March 11, 2010

Sidang Pleno Terbatas Panitia Investigasi Sang Raja Kambing

Sudah sewajarnya kala usia mencapai setengah baya, badan kadang-kadang merasa “greges-greges”, sedikit demam, sehingga sepasang suami istri kita menghindari pembicaraan serius. Mereka ingin “pause”, santai dan rileks sejenak. Mereka membayangkan tengah menghadiri Sidang Pleno Terbatas Panitia Investigasi Perkambingan yang dihadiri Sang Raja dan beberapa Pejabat Teras. Mari kita lihat imaginasi mereka.

Sang Raja Kambing berbaju batik coklat berbulu masuk ruangan disertai ajudan dan penasehatnya dan semua peserta sidang berdiri menyambutnya.

Sang Raja Kambing: Selamat Siang saudara-saudara, Semoga kita sekalian berada dalam keadaan sejahtera. Untuk menyingkat acara mari kita mulai sidang pleno ini. Karena diliput mass media secara “life”, saya  mohon saudara-saudara bicara secara blak-blakan untuk menghindari interpretasi yang kurang jelas.

Pejabat Bidang Informasi Perkambingan: Baginda Raja Yang Mulia, kami melaporkan kondisi lapangan saat ini. Kondisi masyarakat kita di abad milenium ini masih tidak berbeda dengan kondisi “manusia” yang kalah perang di abad pertengahan. Masih dalam perbudakan. Masyarakat kita diperjual belikan, diangkut memakai pickup berdesak-desakan, dan diberi menu harian hanya rumput dan dedaunan. Sudah lama kita tidak merasakan salad! Memang dalam transportasi kita tidak separah bangsa sapi, yang sering saya lihat dimasukkan pick up kecil dengan badan tertekuk dibawa pergi dari daerah menuju Jakarta. Juga belum ada informasi bangsa kita diglonggong sebelum dipotong.

Pejabat Kementrian Luar Negeri: Kecuali kelompok domba, Paduka, mereka tinggal di benua Australia diberi konsumsi cukup dan selalu dicukur rapi, potongan bulu tubuh mereka dijadikan pakaian wool para selebrities. Makanan mereka jauh lebih bergizi daripada makanan manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Perwakilan LSM Perkambingan: Nasib kelompok kami lebih parah Yang Mulia, anak-anak kami yang masih muda dipotong, dicincang, ditusuk, dibakar setengah matang, jadi santapan manusia. Mereka bangga merasakan sate kambing muda. Indeed Your Exellency! Kaki diikat, leher dikerat, kulit dikelupas dan digambari wayang dan dijadikan pajangan di kamar tamu manusia. Bahkan tulang belulang dengan daging melekat tersisa, dipotong dimasukkan kuah panas dijadikan “thengkleng” kesukaan mereka. Betul-betul insan manusia yang tidak berperikebinatangan.

Dengan kepala dingin, Sang Raja Kambing bertitah: Sahabat-sahabatku terkasih, cool-cool, kalem sedikit dong, kita tidak kalah-kalah banget. Kita balas dengan cara kita, hukum alam sebab akibat memayungi seluruh makhluk. Cepat lakukan sosialisasi, sebarkan informasi sesegera mungkin. Ketika daging kalian masuk perut manusia, keluarkan energi panas, tingkatkan tekanan darah mereka, buat mereka ketagihan, dan akhirnya biarkan mereka terkena “stroke”. Minimal tempel darah mereka jadilah lemak di tubuh mereka syukur kalau bisa bermukim di saluran jantung. Biar keluar keringat dinginnya, kala sakit jantungnya kambuh. Biaya yang mereka keluarkan untuk mengobati tubuhnya berkali-kali lipat dari harga diri seekor kambing.

Komandan Kambing: Baik Sang Raja, hamba juga dikenal sebagai Bandot,  akan kami buat mereka yang mengkonsumsi kami terpengaruh sifat kami, melihat pakaian wanita tersingkap sedikit sudah sakit kepala. Syukur kalau jatuh kesadarannya, biar dia menyesal seumur hidupnya. Bukankah apa yang dimakan mereka akan menjadi otak, jantung dan anggota tubuh mereka. Genetika bandot yang “inherent” dengan kami ini akan membangkitkan kebandotan dalam diri mereka.

Sang Raja Kambing menyela: Benar Komandan, roh ku sendiri lewat aliran darah akan masuk ke otak penguasa-penguasa durhaka, mempengaruhi pikiran dan nafsu mereka, biar mengobarkan peperangan, agar manusia saling membunuh dan merasakan pembalasan kambing-kambing tak berdosa.

Ketua Forum Rektor Perkambingan: Kami telah mempelajari Buku Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi, karya Bapak  Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2001. Manusia tidak hanya menderita penyakit fisik. Penyakitnya beraneka ragam. Pikiran liar adalah penyakit. Emosi yang bergejolak dan tak terkendali adalah penyakit. Keinginan keinginan yang tak kunjung habis, keserakahan, keangkuhan adalah penyakit. Penyakit penyakit itu saling berkaitan. Fisik bisa mempengaruhi pikiran, sebaliknya pikiran bisa mempengaruhi fisik. Kita dapat mengganggu fisik manusia dan sifat hewani kita juga akan dapat membangkitkan instink hewani dalam diri manusia……… Hazrat Inayat Khan berkata bahwa kematian manusia pun, tidak alami, sudah 6.000 ekor ayam masuk dalam perut seseorang, sudah 20 ekor sapi yang dikunyahnya, sudah 30 kg ikan dilewatkan kerongkongannya, sudah 4 kg udang mengalir dalam darahnya. Sudah sewajarnya, virus hewani menyerang manusia. Itu termasuk hukum sebab-akibat. Stress dan kecemasan kita di depan tukang jagal akan menjadi kecemasan mereka. Kehewanian kita akan meningkatkan kehewanian manusia.

Tiba-tiba Seekor Kambing berjenggot putih yang menjadi Penasehat Rohani Sang Raja tertawa penuh makna: Ha ha ha ha, calm-guys, cool please, dengarkan cerita saya. Sudah lama kalian menderita, segala macam kesalahan pun ditimpakan pada saudara kita, Kambing Hitam. Ada dua macam hukum alam, hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Apa pun akibat yang kalian terima disebabkan oleh tindakan kalian sendiri. Terimalah yang terjadi dengan lapang dada, janganlah kalian membuat karma baru. Biarlah Keberadaan mengimplementasikan hukum sebab-akibat kepada mereka. Belajarlah mengampuni manusia. Doakan mereka, agar mereka menjadi sadar, dan bangsa kita, setelah mati akan berevolusi, menitis menjadi mereka. Kita akan lebih leluasa dalam wujud mereka………

Sang Suami: Hiks..hiks….

Sang Isteri: Kenapa suamiku?

Sang Suami: Jangan-jangan, mereka yang suka kekerasan, yang mau menang sendiri, yang merasa kelompoknya paling benar, yang menggunakan segala cara untuk mendiskreditkan insan luhur adalah ……… titisan……. Dalam diri mereka masih dipenuhi kebencian dan kekerasan….. hiks…. hiks…

Situs artikel terkait

http://oneearthmedia/ind/

http://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2010.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someone