January 26, 2010

Ketidakterikatan, “Sepi Ing Pamrih” dan Makna Bunga Teratai

Kakek kami pernah bercerita bahwa konon setiap saat, Kanjeng Nabi Ibrahim yang suci selalu memilih tindakan yang mulia (shreya) daripada tindakan yang hanya menyenangkan diri pribadi saja (preya). Tindakan mengasihi putra yang telah lama didambakan kelahirannya  juga merupakan tindakan yang mulia. Akan tetapi tindakan tersebut menyebabkan adanya keterikatan Kanjeng Nabi terhadap sang putra, terhadap dunia. Dengan petunjuk Yang Maha Kuasa lewat mimpi untuk menyembelih (“keterikatan” pada) sang putra, Kanjeng Nabi dapat melepaskan keterikatan terhadap sang putra dengan memilih Yang Haqq daripada kehidupan putra tersayangnya. Selanjutnya, kakek berpesan, nasehat leluhur tidak sekedar dipahami pikiran agar mahir dalam diskusi. Pemahaman harus dihayati, dirasakan dengan penuh perasaan dan kemudian dipraktekkan sehari-hari.

Bunga teratai

Bunga teratai tumbuh pada kolam di daerah subur seperti di Mesir Kuno, di Asia termasuk juga di Indonesia. Itulah sebabnya simbol ketidakterikatan bunga teratai hanya dikenal pada peradaban yang berkembang pada daerah yang subur dengan air yang berlimpah. Legenda dari Mesir Kuno menyebutkan bahwa Ra, Dewa Matahari lahir dari kelopak bunga teratai yang tumbuh dari air kekacauan. Dalam Buddhis bunga teratai juga bermakna kemurnian pikiran, kemurnian ucapan dan kemurnian tindakan yang tumbuh dari air lumpur keinginan dan keterikatan. Bhagavad Gita juga mengambil contoh daun teratai sebagai simbol ketidakterikatan.

Tanaman teratai banyak dimanfaatkan untuk menghias kolam. Bunganya yang indah dengan kelopak yang  lebar membentuk lingkaran memancarkan aura kedamaian dan keindahan. Meskipun hidup di air, daun dan kelopak bunga teratai tidak pernah basah dan selalu dalam keadaan bersih. Daun teratai memiliki kemampuan untuk membersihkan diri dari air dan kotoran yang menempel.

Berikut ini petikan artikel dari beberapa situs: tentang “ilmuwan-yang –telah-pecahkan-rahasia-terata”i.

Diperlukan kamera dengan kecepatan ultra tinggi, mikroskop super dan speaker audio untuk membuka rahasia teratai yang selalu kering. “Kita menghadapi masalah rumit, tetesan air yang jatuh di atas daun menggelinding dengan mudah, sedangkan kondensat yang tumbuh dari dalam sudut dan celah daun tetap lengket dan terperangkap, ” kata Jonathan Boreyko, mahasiswa pascasarjana di Universitas Duke Pratt School of Engineering (DUPSE) dalam studinya tentang teratai.

“Para ilmuwan dan insinyur telah lama bertanya bagaimana tetes air ini pada akhirnya ditolak dari daun,” kata Boreyko. “Setelah membawa daun teratai ke laboratorium dan mengawasi kondensasinya, kita dapat melihat bagaimana proses yang terjadi.” Kuncinya adalah rekaman video yang menampilkan proses istirahat daun teratai di atas woofer speaker stereo dalam frekuensi rendah.

Kondensasi diciptakan dengan mendinginkan daun. Setelah bulu lembut bergetar selama sepersekian detik, tetesan air secara bertahap terlepas dan lepas dari daun. “Ini memecahkan teka-teki yang sudah lama ada,” kata asisten profesor DUPSE, Chen Chuan-Hua. “Orang-orang telah mengamati berbagai bentuk kondensasi setiap malam pada daun teratai. Ketika mereka kembali keesokan pagi, air sudah hilang dan daun mengering. ”

“Speaker yang direproduksi di laboratorium sama seperti yang terjadi setiap hari di alam, yang penuh getaran-getaran halus, terutama bagi teratai yang memiliki daun besar panjang dan ramping diatas batang,” kata Chen, menurut rilis DUPSE. Hasil dari eksperimen ini akan memungkinkan para insinyur untuk menggunakan permukaan buatan yang memerlukan penghapusan kondensasi serta transfer panas.

Makna teratai dalam spiritualitas

Bunga teratai sering digunakan sebagai simbolkan ketidakterikatan. Berikut ini adalah petikan dari buku *Bhagavad Gita.

Bhagavad Gita Bab 5 Sanyaas yoga ayat 6-12

Melepaskan diri dari keterikatan tidak mudah bagi mereka yang belum mendapatkan ketenangan jiwa. Sebaliknya ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan lewat meditasi dengan mudah dapat melepaskan dirinya dan mencapai Kesadaran Tertinggi. Ia yang telah mencapai ketenangan dan keseimbangan jiwa menyadari adanya persatuan antara “Aku” yang bersemayam dalam dirinya dan “Aku” yang bersemayam dalam diri setiap makhluk. Demikian, walaupun ia berkarya, ia tetap juga tidak terikat pada apa pun. Ia yang bijak menyadari bahwa yang terlibat dengan benda duniawi hanyalah panca inderanya. Sebenarnya “Ia” tidak terlibat. *1 Bhagavad Gita halaman 208

 

Bagaikan daun bunga teratai yang berada di atas air dan tidak dibasahi oleh air, begitu pula ia yang bekerja tanpa keterikatan dan menganggapnya sebagai persembahan, hidup tanpa noda dan tidak tercemari oleh dunia ini. Ia yang bijak melepaskan segala macam keterikatan dan bekerja dengan raga, pikiran, intelek serta panca inderanya, hanya untuk membersihkan dirinya. Ia yang bijak tidak mengharapkan sesuatu dari pekerjaannya, demikian ia memperoleh ketenangan jiwa. Sebaliknya ia yang tidak bijak selalu mengharapkan hasil akhir dari apa yang ia lakukan, sehingga tetap saja terikat. *1 Bhagavad Gita halaman 209

Kemudian teratai juga digunakan sebagai simbol perbuatan mulia di lingkungan penuh kekotoran. Berikut ini adalah terjemahan bebas dari buku *2 the Hanuman Factor halaman 22-24

Teratai ditemukan dalam kolam berlumpur. Mereka tidak hidup dalam kolam yang airnya bersih. Walaupun demikian, dasarnya yang berlumpur tidak mempengaruhinya. Mereka tidak menjadi kotor. Mereka tumbuh keluar dari lumpur. Mereka mencari pencerahan sinar matahari. Seharusnya demikianlah kita.

Kita tumbuh dan berkembang dalam lumpur dunia delusi dan kebodohan. Kita tak dapat melakukan sesuatu tentang hal ini. Semua elemen pembentuk tubuh kita ada dalam lumpur dunia. Akan tetapi lumpur juga menyediakan kita dengan bahan makanan untuk menjamin kehidupan.

Pelajaran pertama adalah bahwa jangan membiarkan dunia membuat kamu menjadi kacau. Pada waktu yang sama, jangan tetap berada dalam lumpur. Ingat selama kau hidup di dunia, sebagian dari kamu berada dalam lumpur dunia. Bagaimanapun terpisah dari lumpur kamu akan layu. Hidup dalam dunia yang gila akan tetapi tetap menjaga kewarasan dan memunculkan keindahan.

Pelajaran kedua adalah belajarlah dari kelopak bunga dan daun teratai. Mereka tidak basah. Tidak ada yang tersisa pada permukaan mereka. Baik air berlumpur maupun butiran embun tidak ada yang tersisa. Kamu harus melampaui dualitas, suka dan duka, bersih dan kotor serta menghadap matahari pencerahan. *2 the Hanuman Factor halaman 22-24

 

Keterikatan

Keterikatan membuat manusia takut menghadapi perubahan. Keterikatan membuat manusia ingin mempertahankan sesuatu yang pada dasarnya tidak abadi.

Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan sesuatu, keadaan maupun orang. Keinginan itu tidak selaras dengan alam. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Alam membiarkan terjadinya perubahan, bahkan malah memfasilitasinya, mendukungnya. Kita terikat dengan rambut lebat yang masih hitam, maka uban dan botak sudah pasti menyedihkan. Kita terikat dengan harta benda yang terkumpul selama hidup, maka kematian menjadi sulit. Sementara itu, alam tidak pernah  sedih karena pergantian musim. Alam tidak pernah menolak perubahan yang terjadi setiap saat. *3 Mawar Mistik halaman 45

Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul keinginan untuk memilikinya. Pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati, dan jeroan kita? Kita tidak terikat, karena kita tahu semua itu ada dalam diri kita. Kita bahkan tidak pernah memikirkan mereka. Tidak pernah peduli tentang jantung dan paru, hingga pada suatu ketika kita jatuh sakit…. dan baru mengaduh-aduh. Karena saat itu kita “merasa kehilangan” kesehatan. Kita tidak pernah merasa terikat dengan sesuatu yang kita yakini sebagai milik kita. Sebab itu seorang suami bisa tidak terikat dengan istrinya, tetapi terikat dengan selirnya. *3 Mawar Mistik halaman 44

Shankara tidak mencela harta-benda. Yang dicela adalah keterikatan kita. Silakan cari uang; silakan menjadi kaya dan menikmati kekayan Anda, asal tidak terikat, karena keterikatan akan menyebabkan kekecewaan. Keterikatan merampas kebebasan Anda. Keterikatan memperbudak Anda. Tidak terikat berarti tidak habis-habisan, tidak mati-matian mengejar sesuatu. *4 Bhaja Govindam halaman 27

Keterikatan pada harta-kekayaan, pada kedudukan, pada keluarga semuanya harus dikikis sedikit demi sedikit. Tidak berarti kita menjadi asosial; tidak berarti kita meningkatkan keluarga. Tidak demikian. Yang penting adalah meninggalkan rasa kepemilikan. Yang penting ialah meninggalkan keterikatan. Dan untuk melepaskan keterikatan-keterikatan semacam itu, cara yang paling gampang adalah meningat kematian. Menyadari bahwasannya hidup ini bersifat fana, sementara, sesaat. *5 Al Fatihah halaman 68

Manusia perlu menarik diri sebelum sesuatu menjadi keterikatannya.

Pratyahaara – menarik diri, khususnya panca indera, dari pemicu-pemicu di luar yang dapat menghilangkan kesadaran diri. Ketertarikan adalah awal keterikatan. Jika salah satu dari panca indera kita tertarik pada sesuatu, terciptalah rantai keterikatan yang pada suatu ketika pasti menjerat kita. Pratyahaara berarti saat ketertarikan itu baru terjadi kita langsung menarik diri. *6 Sutasoma halaman 150

“Sepi ing pamrih rame ing gawe”, bekerja keras tanpa pamrih

Pamrih adalah tujuan, atau keterikatan dalam melakukan suatu tindakan. Para leluhur memberi nasehat agar kita bekerja keras tanpa keterikatan terhadap hasil atau keterikatan pada tujuan atau mempunyai pamrih tertentu.

Selama masih menggunakan pikiran anda tidak bisa bekerja tanpa pamrih. Selama masih belum kenal kasih, anda tidak bisa melepaskan ego. Dan selama pikiran masih bekerja, selama ego masih belum terlepaskan, anda tidak bisa melihat ke dalam diri. *7 ABC Kahlil Gibran halaman 92

Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan? Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut. Lapisan Inteligensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama, sumber dalam diri: dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang dan sumber di luar diri: dari pujian dan pengakuan. *8 Fear Management halaman 90

Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan. Selama masih mengejar, kita masih terikat. Janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan. *8 Fear Management halaman 90

Para suci memberi nasehat agar kita tidak terikat pada sesuatu.

Asanga, Be Detached, janganlah Terikat pada Sesuatu. Asanga tidak berarti tanpa persahabatan, tapi tanpa keterikatan. Silahkan bersahabat, tapi tanpa keterikatan. Berkaryalah, tapi janganlah terikat pada hasilnya. Layanilah keluarga dan cintailah mereka, tapi tanpa keterikatan. Keterikatan bukan cinta. Keterikatan menciptakan keinginan untuk memiliki. Kemudian untuk memiliki sesuatu atau seseorang, kita akan melakukan apa saja, dengan membenarkan himsa atau kekerasan. *9 Life Workbook halaman 237

Dalam ilmu manajemen, dikenal pemahaman Management by Objective, seluruh upaya dilakukan agar hasil tercapai. Bagi mereka yang kurang ber-etika mereka menggunakan segala macam cara untuk memperoleh apa yang ia harapkan. Dalam spiritual, mereka berupaya sekuat tenaga untuk mencapai surga, nirvana atau apa pun tujuannya. Manajemen yang terikat kepada tujuan, manajemen berdasar pamrih.

Kemudian dalam ilmu manajemen dikenal pula Management by Process, apabila seluruh proses dilakukan dengan benar, hasil akhir adalah suatu kepastian. Seluruh upaya difokuskan pada tindakan saat ini, misalkan dengan pembuatan cheklist dari semua proses, sehingga apabila semua proses tersebut dijalani dengan benar maka hasil akhir sudah merupakan kepastian. Hasilnya adalah Total Quality Management, holistik. Dalam spiritual, mereka berfokus pada perjalanan dan bukan pada tujuan, tidak mempunyai pamrih.

Para leluhur kita mempunyai pitutur luhur, nasehat yang mulia agar kita melakukan “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe”. Agar semua energi kita terfokus pada pekerjaan dan tidak terfokus pada hasil sehingga energi untuk bekerja kurang maksimal. Pendekatan para leluhur lebih mendekati “Management by Process”. Dalam hal spiritual, dapat dimaknai agar kita tidak terikat pada tujuan keduniawian atau tujuan atau pamrih apa pun. Dasarnya adalah bekerja sebagai persembahan pada kehidupan semata.

Bagi yang mempercayai hukum sebab-akibat, ada perbedaan antara takdir dan karma. Takdir mengungkapkan ketidak-berdayaan, bahwa individu dikendalikan oleh alam semesta yang kekal. Sebaliknya karma merupakan sebuah konsep yang memberdayakan. “Apa yang dilakukan akan berbalik kepada pelakunya”, “Apa yang kau tabur, itu pula yang akan kau tuai.” Apa yang kita kirim kepada alam semesta akan kembali kepada kita.

Tindakan buruk akan kembali kepada kita dan kita harus lahir lagi untuk menerima akibatnya. Sebaliknya tindakan baik pun membuat kita harus lahir lagi untuk memperoleh akibatnya. Belajar dari daun dan bunga teratai yang tidak menerima kebaikan atau keburukan, leluhur kita menganjurkan kita untuk bertindak sepenuh hati tanpa pamrih. Hal tersebut akan melepaskan kita dari ikatan duniawi.

Mungkinkah manusia hidup tanpa keterikatan?

Keberadaan selalu mendatangi kita setiap saat membawa beberapa pilihan yang dapat dikelompokkan dalam tindakan-tindakan yang memuliakan atau shreya dan tindakan-tindakan yang menyenangkan atau preya. Konon, manusia hanya bisa berusaha agar selalu memilih shreya dengan cara melatih intelegensianya. Sampai suatu saat dia mendapatkan rahmat dari Keberadaan untuk meningkat kesadarannya. Hanya seorang Master yang menguasai kehidupan. Seorang Master ibarat bunga teratai yang memberikan kebahagiaan kepada sekelilingnya. Kaki dia masih terikat pada lumpur keduniawian, tetapi dia tidak terikat dengan lumpur tersebut, dia muncul ke permukaan memberikan kebahagiaan.

Banyak orang meninggalkan keluarga dan menjadi petapa. Mereka mengaku tidak terikat lagi dengan keluarga, tetapi menciptakan keterikatan baru pada institusi yang mereka pimpin, pada orang-orang di sekitarnya yang dianggapnya sebagai “Murid”. *9 Life Workbook halaman 115

Tanpa keterikatan, seseorang tidak bisa hidup. Seorang yogi yang sudah melampaui segala macam keterikatan akan menciptakan ‘keterikatan baru’ yang bersifat ‘temporer’ untuk bisa bertahan hidup. ‘Mempersiapkan para murid’, ‘kedamaian dunia’, ‘menyebarkan pesan kasih’ merupakan beberapa ‘ikatan temporer’ yang biasanya diciptakan oleh para master. Namun, karena ikatan tersebut hasil ciptaannya sendiri, seorang Master mudah memutuskannya. Sebaliknya mereka yang belum memperoleh pencerahan tidak bisa, saya ulangi “tidak bisa menciptakan” ikatan-ikatan temporer seperti itu. Mereka tidak bisa berkarya tanpa pamrih, seperti seorang Master. *10 Paramhansa halaman 411

Melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Tuhan adalah Pemilik tunggal semuanya ini. Anda ada atau tidak, dunia ini akan tetap ada.

 

Sanyas berarti pelepasan. Melepaskan apa? Tentu saja, melepaskan keterikatan kita. Bekerja, namun tidak terikat pada hasil akhirnya. Keterikatan kita menunjukkan betapa seriusnya kita menghadapi kehidupan ini. Padahal, hidup ini bukan sesuatu yang serius. Pelepasan juga berarti melepaskan keseriusan kita. *1 Baghavad Gita halaman 205

 

Bagi seorang Narada, how atau “bagaimana” lebih penting daripada what – apa. Dan technical know-how dia sungguh mudah dikuasai: pertama: Hindari pemicu keterikatan. Kedua: Dekati mereka yang sudah berhasil melampaui semua itu. *11  Narada Bhakti Sutra halaman 184

 

Terima Kasih Guru, kami persembahkan tulisan ini kepada Guru dan semua sahabat-Sahabatku. Namaste.

*1 Bhagavad Gita        Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, PT Gramedia Pustaka Utama  2002.

*2 the Hanuman Factor                The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010.              

*3 Mawar Mistik         Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

*4 Bhaja Govindam      Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

*5 Al Fatihah              Membuka Pintu Hati, Surah Al-Fatihah Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*6 Sutasoma              Sandi Sutasoma menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2007.

*7 ABC Kahlil Gibran     Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999.

*8 Fear Management  Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

*9 Life Workbook        Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007.

*10 Paramhansa         Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002.

*11  Narada Bhakti Sutra             Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001.

Sudah lengkapkah Perpustakaan Anda dengan Buku-Buku Bapak Anand Krishna?

“Enak dibaca, perlu dihayati dan layak dipraktekkan”

Informasi buku silahkan menghubungi

http://booksindonesia.com/id/

 

Situs artikel terkait

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Januari 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone