March 24, 2010

Renungan: Melampaui Mind, Berbangsa Dengan Penuh Kesadaran

Sehabis makan malam, sepasang suami istri duduk santai di beranda dan membicarakan buku Menemukan Jati Diri, I Ching Bagi Orang Modern, karya Bapak Anand Krishna terbitan Gramedia tahun 2002.

Sang Istri: Seorang bijak berkata bahwa kita perlu sadar apa yang masuk ke dalam mulut dan apa yang keluar dari mulut. Berhati-hati dengan makanan yang akan masuk tubuh dan berhati-hati dengan ucapan yang akan keluar dari mulut. Akan tetapi manusia tidak hanya butuh makanan bagi fisiknya. Pikiran manusia pun membutuhkan makanan berupa informasi, sehingga pikiran membutuhkan buku, koran, internet, temu hati, berbagi rasa lewat Face Book dan lain-lain. Kembali kita harus berhati-hati dengan asupan informasi bagi pikiran tersebut.

Sang Suami: Mind kita dibentuk oleh informasi yang diperoleh dari luar. Pendidikan di sekolah, pelajaran dari orang tua, pengetahuan tentang agama dan lain-lain yang kesemuanya telah membentuk mind kita. Ilmu medis mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan perilaku yang ada dalam diri manusia. Stimulus atau rangsangan atau informasi yang masuk berulang kali membentuk synap-synap saraf  baru dalam otak. Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan bahkan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program dari conditioned mind, pikiran bawah sadar yang telah terbentuk. Sirkuit synap-synap saraf otak  hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, dan lain sebagainya telah menjadi lebih permanen, stabil dan sulit dihilangkan. Inilah yang disebut mind. Manusia diperbudak oleh belenggu conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Sang Isteri: Bila informasi yang diperoleh seseorang sejak kecil tentang agama akan mempengaruhi mind, mempengaruhi pikiran bawah sadarnya, maka beda informasi agama yang diterima akan beda pula pikiran bawah sadarnya. Dalam masyarakat  yang heterogen, akan banyak orang yang  mempunyai mind berbeda-beda. Bagaimana cara menghindari konflik dari mind beda agama tersebut? Hal tersebut sangat penting bagi kesatuan bangsa.

Sang Suami: Para cendekiawan menganjurkan dialog antar agama untuk menghindari konflik. Mereka berharap dapat meminimalisir konflik melalui dialog. Sebenarnya sudah seribu tahun kaum liberal melakukan eksperimen tersebut tetapi hasilnya belum memuaskan. Paling banter hasilnya adalah sebuah toleransi terhadap pandangan yang berbeda.

Sang Isteri: Akan tetapi pada dasarnya toleransi adalah merasa bahwa pandangan saya benar, kemudian walau pandanganmu berbeda tak apalah. Masing-masing masih merasa benar, dan bila aroma politik demi memperoleh kekuasaan masuk, bisa jadi toleransi hanya berupa ucapan pemanis bibir saja.

Sang Suami: Peningkatan kesadaran. Hanya peningkatan kesadaran yang dapat membuat kita saling mengapresiasi agama lain. Kebenaran yang kita yakini hanyalah mind, pikiran bawah sadar kita akibat informasi yang kita terima sejak kecil. Beda pendidikan, beda orang tua, beda lingkungan, maka pandangan tentang kebenaran akan berbeda. Menyadari hal tersebut dia akan menghormati pandangan orang lain. Disamping hal tersebut, seseorang yang penuh kesadaran akan menghargai agamanya dengan pemahaman yang universal. Dia akan memahami tentang “hakikat”, makna hakiki, bukan hanya “syariat”, aturan. Dia yang berhasil melampaui conditioned mind dan berhasil menciptakan mind baru dengan bekal kesadaran, maka dia tidak fanatik.

Sang Istri: Makanan bergizi menyehatkan badan. Pengetahuan berguna menyehatkan pikiran. Seorang yang dalam keadaan sadar maka segala hal dilakukannya berdasar kesadaran, bukan hanya berdasar pola pikiran lama yang berasal dari pikiran bawah sadar……. Kata manusia berasal dari bahasa Sansekerta, manas dan isa. Manas adalah mind. Mind membangun ego yang membuat keterpisahan dengan yang lain.  Isa adalah esa, satu. Manusia yang melampaui mind menuju esa, persatuan. Dengan berkesadaran manusia merasa satu dengan yang lain.

Sang Suami: Menurut ilmu pengetahuan, setiap kali kita menghirup napas, kita menghirup 10 pangkat 22 atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Kemudian setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom 10 pangkat 22 yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, mempertukarkan organ tubuh dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang lain. Atom milikku adalah atom milikmu….. Atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi, berasal dari cahaya matahari. Hakekatnya kita semua adalah satu.

Sang Isteri: Sewaktu tubuh kita sehat, tidak ada keluhan, nyaman dan penuh vitalitas, kita merasa tubuh kita adalah satu. Baru setelah ada bagian tubuh yang sakit, misalnya sakit gigi. Kita baru bilang gigiku, bagian dari tubuhku sakit. Rasa keterpisahan terjadi ketika kita sedang tidak sehat. Konflik yang terjadi pada sebuah bangsa terjadi kala bangsa tersebut sakit. Semoga cepat sehat………

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone