February 24, 2010

Melihat Panggung Sirkus Bangsa Menggunakan Kacamata Mass Media

Kali ini pembicaraan antara suami istri setengah baya berkisar pada sebuah artikel pada surat kabar harian yang masih menggunakan hati nurani dalam menulis pemberitaan.

Sang Suami: Istriku, saya baru saja membaca artikel J. Kristiadi di Kompas tanggal 23 Februari 2010.  Disampaikan bahwa suatu kasus nasional hadir dalam panggung dengan pemeran yang dapat dinikmati masyarakat. Disebutkan bahwa salah satu keahlian para pemimpin kita adalah “mimikri”, kodrat sebuah hewan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Teman-teman saya sudah pada jenuh, masyarakat tak bisa berharap banyak, seorang pemimpin sekarang menggebu-gebu dan besok pagi bisa takluk bersimpuh. Masyarakat hanya dibutuhkan lima tahun sekali, setelah itu disuruh nonton sandiwara.

Sang Istri: Benar suamiku, kok seperti “bunglon” saja, ahli mimikri. Teman arisan saya melihatnya seperti “keledai” manajemen zaman baheula yang digerakkan dengan wortel dan tongkat. Jika menurut dikasih wortel, jika tidak menurut dipukul tongkat dan diungkit-ungkit sejarah lamanya. Salah kita juga yang telah memilihnya. Aslinya tak seindah foto baliho sebelum pemilihan.

Sang Suami: Lho menurut para scientist, dari pemetaan DNA sudah membuktikan adanya benang merah antara manusia dan keluarga besar mamalia. Kemudian, keluarga besar mamalia pun masih punya hubungan dengan keluarga besar reptilia, amphibia, dan seterusnya ke belakang, sehingga binatang bersel tunggal. Wajar saja kalau kita seperti melihat sirkus bangsa yang digelar mass media. Semoga saja mereka lebih “manusia”-wi, lebih memakai hati nurani sehingga tidak seperti mereka yang berada di rimba belantara.

Sang Isteri: Saya kecewa, mass media yang seharusnya mencerdaskan bangsa, kadang malah mirip burung “beo”, mengulang kalimat-kalimat Pengacara Tara dan Sum dan dijadikan headline di surat kabar daerah, padahal isinya tidak sepadan dengan headline-nya. Kok seperti “kodok” saling bersahutan kala ada hujan berita yang laku dijual. Semestinya seperti “burung hantu” yang belajar sampai tengah malam sebelum bicara.

Sang Suami: Memasuki tahun “Macan”, ibarat memasuki hutan rimba, banyak “serigala” yang serakah, yang selalu mengincar mangsa lainnya. Cara bicara di dunia maya pun akan diatur memakai Rencana Peraturan Menteri. Memang banyak “bebek-bebek” yang gampang diarahkan dengan tongkat. Layaknya di pagelaran sirkus, mereka enak dijadikan tontonan. Mengapa tidak seperti “burung” yang bebas? Misalnya “burung angsa” lintas negara yang biasa singgah di berbagai negara.

Sang Isteri: Betul suamiku, saya pernah membaca buku bahwa sewaktu musim dingin para “angsa” terbang ke selatan mencari tempat lebih panas. Mereka terbang membentuk huruf ”V”. Ketuanya di ujung panah. Dibelakangnya terbang lebih ringan karena udara telah disibak teman dimukanya. Mereka bisa terbang 171% lebih jauh. Suara mereka riuh rendah menyemangati ketuanya.

Sang Suami: Saya tersentuh ole artikel J. Kristiadi tersebut yang menyatakan bahwa “Art is a lie that makes us realize truth”. Pablo Ruiz Picasso yang mengatakan hal tersebut, bahwa panggung seni adalah pagelaran yang menampilkan kebohongan, tetapi dengan dusta justru ingin membeberkan kebenaran yang hakiki. Bukankah bangsa kita terkenal mewarisi darah seni. Tetapi membuat opini dari hal yang tidak benar tidak selaras dengan alam. Dan segala sesuatu yang tidak selaras dengan alam akan terkena hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat.

Sang Isteri: Suamiku seakan mengatakan bahwa sebagian insan mass media adalah ahli seni yang mengungkapkan kebohongan dari Pengacara Tara dan Sum di blow up media sehingga terasa benar terutama kepada masyarakat kita yang kurang kritis dan mudah dibodohi? Salah seorang teman saya yang kritis justru mempertanyakan bahwa Tara selama 3 bulan diisolasi dan didampingi psikiater. Jangan-jangan justru dia dihipnotis? Karena selama ikut Pak Anand dia tidak pernah diisolasi? Semoga saja tidak semua mass media ahli seni membalik fakta.

Sang Suami: Membangun “enlightment society” dari Pak Anand perlu perjuangan serius. Bagaimana membangkitkan public awareness dan tidak masuk dalam politik praktis. Seluruh kegiatan National Integration Movement, Forum Kebangkitan Jiwa, Yayasan Pendidikan adalah awal dari pembangunan karakter bangsa. Semoga seluruh anak bangsa sadar.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Februari 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone