March 7, 2010

Mencermati Dasamuka Yang Merajalela Di tengah Bangsa

Malam telah larut dan sepasang suami istri sedang membahas buku I Ching Bagi Orang Modern, AK, terbitan Gramedia tahun 2002.

Sang Istri: I Ching adalah sebuah nyanyian, sebuah lagu yang terdiri dari 64 nada. Dan yang disampaikan dalam buku ini adalah nyanyian versi Tao, bukan versi ramalan yang telah terkenal di tengah masyarakat. Setiap nada adalah satu karakter, satu huruf China ditambah sepatah dua patah kata. Sangat indah! Saat kubuka secara acak kubaca huruf ke 18, “KU” atau “Membusuk” dengan tambahan kata: Di Tengah angin kencang dan badai topan, orang bijak menjaga dirinya dan membantu orang lain.

Sang Suami: Ya,saya ingat kalau tidak salah interpretasinya adalah: Jangan membiarkan pengetahuan dan keahlian anda membusuk. Gunakan demi peningkatan kesadaran diri, juga untuk membantu dan melayani orang lain. Keahlian dan ilmu pengetahuan yang tidak diterapkan dalam hidup sehari-hari, tidak dimanfaatkan untuk kesadaran diri akan membusuk. Akan mengeluarkan bau tidak sedap.

Sang isteri: Diceritakan tentang Dasamuka, seseorang yang paham ilmu pengetahuan dan spiritualitas, akan tetapi tindakannya tidak sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman yang dimilikinya. Secara simbolik pikiran Sang Dasamuka, Sang Sepuluh Muka dikuasai oleh lima indera dan lima kelemahan dalam dirinya, yaitu nafsu birahi, amarah, keterikatan, keserakahan dan keangkuhan. Ia yang diperbudak oleh panca indera adalah raksasa. Berbadan manusia, tetapi bersifat hewani. Raksasa adalah metafora untuk “manusia yang masih berinsting hewani”, manusia yang sibuk mengurusi urusan perut dan kenyamanan diri, kenikmatan jasmani. Manusia yang tidak memikirkan pengembangan diri karena sudah merasa puas ketika badannya merasa puas. Hal demikian akan menyebabkan dirinya “membusuk”, menyebarkan bau tak sedap, tidak dapat ditutup-tutupi.

Sang Suami: Seorang Mantan Bupati baru saja bercerita kepada saya. Dia pernah memenangi pilkada dan pernah juga kalah dalam pilkada. Selama seorang calon masih menghitung besarnya uang untuk pilkada dia tidak akan menang. Kemudian apabila seorang calon yang kalah masih menyesal atas kehilangan sejumlah uangnya, dia bisa menjadi gila. Dengan emosi dia bercerita banyak sekali uang yang telah dilemparkannya kepada setan. Menurut dia semua yang minta uangnya kala ikut pilkada dikendalikan setan.

Sang Isteri: Bukankah dia sudah paham bahwa dia sengaja masuk lingkungan raksasa dan dia mesti siap akan konsekuensinya?

Sang Suami: Benar isteriku dan dia diberi nasehat tokoh-tokoh yang terkenal integritasnya. Kalau mau jadi pemimpin dengan menggunakan moral, anda tidak akan pernah menang. Gunakan segala cara untuk menjadi pemimpin dan setelah menjadi pemimpin baru seseorang bisa mulai menerapkan moral……. Dan pernyataan itu pun sebenarnya kita pertanyakan, betulkah dia bisa menerapkan moral setelah jadi pemimpin? Contoh telah terpampang di banyak media masa. Moral pun tidak digunakan dalam mempertahankan kekuasaan.

Sang Isteri: Berarti kita pun harus waspada, watch out! Bisa saja seseorang mengiklankan diri sebagai kelompok demokratis, berakhlakul karimah, tetapi setelah kelompoknya menang bisa saja dia tidak demokratis lagi. Masyarakat harus cerdas dan tidak menjadi korban iklan para raksasa dan hanya dimanfaatkan setiap pancawarsa.

Sang Suami: Sebetulnya bila kita cermat, mereka yang tidak menerapkan ilmu pengetahuan dan spiritualitasnya pasti membusuk, dan mereka pasti menimbulkan bau yang tidak sedap. Kecuali mereka yang juga hidup dalam tahap asura, dia terbiasa dengan bau tak sedap tersebut dan dia menikmatinya. Asura berarti tidak “sura”, tidak harmoni dengan kehidupan, tidak sinkron dengan keberadaan alam….. Tak ada jalan lain mari kita mencerdasakan diri kita, mencerdaskan lingkungan kita dan akhirnya masyarakat kita menjadi masyarakat yang cerdas, dan tidak menjadi korban iklan. Bukan masuk dalam politik praktis tetapi memiliki civic awareness, kesadaran berpolitik.

Sang Isteri: Saya jadi ingat setiap tokoh yang berusaha mencerdaskan masyarakat, tokoh yang berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat, selalu saja di takut-takuti para raksasa. Seorang tokoh yang berusaha mencerdaskan bangsa dijelek-jelekkan namanya dengan cara-cara raksasa, bukan berdasar hukum tetapi berdasar opini yang dibuat oleh para raksasa yang tidak santun. Betulkah mereka yang mendukung pendiskreditan namanya itu berdasarkan suara nuraninya? Tidakkah ada imbalan tertentu yang tentunya sulit dibuktikan? Semua kembali ke hati nurani.

Sang Suami: Suamiku, bukankah kita mempunyai idola Sang Arjuna? Pada waktu bertapa pertama-tama dia ditakut-takuti para jin setan yang mengerikan. Kemudian kepada dia diperdengarkan dentingan ringgit dan dipersembahkan berpeti-peti intan permata. Selanjutnya dia digoda bidadari jelita. Tetapi Sang Arjuna tabah dan akhirnya mendapatkan senjata Pasupati. Pasu adalah hewan jinak dan pati adalah raja. Dia menjadi Master dalam mengendalikan kehewanian dalam diri.

Sang Isteri: Bukankah dalam manajemen zaman baheula seekor keledai hanya bergerak karena wortel atau takut akan tongkat pemukul? Bedanya sang keledai tunduk pada duniawi, sedangkan sang Arjuna tetap sadar. Zaman telah berubah, tetapi perilaku manusia tak berubah. Beda panggung beda setting, tetapi kesadaran manusia tak banyak beranjak. Mau pilih jadi keledai atau Arjuna, pilihan di tangan kita. Mari kita berdoa demi bangsa kita. Wahai Ibu Pertiwi, bantulah kami.

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone