February 23, 2010

Kejujuran Mass Media Sudah Merupakan Barang Langka? Semoga Tidak

Sehabis membaca berita di salah satu media on-line, sepasang suami istri bercengkerama di sofa kamar tamu, membicarakan tentang berita tersebut. Malam telah larut dan tivi sudah dimatikan.

Sang Isteri: Kita baru saja membaca bahwa kegiatan jiplak menjiplak karya ilmiah yang merupakan puncak gunung es ketidakjujuran dalam jagad pendidikan. Seorang pengajar di sebuah universitas menjiplak, dan hal tersebut membuat saya sangat prihatin.

Sang Suami: Ketidak jujuran sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat, baik di pendidikan, di bidang usaha, di eksekutif, di legislatif, di yudikatif, bahkan mass media yang seharusnya seimbang pun, sering memberi peluang ketidakseimbangan berita. Bila pendidikan sudah tidak jujur, maka anak didik dengan berbekal ketidakjujuran, otomatis merambah ke seluruh kegiatan masyarakat. Terlebih lagi kalau mass media pun mendukung aura ketidakjujuran, maka virus ketidakjujuran akan semakin cepat meluas disebarkan oleh mass media.

Sang Isteri: Suamiku, bukankah “angle, arah dan framing” dari isi berita diputuskan oleh para profesional media. Reporter, editor dan pemilik perusahaan mestinya adalah seorang profesional. Mereka berkarakter, mereka pasti jujur?

Sang Suami: Benar isteriku, McQuail dalam bukunya Mass Communication Theories, Sage Publication,2000, menjelaskan tentang peran mass media. Pertama mass media adalah jendela bagi masyarakat agar bisa melihat suatu peristiwa. Kedua, mass media sebagai cermin yang dapat merefleksikan kejadian sebenarnya. Ketiga, mass media sebagai filter penjaga layak atau tidaknya sebuah berita diterbitkan. Keempat, mass media sebagai pemandu, penunjuk arah bagi masyarakat dengan pembuatan opini. Kelima, mass media sebagai forum umpan balik dan komunikasi interaktif.

Sang Isteri: Isi dan informasi yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi masyarakat. Gambaran tentang “realitas” yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Informasi yang salah dari media massa akan memunculkan gambaran yang salah pula tentang suatu peristiwa. Karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian mass media.

Sang Suami: Seseorang tidak bisa sembarangan mengadukan orang dan menuduhnya melakukan perbuatan pidana. Harus ada “bukti permulaan yang cukup”. Misalnya, dalam kasus pelecehan seksual: Harus ada 2 atau 3 saksi yang melihat “langsung” kejadian dugaan pelecehan tersebut serta  harus ada visum dari RSU. Ini adalah dasar bagi pihak polisi atau Komnas HAM/Perempuan untuk melakukan proses hukum. Nah, jika memang bukti permulaan tersebut ada, maka adalah hak setiap warga negara untuk menuntut keadilan melalui proses hukum. Namun, jika tidak ada bukti permulaan yang cukup, maka orang tersebut bisa dituduh balik melakukan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan, dan fitnah.

Sang Istri: Anehnya, pihak pengacara yang seharusnya tahu prosedur hukum pidana ini, justru malah mendorong penggugat mengadukan dugaan pelecehan seksual tersebut ke Komnas Perempuan dan Polda Metro Jaya. Pemberitaan yang tak berimbang mass media bisa mencemarkan nama baik seseorang. Dan mencemarkan nama baik adalah suatu tindak pidana yang melawan hukum. Jika kasus seperti ini bisa dilegitimasi oleh aparat penegak hukum, atau bahkan menjadi yurisprudensi, maka ini alamat buruk penegakan supremasi hukum di Indonesia. Karena kelak siapa pun bisa mengadu dan diadukan telah melakukan pelecehan seksual, tanpa bukti permulaan yang cukup, asal bisa “mem-blow up” kasusnya ke mass media Indonesia.

Sang Suami: Benar isteriku, salah satu kasus terkenal “penghakiman oleh mass media” ini justru terjadi beberapa tahun lalu dan menimpa seorang yang sekarang akan diberi gelar pahlawan pluralisme, Gus Dur, Presiden RI ke-4. Beliau waktu itu diberitakan telah melakukan perzinahan dengan seorang janda, bahkan ada fotonya segala saat beliau sedang memangku sang janda. Namun, akhirnya terbukti juga menurut seorang pakar informasi bahwa foto tersebut cuma rekayasa komputer. Tuduhan ini, yang tak sekalipun dibuktikan melalui proses hukum yang adil, dijadikan salah satu alasan untuk “meng-kudeta” beliau dari jabatannya yang sah secara konstitusi. Apakah ada pihak mass media, yang telah memberitakan tuduhan tanpa bukti itu meminta maaf kepada Gus Dur? Alam telah mencatat tindakan tanpa hati nurani tersebut, dan tidak dapat dihapus selamanya.

Sang Isteri: Semoga masyarakat sadar, bahwa semua pikiran, ucapan dan tindakan kita direkam oleh alam semesta. Dan perbuatan baik atau tidak baik, cepat atau lambat akan kembali kepada dia yang berbuat. Seperti anak panah cakra yang akan mengejar ke mana pun seseorang berada untuk memberikan reaksi yang setimpal. Mereka yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan tujuannya akan menerima akibat dari segala caranya. Menanam padi menunggu panen 4 bulan kemudian, menaman pohon mangga menunggu panen 7 tahun kemudian, menanam pohon jati bisa menunggu 50 tahun kemudian. Sudah banyak kisah tentang aksi reaksi yang dimuat mass media, dan ini adalah suatu peringatan alam.

Sang Suami: Dengan berbagai peraturan kita boleh berharap supaya setiap orang berperilaku jujur, namun kenyataannya apa? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraturan, undang-undang, dogma, dan doktrin tidak dapat “menjujurkan” jiwa manusia. Bagaikan benih, kejujuran harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia. Ia tidak dapat dijadikan peraturan, kemudian dimasukkan secara paksa ke dalam diri manusia. Saya sangat berharap pendidikan akan membentuk manusia-manusia yang jujur. Pendidikan Oneearth School di Bali gagasan bapak Anand Krishna bisa menjadi contoh yang akan menjadi harapan bangsa. Sayangnya mass media senang memuat berita “adharma” sebagai halaman utama dan memberitakan pada kolom kecil di pojok tentang berita “dharma”.

Sang Isteri: Apabila kita berada pada jalur sufi, yang juga berarti jalur kasih, dengan sendirinya kita menjadi jujur. Kita tidak perlu berupaya untuk menjadi jujur. Upaya kita untuk menjadi jujur justru membuktikan bahwa pada dasarnya kita “tidak jujur”. Upaya kita untuk jujur justru membuktikan bahwa pada dasarnya kita “tidak jujur”. Upaya kita hanya akan menutupi “ketidakjujuran” kita. Upaya kita justru membuat kita “munafik”, tidak jujur, tetapi menganggap diri jujur. Kita harus berupaya dan berjalanlah pada jalur kasih, dan akan menjadi jujur dengan sendirinya!

Sang Suami: Mereka yang tidak jujur, mereka yang munafik, sudah pasti tidak senang dengan setiap gerakan yang melawan ketidakjujuran dan kemunafikan. Isteriku, pembicaraan kita ini mungkin disepelekan oleh mereka yang kuat bak “raksasa”, “raksasa yang telah meminggirkan hati nurani”nya akan tetapi pembicaraan ini tetap akan tercatat oleh alam semesta dan anak cucu kita akan membaca dan menarik hikmah dari pembicaraan sederhana ini.

Sang Isteri: Suamiku, sudah saatnya kita berdoa demi kejayaan Indonesia, sebelum pergi tidur.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone