telah menjelaskan permasalahannya kepada sang putra “Danaraja”, raja yang kaya yang juga dikenal sebagai Kuwera.

Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi sadar bahwa keinginan, obsesi atau kehendak duniawi itu dapat menjatuhkan kesadaran seseorang. Keserakahan terhadap duniawi itu tak ada batasnya, seperti batas alam semesta yang sangat jauh. Dengan mengendalikan indera yang mengarah ke luar dan menggunakan rasa yang mengarah ke dalam, mereka makin tenang. Kebahagiaan mereka menyebabkan lahirnya putra yang sadar dan tenang, satvik. Sejak kecil Wibisana patuh dengan ayah bundanya, selalu menegakkan dharma dan jauh dari keinginan para raksasa pemuja Brahma yang mengharapkan senjata sakti, seperti Indrajid yang memperoleh Bramastra ataupun para pemuja Shiwa yang  mengharapkan kemewahan dunia.

Dalam kisah-kisah di India, Shiva digambarkan sederhana tidak berbaju dan memakai kain dari kulit harimau, akan tetapi para pemujanya, selalu saja bergemerlapan karena kemewahannya. Berbeda dengan pemuja Sri Krishna atau Wisnu di mana Sri Krisna selalu memakai pakaian sutra dan mahkota yang indah, akan tetapi para pemujanya selalu bersahaja. Sebetulnya Brahma, Wisnu dan Shiwa adalah perwujudan dari Gusti Yang Maha Agung. Mereka adalah Kekuasaan Yang Mencipta, Kekuasaan Yang Memelihara dan Kekuasaan Yang Mendaur-ulang. Bukankah Dia disebut berbagai Nama, bahkan ada yang menamai-Nya dengan jumlah Nama mendekati seratus.

Dari berbagai kitab yang dibacanya, Wibisana mengenal Wisnu dan yakin bahwa Sri Rama adalah seorang avatara Wisnu.

Wibisana paham bahwa Rahwana mengutus Kala Maricha berganti rupa sebagai pelayan Dewi Tara, untuk menemui dan memprovokasi Subali, bahwa Sugriwa tidak menghormati istri anugerah dewa dengan layak. “Sang pelayan” juga mengingatkan tahta Kiskenda dan Dewi Tara merupakan hak Subali yang berhasil melenyapkan musuh dewa Maesasura dan Jathasura. Atas dukungan moral Rahwana, Subali merebut tahta dan Dewi Tara dari Sugriwa. Karena itulah Rahwana diberi hadiah ilmu pancasona sehingga tidak bisa mati.

Tindakan memecah belah persaudaraan negeri Kiskenda itulah yang menyebabkan kini Alengka pun menderita hal yang sama, perpecahan antar saudara. Kumbakarna mengasingkan diri, sedangkan dia berpihak pada Sri Rama. Sri Rama, Keberadaan atau Paramatman adalah kekosongan nyata, dan apa yang disuarakan kepadanya akan dikembalikan sebagai gema, gaung yang sama. 

Demi mengejar titisan Bidadari Dewi Widowati, Rahwana membunuh Patih Suwanda dari Kerajaan Maespati, menipu Dewi Citrawati yang dianggap titisan Dewi Widowati sehingga bunuh diri, bahkan menyebabkan prabu Harjuna Sasrabahu putus asa dan mati dalam pertarungan dengan Ramaparasu.

Demi mengejar Dewi Kausalya, yang juga dianggap titisan Dewi Widowati, Rahwana membunuh Banasura, Resi Rawatmaja dan melukai Sempati. Bahkan demi mengejar Dewi Sinta yang dianggapnya titisan Dewi Widowati, dia membunuh Jatayu. Sudah banyak deretan kesalahan Rahwana, sehingga Wibisana merasa harus bersuara.

Kala bertemu Hanuman, Wibisana berkata, “Wahai Hanuman, engkau adalah bhakta yang berbahagia, setiap saat selalu mendapat “darshan” Sri Rama. Saya setiap saat mengingat Sri Rama, tetapi belum ada kesempatan juga mendapat dharsan.”

Dalam tradisi India, pertemuan dengan seorang suci bukanlah pertemuan biasa. Pertemuan itu adalah darshan atau “melihat sekilas” kesucian yang sudah ada dalam diri kita melalui Sang Master. Seorang Guru bagai sebuah cermin di mana seorang pengikut dapat bisa melihat dirinya sendiri, wajah “asli”-nya sendiri. Seorang Master adalah masa depan muridnya dan seorang murid adalah masa lalu seorang Master dan mereka bertemu dalam kekinian.

Kehadiran seorang Master adalah berkah yang langka. Pengenalannya akan dirimu membuatmu mengenal dirimu sendiri. Ya, ia telah membuat saya tahu siapa diri saya sebenarnya. Itulah yang dilakukan oleh seorang Master kepada pengikutnya. Seorang pengikut, seorang murid harus reseptif, kalau tidak, tidak akan terjadi apa-apa. Ada beberapa tingkat reseptivitas, seperti ada beberapa tingkat dalam Kesadaran. Kesadaran tergantung para tingkat reseptivitasnya.  Masterlah mengetahui tingkat reseptivitasnya. *4 Soul Quest  

Hanuman menjawab, “Karena doamu itulah Pangeran akan mendapat kesempatan dharsan. Akan tetapi sekedar berdoa tidak bermakna, paling tidak bersuaralah tentang kebenaran. Sebagian warga Alengka juga tidak menyetujui tindakan Rahwana, tetapi mereka diam. Karena yang paham diam, maka jadilah negeri carut marut seperti ini. Diam karena ketakutan, karena ancaman dari pihak adharma. Bila dalam kehidupan ini Pangeran belum dapat melepaskan diri dari ketakutan, maka pangeran akan lahir lagi dan menghadapi permasalahan yang sama. Bersuaralah. Paling banter Pangeran akan mati, mati dalam kehidupan kali ini, tetapi hidup sendiri abadi. Paling tidak dalam hidup ini kita telah berhasil mengalahkan ketakutan.”

Laksmana akhirnya bersuara. Konon Wibisana menghadap Rahwana dan menyampaikan kebenaran, menculik Dewi Sinta adalah hal yang tidak tepat. Lebih baik mengembalikan dan berdamai dengan Sri Rama. Rahwana marah dan mengusir Wibisana. Seandainya media kita berani bersuara layaknya Wibisana tentang hal-hal yang membahayakan integrasi bangsa, alangkah indahnya Indonesia.

Media tidak boleh takut. Media harus menyuarakan nurani rakyat. Janganlah memberikan porsi berlebihan kepada berita-berita yang dapat memecah belah bangsa. Gunakan kebebasan pers yang sedang kau nikmati ini dengan penuh tanggung jawab! Selama enam tahun Taliban merusak Afghanistan. Untuk memperbaikinya dibutuhkan puluhan tahun. Apakah kau akan membiarkan kelompok-kelompok serupa merusak negeri ini? Media tidak boleh takut. Saya yakin kelompok-kelompok seperti itu tak mungkin berkuasa lebih dari 2 tahun di negeri kita. Katakan mereka berkuasa, tidak lebih dari 2 tahun. Namun, bayangkan kerusakan yang mereka lakukanselama itu! Kita akan terpecah-belah. Media perlu sadar hal ini. *5 Surat Cinta Bagi Anak Bangsa

Demi Dharma, Wibisana berani meninggalkan istana yang mewah, Wibisana berani bersuara dengan segala resiko, bahkan diusir dari istana. Saat Hanuman ditangkap dengan senjata Bramastra-nya Indrajid, Wibisana berani menyampaikan bahwa Hanuman adalah Duta Ilahi, Pembawa Pesan yang wajib didengar sebelum bencana besar terjadi. Hanuman jangan dibunuh. Akan tetapi para raksasa tidak mengindahkannya, sehingga Hanuman lepas dan memberi peringatan dengan membakar sebagian istana.

Mungkin keputusan Wibisana ini adalah keputusan yang sangat berat dan kontroversial. Banyak pihak yang menuduh dia sebagai pengkhianat negara. Tetapi demi dharma, dia tidak peduli ocehan masyarakat yang belum dapat memahaminya. Dia yakin pilihan hati nuraninya adalah pilihan yang benar demi keberlangsungan negeri Alengka sendiri.

Wibisana paham, bahwa yang penting adalah kesadaran dahulu, bukan merdeka dahulu. Sekedar mengusir penjajah, bila kesadaran belum meresap dalam jiwa, hanya sekedar penggantian pimpinan yang lalim. Dulu menjadi budak orang asing, kini menjadi budak warga sebangsa sendiri. Wibisana tahu bahwa sebelum membantu Sugriwa, Sri Rama meningkatkan kesadaran Sugriwa dahulu. Bila tidak yang terjadi sekedar pembalasan dendam dan tak ada perubahan berarti bagi negeri Kiskenda.

Wibisana telah memenggal kepala egonya ke hadapan Sri Rama. Pada waktu seseorang pasrah, memenggal egonya kepada Guru, maka pikirannya telah dilepaskan. Hubungan kekerabatan dan persahabatan yang tidak menunjang peningkatan kesadaran sudah dia tinggalkan. Wibisana sudah masuk sangha Sri Rama. Dan dia begitu sedih melihat Sang Guru akan berperang tanding melawan Rahwana.

 

Vibishana Gita

Kala melihat Sri Rama akan berhadapan langsung dengan Rahwana, ada rasa sedih di hati Wibisana, Rahwana dengan baju perang bergemerlapan dan naik kereta kebesaran dengan kuda-kuda yang gagah, sedangkan Sri Rama hanya berjalan kaki dengan kaki telanjang dan pakaian brahmana yang sederhana.

Dan turunlah “Vibishana Gita”. Setting-nya berbeda dengan Bhagavad Gita. Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna memberi semangat kepada Arjuna. Memberi pemahaman tentang Kebenaran agar Arjuna tidak ragu-ragu berperang melawan sanak saudaranya para Korawa. Dalam Vibishana Gita, Wibisana mengkhawatirkan keselamatan Sri Rama.

“Bagaimana Sang Prabu dapat menghadapi Rahwana sedangkan kereta pun paduka tidak punya?”

Sri Rama, dengan penuh kasih sayang menjelaskan kepada Wibisana tentang “kereta dharma”.

“Roda kereta dharma adalah keberanian dalam hal menghadapi masalah di luar diri, dan ketabahan dalam hal menghadapi masalah di dalam diri. Keteguhan adalah tiang bendera yang tegak pada kereta dharma dan berkibarnya panji-panji bendera karakter baik. Kuda-kuda adalah kekuatan memilah yang benar dan yang salah, pengendalian diri dan kepedulian terhadap orang lain. Tali kendali kuda terbuat dari tali pengampunan, belas kasih dan ketenangan hati. Sang kusir yang memegang kendali sedang mengabdi pada Tuhan. Tanpa pamrih adalah perisai penangkis godaan dan kepuasan diri adalah pedang pengiris semua hasrat. Amal saleh adalah kapak pembelah keserakahan. Pemahaman diri adalah peluru-peluru kendali. Kesadaran akan jati diri adalah busur yang tanpa henti mengarahkan dan memberi kekuatan. Berbagai senjata dalam kereta dharma adalah pikiran yang tenang dan mantap. Pasrah kepada Guru adalah baju besi yang tak dapat ditembus.”

“Sahabatku, tak ada peralatan yang membawa kemenangan yang efektif seperti ini. Dia yang naik kereta dharma dapat menaklukkan musuh di mana pun.” Demikian perkataan singkat Sri Rama kepada Laksmana sebelum maju perang melawan Rahwana.

Rahwana akhirnya dikalahkan Sri Rama, dan pemerintahan negeri Alengka jatuh. Sri Rama tidak ingin menjajah Alengka, bahkan setelah perang usai Wibisana dinobatkan sebagi raja di Alengka. Wibisana memindahkan ibukota kerajaan dari Langkapura ke Singgela.

Terima Kasih Guru. Guru adalah sumber mata air kebijaksanaan yang tak pernah kering. Semoga kesadaran Guru menyebar ke seluruh Nusantara. Namaste.

*1 Wedhatama           Wedhatama Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999.

*2 Atisha                   Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.

*3 Nirtan                   Nirtan Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 2003.

*4 Soul Quest             Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

*5 Surat Cinta Bagi Anak Bangsa    Surat Cinta Bagi Anak Bangsa, Anand Krishna, One Earth Media, 2006.

Informasi buku silahkan menghubungi

http://booksindonesia.com/id/

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

November 2009.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone