March 7, 2010

Memaknai Identitas Diri, Bagiku Guruku Bagimu Keyakinanmu

Sepulang dari tugas luar kota, setelah makan malam seorang suami bercengkerama dengan istrinya.

Sang Suami: Dalam perjalanan pulang, melalui HP saya membaca komentar-komentar masyarakat tentang para wakil rakyatnya di FB dan di warta digital. Masyarakat sudah jenuh melihat perilaku para wakil rakyatnya yang tidak malu bertindak memalukan. Barusan saya berpikir bahwa dalam diri seseorang ada kumpulan catatan informasi yang dikumpulkannya sejak kecil. Seseorang mempunyai banyak catatan tentang peran dirinya dan sesama peran diri tersebut sering bertabrakan. Misalnya peran orang bijak, peran orang bermoral, peran wakil rakyat dengan peran anggota fraksi yang harus diutamakannya saling bertabrakan. Kemudian peran kepala keluarga dan peran seorang bapak yang baik sering bertabrakan dengan peran sebagai laki-laki kala bertemu wanita cantik. Nikah siri memberi jalan keluar dari peran yang bertabrakan, akan tetapi akhirnya akan muncul peran lain yang bertabrakan juga. Hal tersebut, bukan solusi hanya sebuah pembenaran tindakan dilihat dari kacamata psikologi. Selama kita memberi identitas diri sebagai kumpulan catatan, atau kumpulan informasi maka kita tidak akan hidup tenang. Kita harus meningkatkan kesadaran dengan memaknai identitas diri bukan hanya sebagai kumpulan catatan yang disebut ego.

Sang Istri: Seorang mahasiswi menjelek-jelekkan seorang tokoh yang tadinya dianggap sebagai Gurunya. Peran dia sebagai murid, peran dia sebagai anak, peran dia sebagai kelompok orang yang mau menjatuhkan sang tokoh, semua peran di dalam dirinya bertengkar mencari yang nomer satu. Dalam diri seseorang ada benih kebijakan, ada benih kehewanian, ada benih keraguan atau kebingungan yang sebetulnya bersama suara nurani harus dimanfaatkan untuk mengembangkan benih kebijakan dan mengendalikan dan melembutkan benih kehewanian dalam diri. Tindakan memilih teman dan lingkungan sangat berpengaruh. Dalam lingkungan yang pengin menang sendiri, pengin memuaskan keserakahan pribadi, pengin menjatuhkan seseorang dengan segala cara, benih kehewanian dikembangkan dan benih kebijakan dipinggirkan.

Sang Suami: Manusia mencatat hal-hal di luar diri melalui inderanya dan mencatat hal-hal didalam diri melalui rasanya. Ki Ageng Suryomentaram salah satu idola almarhum kakek saya, pada tahun 1930-an menyebut kesadaran manusia yang menganggap dirinya sebagai “tukang catat” adalah “kesadaran dimensi kesatu” yang hidup seperti tumbuh-tumbuhan, yang tidak dapat bereaksi  atau bergerak terhadap tindakan luar yang dilakukan terhadap dirinya. “Kesadaran dimensi kedua”, seperti halnya hewan adalah kesadaran manusia yang menganggap “catatan-catatan”, “kumpulan informasi” sebagai dirinya. Catatan-catatan yang jumlahnya jutaan, dalam ilmu modern disebut “thoughts”, ini hidup seperti halnya hewan, kalau diberi makan berupa perhatian akan semakin kuat, kalau tidak diberi perhatian akan mati. Hewan hanya bertindak alami, bereaksi “fight or flight”, berkelahi atau lari, kalau diri atau catatan-catatannya diganggu.

Sang isteri: Benar Suamiku, “kesadaran dimensi ketiga”, yang menganggap “Kramadangsa”, nama kita sendiri sebagai diri, yaitu ketika manusia menggunakan “pikiran”nya untuk menanggapi atau bertindak terhadap hal yang berkaitan dengan dirinya. “Kesadaran dimensi keempat”, yaitu manusia yang menyadari bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi “Pengawas”, “Saksi” dari setiap kejadian yang dialaminya.  Setelah menyadari bahwa diri ini bukannya kumpulan catatan-catatan dan pikiran, maka manusia menjadi sadar, bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi Saksi, dan manusia tersebut mencapai derajat Manusia Universal yang merasa damai ketika bertemu manusia dan makhluk lainnya.

Sang Suami: Penjelasan Ki Ageng selaras dengan pendapat modern, bahwa seseorang sering mengidentifikasi diri sebagai kumpulan informasi mengenai dirinya. Mind adalah kumpulan informasi yang mengkristal. Mind ibarat “software” komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada “hardware” otak agar dia bisa berfungsi. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, “software” atau mind sebetulnya dapat di-“over write” dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berbeda dari aslinya. Penjelasan tersebut saya baca dalam buku *Bodhidharma, AK. Masalah “over write” ini yang digunakan para oknum untuk mencetak para teroris. Mereka merasa menjalankan kebenaran padahal hanya merupakan hasil indoktrinasi berulang-ulang yang telah menjadi bagian dari pikiran bawah sadarnya. Lain dengan latihan memberdaya diri, setelah mendapatkan kesadaran, maka “conditioning mind” yang salah dibuang dan diganti oleh diri sendiri dengan “new created mind” sepenuh kesadarannya.

Sang Istri: “Hardware” otak sendiri hanya berwujud seonggok daging basah dan hanya bisa “on”, menyala kala ada kehidupan. Jadi sebetulnya yang ada itu hanya kehidupan, tanpa kehidupan semuanya tak ada. Seseorang yang memaknai dirinya sebagai kehidupan, maka dia paham bahwa kehidupan itu berada di mana-mana berada di semua makhluk. Dan setelah raga didaur ulang, kehidupan itu masih ada. Kehidupan juga merupakan saksi yang menyaksikan ulah manusia. Ki Ageng menyebut “manusia tanpa ciri” atau “saksi” itu adalah manusia universal, “kesadaran dimensi keempat”. Mereka yang memaknai dirinya sebagai kumpulan informasi hidup dalam dualitas dan bahkan kadang derajatnya turun dalam dimensi hewan, kala mereka hanya menggunakan naluri kehewanian dalam diri, memuaskan keserakahan, mau menang sendiri dan tidak memperhatikan perasaan orang lain.

Sang Suami: Bagiku, Guru adalah suatu berkah dari Kehidupan untuk menuntun evolusi diri kita. Kita sudah mendapatkan berkah dari Kehidupan, Guru Pemandu Evolusi sejak masuk TK. Dan setelah kita sadar bahwa kita bukan bukan sekedar kumpulan catatan, bukan kumpulan informasi tentang diri, maka kita diberkahi Guru dalam bidang spiritual. Jadi menurut pemahaman saya sampai dengan saat ini, Guru bersifat pribadi. Nggak ada kaitan dengan pemberitaan dunia luar. Guru telah membuat diri menyadari siapa jati diri kita, dan memandu kita dalam perjalanan kembali ke dalam diri. Penghormatan kepada Guru adalah hal yang wajar. Seseorang yang menulis buku “Penggal Kepala dan Mempersembahkan Kepada Seorang Murshid” adalah hal yang wajar, karena beliau sang penulis telah sadar siapa sesungguhnya jati dirinya.

Sang Istri: Setiap orang berbeda-beda dalam memaknai identitas dirinya. Ada yang memaknai dirinya sebagai fisik , sebagai energi, sebagai yang punya mental emosional, dan seterusnya ada yang memaknai diri sebagai intelegensia atau kebijakan ataupun para suci yang sudah sampai tingkat kesadaran murni. Lapisan-lapisan kesadaran tersebut adalah evolusi manusia, dan Guru adalah pemandu yang memandu menuju evolusi yang lebih tinggi. Tanpa Guru ibarat seorang buta yang menuntun orang buta yang lain dan akhirnya tercebur jurang. Mari kita berdoa untuk Guru.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone